POLA MAKAN

Kelas menengah dan bawah di Indonesia kurang protein

Warga mempersiapkan makanan dengan menu utama kuah beulangong (kari daging sapi) untuk berbuka puasa bersama pada tradisi kenduri Ramadan di Desa Lambhuk Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/5/2019).
Warga mempersiapkan makanan dengan menu utama kuah beulangong (kari daging sapi) untuk berbuka puasa bersama pada tradisi kenduri Ramadan di Desa Lambhuk Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/5/2019). | Irwansyah Putra /ANTARA FOTO

Protein adalah kelompok asupan yang berperan penting dalam menjaga kesehatan dan kecukupan nutrisi. Sebab, protein berguna untuk membentuk sel-sel baru dalam tubuh, memengaruhi kerja enzim, hormon, dan kekebalan tubuh.

Bisa dikatakan protein adalah kunci bagi hampir semua proses biologis manusia. Asupan protein yang direkomendasikan dihitung menggunakan rasio 1 sampai 1,5 gram protein untuk setiap 1 kilogram berat badan seseorang.

"Misal orang berat badan 60 kg, maksimal konsumsi 90 gram atau sampai 100 gram protein. Itu maksimal dalam sehari. Baru diterjemahkan ke dalam bentuk makanan, ikan, ayam, dan putih telur," kata ahli gizi, DR. dr Samuel Oetoro, MS, SpGK(K).

Bila asupan protein kurang dalam tubuh, tubuh akan mengambil protein dari bagian tubuh lain yang memiliki protein, misalnya dari tulang. Akibatnya, tulang seseorang jadi lebih cepat keropos. Osteoporosis pun lebih cepat menyambangi pada usia 40-an.

Tim Lokadata Beritagar.id mengolah data konsumsi protein, lemak, dan karbohidrat menurut kelas sosial ekonomi dalam kurun dua tahun, dan melihat rata-rata konsumsi protein masyarakat dari beragam kelas ekonomi berdasarkan wilayah.

Konsumsi dihitung dengan standar PPP (power parity purchase) yang sudah ditentukan Bank Dunia berdasarkan PPP Indonesia.

Berkaca pada rekomendasi dan data, masyarakat Indonesia kelas menengah dan bawah masih belum mencukupi kebutuhan protein harian. Mereka hanya mengonsumsi protein 35,5 gram sampai 61,2 gram/kapita/hari.

"Problemnya adalah ketidaktahuan. Orang belum apa-apa berpikir protein itu mahal," kata Ahli nutrisi, DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum pada Beritagar.id, Senin (17/6). Padahal, faktanya tidak demikian.

Protein hewani seperti daging dan ikan memang membuat orang mesti merogoh kocek lebih dalam. Namun, ada protein nabati yang harganya lebih ramah kantong. "Tempe, tahu, kacang-kacangan, dan oncom bisa jadi opsi protein," imbuh dr. Tan.

Pemenuhan asupan protein, kata dr. Tan sering diabaikan. Ia memberi contoh, saat makan nasi goreng, orang berasumsi suwiran ayam dan telur yang tak seberapa, pun digoreng sudah cukup mewakili protein. Padahal lebih dari 50 persennya adalah karbohidrat.

Sementara, kekurangan protein bisa membuat orang jadi lebih gampang sakit, juga mengurangi ketajaman berpikir, dan menghambat produksi hormon pengatur suasana hati.

Pada tingkat yang lebih parah, kekurangan protein bisa memicu protein energy malnutrition (PEM) atau busung lapar. Dunia medis mengenal dua jenis PEM, Marasmus dan Kwashiorkor.

Tren berbeda terlihat pada kaum kelas ekonomi atas, konsumsi protein naik dari tahun 2017 ke 2018. Dari 88,2 gram/kapita/hari pada 2017, menjadi 88,3 gram/kapita/hari pada 2018, naik 0,1 gram/kapita/hari.

Menurut dr. Samuel, ini adalah tren yang positif. "Protein punya efek regenerasi sel untuk daya tahan tubuh," jelasnya saat dihubungi Minggu (16/6).

Apalagi, konsumsi lemak dan karbohidrat kaum kelas atas mengalami penurunan yang lumayan. Konsumsi lemak turun 1,7 gram/kapita/hari, sedangkan karbohidrat 7,7 gram/kapita/hari.

"Selain lebih memperhatikan kesehatan, kelas menengah ke atas mulai memikirkan bentuk tubuh. Nah, protein penting untuk itu," lanjut Samuel.

Pola kenaikan konsumsi protein untuk kaum kelas ekonomi atas menunjukkan peningkatan atau perbaikan gizi. Namun, mengonsumsi protein berlebihan sangat tidak disarankan.

"Jangan berlebihan mengonsumsi protein. Itu berbahaya di kemudian hari untuk ginjal," tandasnya. Konsumsi protein berlebihan bisa menyebabkan batu ginjal.

Berlebihan mengasup protein juga tak baik karena bisa memicu masalah jantung. Selain itu, bisa mengakibatkan kelebihan berat badan, memicu dehidrasi, dan mengikis kalsium tulang.

Menilik konsumsi protein paling tinggi menurut kelas ekonomi, tiap provinsi di Indonesia angkanya bervariasi.

Pada kelas ekonomi atas provinsi paling tinggi dalam konsumsi protein adalah provinsi Kalimantan Selatan dengan 102,7 gram/kapita/hari.

Di kelas ekonomi menengah, ada provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 67,7 gram/kapita/hari. Sedangkan di kelas ekonomi bawah yang paling tinggi mengonsumsi protein adalah provinsi DI Yogyakarta dengan 40,7 gram/kapita/hari.

NTB masuk dalam 5 besar provinsi dengan konsumsi protein paling tinggi di semua kelas ekonomi.

Di kelas ekonomi atas NTB provinsi dengan urutan ke empat konsumsi protein tinggi, di kelas ekonomi menengah, NTB masuk urutan pertama, sedangkan di kelas ekonomi bawah NTB masuk urutan ke empat.

"Masyarakat harus sadar golongan apapun harus tetap makan protein. Enggak perlu bahan mahal kok, bisa dari tahu dan tempe," saran dr. Samuel.

Ikan juga alternatif yang menjanjikan sebagai produk protein. Namun, menurut dr. Tan cara mengolahnya perlu diperhatikan.

Alih-alih digoreng, lalu jadi malapetaka baru karena kandungan Omega 3 berubah menjadi lemak trans, lebih baik dijadikan pepes, dimasak kuah asam, bisa juga dimasak bersama oncom.

Untuk memenuhi kebutuhan protein harian, kembali ke cara lama adalah hal yang masuk akal. Kata dr. Tan, "Kalau mau kembali ke makanan tradisional, ini bisa memungkinkan kita makan protein lebih banyak."

Zaman dulu, mencari makanan tidak semudah saat ini. Jika dulu orang perlu punya rencana untuk membeli bahan dan memasak, kini yang dibutuhkan hanya selera.

Generasi kini perlu berpikir ulang saat mengutamakan kepraktisan tanpa berpikir panjang soal kandungan apa saja yang mereka konsumsi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR