LION AIR JT610

Keluarga korban Lion Air PK-LQP JT610 menggugat Boeing

Keluarga korban melakukan prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018)
Keluarga korban melakukan prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018) | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Kecelakaan pesawat Lion AIr PK-LQP JT610 pada 29 Oktober 2018 lalu, memasuki babak baru. Sementara investigasi penyebab kecelakaan fatal itu masih berlangsung, produsen pesawat Boeing harus menghadapi gugatan dari keluarga korban.

Salah satu keluarga korban mengajukan gugatan hukum kepada Boeing Company. Gugatan dilayangkan melalui Circuit Court of Cook County, Illinois, Amerika Serikat (AS), di wilayah yang sama dengan kantor pusat Boeing. Gugatan dilakukan kantor hukum Colson Hicks Eidson, yang berbasis di Florida, Amerika Serikat.

Gugatan yang dilayangkan pada 15 November 2018 waktu AS, menyoroti kegagalan Boeing dalam menyampaikan informasi secara akurat mengenai fitur baru pada pesawat Boeing 737 MAX 8, yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Washington Post menulis, isi gugatan itu mencakup "semua jenis kerugian di bawah undang-undang “ (all damages available under the law). Di Amerika Serikat, banyak jenis gugatan atas berbagai jenis kerugian, termasuk dalam hal kematian akibat kelalaian.

"Sebelum tragedi terjadi, apakah Boeing memberikan peringatan yang cukup dan pada waktu yang tepat kepada Lion Air atau para pilot, atas kondisi tak aman yang bisa ditimbulkan oleh fitur 'menukik otomatis' pada pesawat tersebut," demikian penggalan gugatan dalam CNN (17/11/2018).

Boeing memang telah menerbitkan pembaruan buletinnya, pada Selasa (6/11/2018) waktu AS. Buletin berisi panduan yang harus dilakukan kru pesawat manakala sensor angle of attack (AOA) bermasalah. Pembacaan data yang salah, menyebabkan fitur lain mengalami anomali.

Fitur dimaksud adalah Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Fungsinya untuk membantu menurunkan hidung pesawat saat AOA pesawat melebihi kewajaran hingga berpotensi menyebabkan stall--bahkan saat pesawat diterbangkan secara manual oleh pilot.

Fitur baru ini tak ada pada varian Boeing 737 sebelumnya. Dalam Reuters dijelaskan, MCAS dipasang karena mesin untuk tipe 737 MAX yang lebih besar, membuat posisi penempatannya mengubah keseimbangan pesawat.

Sejumlah pilot di Amerika Serikat yang pernah menerbangkan Boeing 737 MAX 8 dan 9 mengaku tak pernah diberitahu atau diberi pelatihan tentang fitur baru tersebut. Mereka pun kini bekerja sama dengan Boeing untuk memahami perbedaan dalam pesawat tipe MAX tersebut.

Zwingli Silalahi, Direktur Operasi Lion Air kepada CNN menyatakan dalam manual pesawat yang mereka terima pun tidak menjelaskan bahwa dalam situasi tertentu, sistem penangkal stall pesawat itu akan terpicu secara otomatis.

"Kami tak memiliki informasi tersebut dalam manual Boeing 737 Max 8. Karena itu kami tak punya program pelatihan khusus bagi pilot untuk mengatasi situasi dimaksud," ujar Zwingli seperti dikutip CNN.

Sementara pihak Boeing menyatakan enggan berkomentar lebih lanjut. "Kami yakin dengan aspek keselamatan 737 MAX. Keselamatan adalah prioritas utama kami dan menjadi nilai penting bagi siapa saja di Boeing," kata juru bicaranya, Chaz Bickers.

Bukan perkara baru bagi Colson Hicks Eidson

Pengacara penggugat yang mewakili ayah korban, mendiang Dokter Rio Nanda Pratama, menyatakan bahwa sesuai perjanjian Internasional, badan penyelidik dari Indonesia dilarang menentukan siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang bersalah.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), menurutnya, hanya diperbolehkan membuat rekomendasi keselamatan untuk industri penerbangan pada masa depan. Hasil penyelidikan KNKT memang tidak bisa digunakan untuk kepentingan hukum.

"Penyelidik dari pemerintah biasanya tidak menentukan siapa yang bersalah dan tidak bisa memberi rasa keadilan bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban. Itulah peran penting tuntutan hukum secara privat dalam tragedi seperti ini," ujar Curtis Miner, dari kantor hukum Colson Hicks Eidson.

Colson Hicks Eidson mengklaim pernah pernah menangani kasus terkait Lion Air. Pada 2004, Lion Air MD-82 JT538 mengalami kecelakaan di Bandara Adisumarmo, Solo, dan menewaskan puluhan penumpang, dan awak pesawat.

Beberapa korban dalam kecelakaan pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Surabaya, yang transit di Solo, itu turut dibantu firma dan berhasil menyelesaikan klaim untuk beberapa keluarga penumpang yang tewas , serta klaim untuk beberapa penumpang yang selamat. Mereka pun menawarkan konsultasi gratis.

Adapun Rio Nanda Pratama merupakan salah satu dari 189 korban tewas jatuhnya Lion Air JT 610 yang sedianya bertolak ke Pangkalpinang dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Jenazah Rio berhasil diidentifikasi dari sidik jarinya, pada hari Selasa, 6 November 2018. Dua hari kemudian, dipulangkan ke Pangkalpinang dan dimakamkan.

Mendiang berencana melangsungkan pernikahan dengan Intan Indah Syari, pada 11 November 2018. Sebelum berangkat, seperti dikabarkan BBC Indonesia, rupanya dia berpesan kepada calon istrinya agar tetap mengenakan gaun pengantin bila tak bisa datang. Tepat pada tanggal tersebut, Intan tetap dirias sebagai pengantin putri.

Ayah korban, H Irianto, menyatakan, “Seluruh keluarga korban kecelakaan ingin kebenaran di balik kasus ini, apa penyebab sesungguhnya. Kesalahan yang sama harus dihindari pada masa depan dan mereka yang bertanggung jawab harus diadili."

"Saya ingin keadilan untuk anak saya, dan semua yang kehilangan nyawa dalam insiden itu," lanjutnya dalam keterangan resmi kantor hukum Colson Hicks Eidson (15/11).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR