CUACA EKSTREM

Kemarau datang, gagal panen bisa mengadang

Seorang petani memeriksa mesin penyedot air di tepi telaga Merdada kawasan dataran tinggi Dieng Desa Karang Tengah, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (25/6/2019). Memasuki musim kemarau petani kentang menyedot air telaga Merdada untuk menyiram ladangnya.
Seorang petani memeriksa mesin penyedot air di tepi telaga Merdada kawasan dataran tinggi Dieng Desa Karang Tengah, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (25/6/2019). Memasuki musim kemarau petani kentang menyedot air telaga Merdada untuk menyiram ladangnya. | Anis Efizudi /Antara Foto

Musim kemarau hadir di sejumlah wilayah Indonesia walau masih ada sebagian daerah lain yang kebanjiran. Kemarau bukan cuma membuat masyarakat krisis air, tapi juga memengaruhi panen dari lahan pertanian.

Sejumlah petani di Indonesia bahkan mulai khawatir mereka bakal gagal panen. Di Cimahi, Jawa Barat, lahan pertanian mulai kering karena irigasi dari Sungai Cijanggel, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, tak lagi mengalirkan air.

"Sawah retak-retak karena airnya sudah nggak ada sama sekali," kata seorang petani bernama Onda Gunawan (52) kepada Republika, Senin (24/6/2019).

Karena lahan pertanian mulai kering akibat kemarau yang sudah berlangsung lebih dari sepekan, Onda dan kolega sesama petani melakukan panen dini dari seharusnya dua pekan lagi. Di kawasan tempat tinggalnya 10 hektare lahan pertanian harus panen dini, sementara di daerah tetangganya mencapai 15 hektare.

Di Tulungagung, Jawa Timur, kegagalan panen padi juga membayangi. Dilansir Tribunnews, Minggu (23/6), puluhan hektare sawah kekurangan air --terbanyak di Kecamatan Besuki dan Bandung.

Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung mencatat ada 71 hektare sawah di Kecamatan Besuki dan enam hektare lahan di Kecamatan Bandung yang kering. Seluruhnya disebabkan oleh kekurangan pasokan air.

Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Dinas Pertanian Tulungagung, Gatot Rahayu, mengungkapkan 67 hektare sawah di wilayahnya mengalami kekeringan dengan kategori ringan. Sementara yang mengalami kekeringan dan gagal panen atau puso masing-masing lima hektare.

Sedangkan di Gunung Kidul, Yogyakarta, musim kemarau yang datang lebih awal membuat 400 hektare tanaman padi gagal panen. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan kepada detikcom, Kamis (20/6), seluruhnya disebabkan oleh krisis air.

"...kan mestinya April masih ada hujan, tapi ini pertengahan April tidak ada hujan sampai sekarang," kata Bambang.

Tanaman padi paling terpengaruh oleh kuantitas air. Kemarau membuat lahan pertanian padi merana.

Tahun lalu menurut riset Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) ada 14 kabupaten sumber padi nasional yang mengalami penurunan produksi hingga 39.3 persen akibat kemarau panjang. Dan AB2TI mencatat penurunan produksi pada musim kemarau itu sudah terjadi dalam delapan tahun terakhir.

Namun menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), pertumbuhan produksi padi di Indonesia naik 2,33 persen dari 2017 ke 2018 (berkas PDF). Tetapi di Yogyakarta dan Jawa Timur, memang ada penurunan sebesar 0,34 persen dan 0,46 persen.

Bahkan Kementan mengklaim produksi padi nasional justru melimpah saat musim kemarau. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto (10/10/2018), mengatakan bahwa serangan hama cukup rendah pada musim kemarau dan fotosintesis maksimal.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun menyatakan tak khawatir dengan penurunan curah hujan dan kehadiran musim kemarau panjang pada tahun ini. Apalagi, menurutnya dalam Katadata, Kementan sudah menyiapkan infrastruktur bagi para petani.

Kesiapan itu antara lain irigasi, pompa, dan sebagainya yang sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. "Produksi aman pokoknya," kata Amran, Senin (24/6).

Amran juga meminta para petani menjadi peserta Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang menjadi solusi alternatif ketika mengalami gagal panen atau puso yang dijalankan sejak 2015. Dijelaskan dalam laman Kementan, AUTP memungut premi sebesar tiga persen dari biaya produksi per musim tanam per hektare.

Premi juga sudah disubsidi oleh pemerintah melalui alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Besarannya 80 persen.

Jadi bila biaya produksi padi per musim tanam per hektare adalah Rp6 juta, berarti petani hanya perlu membayar Rp180 ribu dari tiga persen dan Rp36 ribu dari subsidi 80 persen per hektare per musim tanam.

Untuk mendaftarkan diri, seorang petani harus bergabung dulu dengan kelompok tani. Kelompok ini harus terbentuk dengan surat keputusan dari Kementan. Kelompok tani ini kemudian akan dinilai dan dievaluasi berdasarkan Surat Keputusan Mentan Nomor 41/Kpts/OT.210/1992.

Meski demikian, kalangan terkait tetap berharap musim kemarau tahun ini tak akan bertahan hingga Oktober setelah puncaknya pada Agustus. Jika hujan tak turun pada Oktober, bukan tidak mungkin makin banyak lahan pertanian yang gagal panen.

Dan untuk mengantisipasi kemarau ini, Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengimbau para petani untuk beralih menanam sayuran dan palawija. Imbauan terutama diarahkan kepada para petani di wilayah Gunungkidul, sebagian Bantul, Sleman, dan Kulonprogo yang pasokan airnya relatif sedikit.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR