Kematian kombatan cilik ISIS dari Indonesia dan asal ponpesnya

Foto ilustrasi. Foto keluaran media Hizbullah menunjukkan serangan militer terhadap kelompok ISIS dan militan Al Nusrah di pegunungan Jurud Arsal di perbatasan Suriah dan Lebanon, 25 Juli 2017.
Foto ilustrasi. Foto keluaran media Hizbullah menunjukkan serangan militer terhadap kelompok ISIS dan militan Al Nusrah di pegunungan Jurud Arsal di perbatasan Suriah dan Lebanon, 25 Juli 2017.
© Biro Media Hizbullah /EPA

Seorang bocah asal Indonesia yang turut bertempur untuk kekhalifahan Islamic State (ISIS) diberitakan tewas. Kantor berita Reuters, Minggu (10/9/2017), menyebut bocah 13 tahun itu bernama Hatf Saiful Rasul.

Namun kematian Hatf bukan baru terjadi, tetapi setahun lalu. Informasi pada kanal Telegram milik ISIS menyebutkan Hatf tewas akibat serangan udara pasukan Suriah di kota Jarabulus, Suriah, 1 September 2016 --dua bulan setelah genap berumur 13 tahun.

Tak lama kemudian, tiga martir lain asal Indonesia juga tewas di kota yang sama. Namun tiada informasi data diri ketiga orang itu.

Sementara kematian Hatf dibenarkan tiga orang pejabat anti-terorisme di Indonesia yang tidak disebutkan namanya. Ayah Hatf, Syaiful Anam, juga mengonfirmasi kabar itu melalui esai berjumlah 12 ribu kata yang ditulisnya dari dalam penjara.

Syaiful menyebut sang putra sebagai "mujahidin kecil yang tubuhnya hancur oleh bom." Namun Syaiful mengaku tak merasa sedih atau kehilangan, kecuali sebagai ayah yang ditinggal pergi anak tercinta.

"Saya justru gembira sebab anak saya menjadi martir, Insyaallah," tulisnya.

Syaiful menceritakan bahwa pada awal Hatf menyatakan ingin berangkat ke Suriah untuk menjadi pejuang ISIS, dirinya tak merespon karena dianggap sebagai candaan anak-anak. Namun Hatf tak pernah berhenti menyatakan keinginannya.

Apalagi, lanjut Syaiful, Hatf menyatakan pondok pesantren (ponpes) Ibnu Mas'ud yang diikutinya juga mengirim martir ke Suriah. Menurut klaim Hatf, para guru dan sebagian teman-temannya juga sudah berangkat ke Suriah.

Syaiful kemudian setuju melepas kepergian putranya dengan sekelompok sepemahaman pada 2015. Selain Hatf, sedikitnya 11 orang lain asal ponpes Ibnu Mas'ud ke Suriah pada kurun 2013-2016.

Delapan orang di antaranya adalah guru. Sementara sisanya adalah murid.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan bahwa Ibnu Mas'ud adalah pesantren yang belum terdaftar. Amin menegaskan pemerintah daerah Bogor, lokasi ponpes tersebut, telah meminta kejelasan status ini.

Juru bicara Ibnu Mas'ud, Jumadi, membenarkan bahwa ponpesnya yang terletak di kaki gunung Salak, Bogor, belum terdaftar di Kementerian Agama. Namun Jumadi membantah bahwa ponpesnya berhubungan dengan ISIS atau mengajarkan kekhalifahan.

"Kami tidak punya kurikulum. Kami fokus pada penghafalan Al-Quran dan Hadist, Aqidah dan Sejarah Islam," ujar Jumadi dikutip Deutsch Welle Indonesia.

Reuters mendapati sebuah video di Youtube yang menampilkan pernyataan Masyahadi, kepala ponpes Ibnu Mas'ud. Namun video itu kini tak lagi ada di Youtube.

Dalam video itu, Masyahadi menjelaskan bahwa ponpesnya beraliran Salafi yang berlandaskan ajaran ultra konservatif Islam Sunni. Ajaran ini mendesak para santri untuk meneladani kehidupan Nabi Muhammad dan menegakkan hukum syariah.

"Ibnu Mas'ud memastikan para santrinya memahami agama dengan benar sehingga mereka menjadi generasi religius dan bersedia berjuang demi agama," kata Masyahadi.

Apakah itu artinya termasuk dengan mengangkat senjata? Jumadi enggan menjawab lantaran pertanyaan itu dianggap membutuhkan diskusi lebih lanjut.

Membakar merah putih

Ponpes Ibnu Mas'ud sejak lama disebut pendukung ISIS dan sistem kekhalifahan. Salah seorang alumninya adalah Aman Abdurrahman yang kini mendekam di penjara akibat sejumlah kasus serangan terorisme di Indonesia.

Aman adalah pendiri Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang sekutu ISIS dan telah melahirkan sejumlah pejuang senior ISIS di Asia Tenggara. Beberapa kasus yang melibatkan anggota AJD, nama baru Jamaah Ansorut Tauhid (JAT), adalah mengibarkan bendera ISIS di Kebayoran Lama (Jakarta Selatan) dan berencana meledakkan markas polisi di Bima (Nusa Tenggara Barat).

Pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 pada Agustus lalu, sebuah umbul-umbul merah putih milik warga di sekitar ponpes Ibnu Mas'ud dibakar. Polisi kemudian menangkap MS (25), seorang pengajar ponpes Ibnu Mas'ud.

Sebelum pembakaran, warga setempat sempat bersitegang dengan para pengurus ponpes karena tak memasang bendera merah putih yang menjadi tradisi menyambut HUT kemerdekaan RI.

Reputasi Ibnu Mas'ud pun lekat sebagai wadah teroris. Namanya muncul pertama kali ketika Dulmatin, tersangka serangan bom Bali 2002, sempat bersembunyi di pesantren tersebut ketika masih buron

Sofyan Tsauri, bekas polisi yang kemudian menjadi jihadis, mengakui Ibnu Mas'ud didirikan "untuk anak-anak Ikhwan (jihadis)" dan rumah persembunyian bagi buronan teroris. Ponpes Ibnu Mas'ud disebut memiliki 200 orang santri.

Desa Sukajaya yang menjadi lokasi ponpes tersebut sebenarnya resah. Setiap ada kasus terorisme, polisi pasti datang menghampiri. "Saya tidak nyaman dengan situasinya," kata Kepala Desa Wahyudin Sumardi.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Irfan Idris, mengaku sejak lama khawatir terhadap keberadaan ponpes Ibnu Mas'ud. Namun BNPT tak punya wewenang untuk menutupnya, kecuali menyerahkan segalanya kepada Kementerian Agama.

Sedangkan Kamarudin mengatakan Kementerian Agama tidak bisa menutupnya karena tidak tercatat secara resmi alias tidak terdaftar.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.