INDUSTRIALISASI

Kembang kempis laju industri nasional

Pekerja menyelesaikan pembuatan sayap pesawat di Hanggar N219 PT DI, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/12/2018). Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan manufaktur di atas 5 persen pada tahun depan, melanjutkan kinerja pada kuartal III/2018 yang berada di level 5,01 persen.
Pekerja menyelesaikan pembuatan sayap pesawat di Hanggar N219 PT DI, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/12/2018). Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan manufaktur di atas 5 persen pada tahun depan, melanjutkan kinerja pada kuartal III/2018 yang berada di level 5,01 persen. | M Agung Rajasa /Antara Foto

Sektor industri manufaktur merupakan motor utama pendorong ekonomi Indonesia. Namun, sektor ini terus mendapat sorotan dari pemerintah karena indikasi adanya fenomena deindustrialisasi prematur.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendefinisikan deindustrialisasi sebagai proses kebalikan dari industrialisasi; yaitu penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, dalam CNBC Indonesia (5/2/2018), mengatakan saat ini Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi prematur. Ini terjadi lantaran porsi manufaktur di dalam PDB kian mengempis sebelum benar-benar mencapai puncaknya.

Bappenas menyebutkan, Indonesia memang sudah masuk fase deindustrialisasi. Sektor industri sudah tidak mampu tumbuh di atas pertumbuhan PDB dan sumbangannya ke PDB terus menurun.

Padahal menurut Bappenas, Indonesia belum semestinya mengalami deindustrialisasi karena sedang dalam fase mengembangkan sektor tersebut -- terutama industri pengolahan sumber daya alam.

Sebelum krisis 1998, Indonesia sempat menjadi negara tujuan investasi manufaktur berbasis sumber daya manusia (labor intensive) karena upah buruh yang cenderung lebih murah. Namun, krisis ekonomi ternyata menyerang sektor manufaktur lantaran banyak yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS.

Lokadata Beritagar.id mencoba mengolah data yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Per kuartal III tahun 2018, BPS mencatat porsi industri manufaktur terhadap PDB mencapai 19,66 persen.

Data menunjukkan tingkat pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur sepanjang 2008 hingga 2017 tidak pernah mencapai dua digit dan cenderung stagnan. Pertumbuhan industri manufaktur pernah mencapai puncaknya pada 2011, yakni 6,26 persen.

Namun, sejak saat itu, tingkat pertumbuhan industri manufaktur terus menurun hingga mencapai 4,27 persen pada 2017. Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,07 persen tahun lalu.

Pertumbuhan Industri pengolahan dan Penyerapan Tenaga Kerja.
Pertumbuhan Industri pengolahan dan Penyerapan Tenaga Kerja. | Lokadata /Beritagar.id

Dari sisi tenaga kerja, laju pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur sebetulnya mengalami pertumbuhan meski tidak stabil. Pada 2008, pertumbuhan tenaga kerja sektor industri mencapai 2,31 persen dan tidak berubah hingga 2009. Namun, dalam kurun waktu tiga tahun setelahnya, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut meningkat rata-rata menjadi 7 persen.

Laju penyerapan tenaga kerja di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai melambat ketika memasuki masa akhir kepemimpinan. Tahun 2013 pertumbuhan penyerapan tenaga kerja anjlok hingga 3,66 persen. Laporan detikcom dan Kompas.com menyebutkan pada waktu itu terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan buruh di sejumlah pabrik garmen dan tekstil.

Salah satu penyebab PHK massal tersebut antara lain karena adanya penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP) sehingga perusahaan kesulitan menanggung beban operasional.

Sementara di era pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, penyerapan tenaga kerja sektor industri pada tiga tahun awal rezimnya cenderung stagnan. Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur pada era Jokowi tidak menggembirakan.

"Pada era kepemimpinan Jokowi-JK dibanding SBY-Boediono, penyerapan tenaga kerja manufaktur kita tidak menyenangkan. Pertumbuhan manufaktur kita mengalami deindustrialisasi kok, tidak meningkat. Pertanian justru penyerapan tenaga kerjanya minus, manufaktur enggak begitu bagus," jelasnya kepada Beritagar.id, Kamis (6/12/2018).

Sedangkan jika dilihat dari jumlah dan kontribusi total penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor industri manufaktur, hanya menyumbang 12 persen dari total 102,5 juta penduduk Indonesia pada 2008. Namun pada 2017, kontribusinya naik menjadi 14,5 persen dari total penduduk.

Investasi di sektor industri.
Investasi di sektor industri. | Lokadata /Beritagar.id

Dalam kurun waktu 2008 hingga 2017, tingkat penanaman modal dalam industri manufaktur berfluktuatif. Dari data yang dihimpun melalui BPS, laju pertumbuhan investasi dalam negeri di sektor ini terus menunjukkan kenaikan dengan puncaknya pada 2016 hingga nilai investasi Rp106,78 triliun.

Peningkatan ini ditopang oleh sejumlah insentif kucuran pemerintah dengan melakukan optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku.

Di sisi lain, tingkat penanaman modal asing cenderung menurun pada kurun 2009-2010 dan 2013-2014. Penanaman modal asing pada 2008 mencapai $4,5 juta AS, lalu turun sebesar -0,15 persen pada tahun 2009 dan menurun turun lagi -0,13 persen pada 2010.

Bhima menilai penurunan ini disebabkan antisipasi investor asing dalam menghadapi tahun politik. Pasalnya dalam kurun waktu tersebut, Indonesia tengah menghadapi masa pergantian pemimpin.

"Investor asing memang lebih sensitif terhadap sentimen politik," ujar Bhima.

Industri masih menjadi sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia. Ini tercermin dari kontribusi sektor industri (pengolahan) yang masih mendominasi PDB nasional selama delapan tahun terakhir.

Peningkatan PDB berdasarkan sektor lapangan usaha pada 2010 dan 2017, kontribusi paling besar masih datang dari sektor industri pengolahan sebesar 22 persen dari 17 sektor usaha yang membentuk komponen PDB.

Namun di samping itu ada beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan secara besar selama delapan tahun terakhir. Masing-masing sektor Informasi dan Komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 96,9 persen, tetapi kontribusinya kepada PDB hanya 5,29 persen.

Sementara sektor lain adalah jasa. Jika ditotal, sektor jasa (pendidikan, kesehatan, keuangan, asuransi dan perusahaan lainnya) hanya bekontribusi sebesar 12 persen kepada PDB.

Selain itu sektor yang besar dalam kontribusinya terhadap PDB adalah perdagangan besar dan eceran yang menyumbang 13,7 persen. Kemudian sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 13 persen dan sektor konstruksi 10 persen. Untuk sektor pertambangan dan penggalian hanya menyumbang 8 persen dengan pertumbuhan 8 persen pula dari 2010-2017.

Perbandingan nilai sektoral terhadap PDB.
Perbandingan nilai sektoral terhadap PDB. | Lokadata /Beritagar.id
BACA JUGA