Kemenangan Anies-Sandi dan keresahan yang menyertainya

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama (kiri) berbincang dengan calon Gubernur DKI Jakarta nomor ururt tiga Anies Baswedan (kedua kiri) dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) memberi salam kepada calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (ketiga kiri) seusai adu program dan visi misi pada Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4).
Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama (kiri) berbincang dengan calon Gubernur DKI Jakarta nomor ururt tiga Anies Baswedan (kedua kiri) dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) memberi salam kepada calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (ketiga kiri) seusai adu program dan visi misi pada Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4).
© M Agung Rajasa /ANTARA FOTO

Jakarta punya gubernur baru. Setidaknya ini prediksi dari sejumlah lembaga survei yang melakukan hitung cepat Pilkada putaran kedua yang dilaksanakan Rabu (19/4/2017). Dalam hitung cepat lembaga Indobarometer misalnya, itu pasangan Ahok-Djarot memperoleh 41,50 persen dan Anies-Sandi meraup 58,50 persen. Pun hitung cepat yang dilakukan lembaga survei lainnya. Rata-rata selisih perolehannya berada pada kisaran 16 hingga 17 persen.

Ini selisih yang sangat mengejutkan. Sebelumnya, banyak yang memperkirakan pada putaran kedua ini, selisih perolehan suara keduanya berada pada kisaran 1 hingga 2 persenan.

Anies dan pendukungnya menyambut suka cita kemenangan versi hitung cepat itu. Saat menyampaikan pidato kemenangannya, Anies mengatakan akan berkomitmen menjaga kebhinekaan dan persatuan di Jakarta.

Selama Pilkada, masyarakat DKI Jakarta memang terbelah karena dihembuskannya isu penistaan agama yang melibatkan gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Isu ini makin berkobar saat massa yang mengatasnamakan 'pembela Alquran' menggelar aksi massa dua kali.

Aksi ini menuntut dan mengawal proses hukum terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Tak hanya itu, sejumlah massa yang diduga menjadi pendukung pasangan nomor urut 3 (Anies-Sandi) pada masa putaran kedua memasang spanduk yang berisi ancaman tidak akan mensalati jenazah muslim yang memilih pasangan Ahok-Djarot.

Dukungan kaum radikal terhadap pasangan Anies-Sandi ini cukup membuat banyak orang pesimis Jakarta bakal bisa damai. Masalah ini sempat menjadi pemberitaan di sejumlah media asing.

New York Times, misalnya. Media ini menggambarkan bagaimana Ahok sebelum terjadinya kasus dugaan penistaan agama bakal memenangi Pilkada DKI. Namun, kasus dugaan penistaan agama itu akhirnya harus membuat Ahok tertatih-tatih, bahkan tumbang dalam pemilihan putaran kedua.

Menurut Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos senjata agama yang dimainkan oleh kelompok radikal membuat Ahok harus menelan pil pahit kekalahan. "Ini menunjukkan Islam radikal makin mengakar di masyarakat," katanya.

Kekalahan Ahok, kata Bonar, akan semakin membuat kelompok-kelompok radikal makin berani menekan pemerintah Jakarta dan nasional dalam mewujudkan agenda-agenda mereka seperti pelembagaan hukum Islam dan pelarangan minuman beralkohol.

Begitu pula CNN. Media ini menulis, kekalahan Ahok bisa mengesankan sebagai kemenangan Islam konservatif. Mengutip Tobias Basuki dari CSIS, media ini menulis, kekalahan Ahok akan mendorong penggunaan agama dalam pemilihan Indonesia sebagai alat politik.

Seperti dilansir BBC Indonesia, kemenangan Anies tampaknya memang disebabkan sebagian besar pemilih di Pilkada Jakarta -yang jumlahnya sekitar tujuh juta orang- lebih mementingkan kesatuan iman, sesama Muslim, dibandingkan keampuhan program.

"Bagi orang yang memilih Ahok-Djarot itu, tiga faktor teratas yang menjadi syarat memilih adalah kinerjanya bagus, programnya bagus, karakteristiknya bersih, tidak dikorupsi, tegas dan bisa memimpin," kata Prof. Dr. Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia.

Namun bagi pemilih Anies-Sandi, kata Hamdi, faktor pertamanya karena seiman. "Anies dianggap memperjuangkan Islam, agama, dan baru faktor ketiga, Anies itu dianggap humanis," ujarnya.

Pilkada DKI memang telah membuat warga Ibu Kota tercabik-cabik. Ahok dan Anies menyadari suasana ini. Seperti ketika Ahok mengucapkan selamat kepada pasangan Anies-Sandi sesaat setelah sejumlah lembaga mengunggulkan pasangan pasangan calon nomor urut tiga.

Saat menggelar jumpa pers, Ahok mengajak pendukungnya untuk melupakan semua ketegangan dan luka saat kampanye. "Ke depan, kami ingin, semua lupakan semua (saling serang) kampanye selama Pilkada. Jakarta adalah rumah kita bersama," kata Ahok.

Demikian juga Anies. Bagi dia, kemenangan bukan ujung dari sebuah ikhtiar. Tapi, "bagaimana mengembalikan keadilan bagi rakyat Jakarta."

Anies berjanji akan berusaha meredam kecemasan sejumlah pihak atas dukungan kaum radikal yang dinilai antikeberagaman. "Kita berkomitmen bukan hanya menjaga kebhinekaan tapi menjaga persatuan di Jakarta. Kita ingin rayakan kemerdekaan dan merayakan persatuan pada saat yang bersamaan," kata Anies.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.