INTERNASIONAL

Kemenangan lumrah Sisi di tampuk kekuasaan Mesir

Para pendukung merayakan kemenangan telak Presiden Abdel Fattah al-Sisi pada Pilpres Mesir, 2 April 2018.
Para pendukung merayakan kemenangan telak Presiden Abdel Fattah al-Sisi pada Pilpres Mesir, 2 April 2018. | Khaled Elfiqi /Epa

Tak ada kejutan dalam Pemilihan Presiden di Mesir. Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menang Pemilihan Presiden dengan suara telak 97,08 persen dari suara sah. Anak pengusaha mebel ini kembali berada di tampuk kekuasaan di Mesir selama dua periode.

Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan hasil Pilpres ini pada Senin (2/4/2018). Pilpres Mesir yang berlangsung pada 26-28 Maret 2016 lalu hanya diikuti sekitar 41 persen dari total jumlah pemilih terdaftar 60 juta jiwa. Artinya, hanya sekitar 26 juta orang yang menggunakan hak pilihnya.

Dari sekitar 26 juta itu, 2 juta suara dinyatakan rusak, sehingga hanya sekitar 24 juta suara yang diperebutkan oleh dua kandidat, yakni Sisi dan rivalnya, Moussa Mostafa Moussa, pimpinan Partai El Ghad.

Kemunculan Moussa pun mengundang kecurigaan. Moussa merupakan mantan tim kampanye Sisi. Ia mencalonkan diri 15 menit sebelum tenggat pendaftaran calon presiden pada 29 Januari 2018 lalu.

Moussa hanya meraih 2,92 persen atau 656.534 pemilih. Bagi Moussa, jumlah itu sangat melimpah karena saingannya adalah Sisi. "Sebuah pencapaian yang besar," kata Moussa dilansir Reuters.

Munculnya Moussa terjadi di tengah sorotan dan seruan boikot pemilu yang dianggap hanya menjadi pestanya Sisi. Sebelumnya, enam tokoh yang dianggap berpotensi menjadi pesaing Sisi telah mengundurkan diri dengan beragam alasan, termasuk dipenjarakan seperti pensiunan Letnan Jenderal Sami Anan dan Kolonel Ahmed Konsowa.

Untuk mencegah tingginya golput, komisi pemilihan umum bahkan mengancam warga yang memboikot pemilu atau golput dengan denda hingga 500 poundsterling Mesir atau sekitar Rp390.000.

Sisi lahir di Kairo pada 19 November 1954 dari ayah pengusaha mebel dan barang antik di wilayah Ganaleya. Sisi dicatat lulus dari Akademi Militer Mesir pada 1977.

Sisi pernah menjabat sebagai kepala Informasi dan Keamanan di Kementerian Pertahanan, Atase Militer di Arab Saudi, kepala staf dan kemudian menjadi komandan Zona Militer Utara Mesir pada 2008.

Pada 2011, dia diangkat menjadi kepala Intelijen Militer dan menjadi salah satu anggota termuda di Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Sisi kemudian diangkat sebagai menteri Pertahanan oleh Presiden Mohamed Morsi pada Agustus 2012. Tak lama setelahnya, Sisi menggulingkan Morsi pada Juli 2013 sebagai bagian dari protes massal terkait kekuasaan Morsi selama setahun.

Mesir menggelar pemilihan presiden pada 2014 dengan dua kandidat, yaitu Sisi dan Hamdeen Sabahi. Sisi meraih 96,91 persen suara sehingga resmi menduduki kursi presiden.

Pada pemilihan kedua ini, Sisi kembali memenangkannya dengan telak. Kontroversi pun terus mewarnai kemenangan itu. Di ranah maya, tagar "pembohong" menjadi topik populer di Mesir setelah pengumuman kemenangan telak Sisi.

Meski banyak kritik dan catatan, hasil pemilu tetap mencatat Sisi sebagai pemenang dan menjadi presiden empat tahun ke depan. Sisi pun menyampaikan terima kasih kepada pendukungnya dan masyarakat Mesir yang dianggapnya sangat antusias pada Pemilu ini. "Sangat mengesankan dan menginspirasi," kata Sisi pada pidato kemenangannya.

Sisi pun menerima ucapan dari berbagai negara. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ucapan selamat kepada Sisi. Dia memuji kerja sama strategis yang telah dijalankan kedua negara. Gedung Putih tidak menyebutkan keraguan tentang kejujuran dalam pemilihan.

Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan selamat kepada Abdel Fattah al-Sisi setelah terpilih kembali sebagai Presiden Mesir. Dalam pesannya, Xi Jinping menyatakan, persahabatan Tiongkok-Mesir telah berlangsung lama dan kedua pihak terus memelihara kerja sama itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR