IMPOR GULA

Kemendag rilis izin impor 1,4 juta ton gula mentah

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) berdialog dengan pedagang saat mengunjungi pasar tradisional Kertek di Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (28/12/2018). Kunjungan menteri perdagangan tersebut dalam rangka meninjau harga dan ketersediaan kebutuhan bahan pokok di pasar.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) berdialog dengan pedagang saat mengunjungi pasar tradisional Kertek di Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (28/12/2018). Kunjungan menteri perdagangan tersebut dalam rangka meninjau harga dan ketersediaan kebutuhan bahan pokok di pasar. | Anis Efizudin /Antara Foto

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan izin impor 1,4 juta ton gula mentah untuk keperluan industri rafinasi periode semester I 2019 pada 4 Februari lalu. Volume izin impor itu mencakup separuh dari total kuota 2,8 juta ton impor gula mentah yang dialokasikan tahun ini.

“(Izin) sudah kami terbitkan,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag dikutip dari Katadata, Sabtu (9/2/2019).

Kemendag mencatat ada 11 perusahaan yang terdaftar memiliki izin untuk melakukan impor. Namun, dalam laman inatrade Kemendag, tercatat baru terdapat sembilan perusahaan yang memberi laporan impor.

Mereka adalah Medan Sugar Industry, Angels Products, Sentra Usahatama Jaya, Andalan Furnindo, Sugar Labinta, Jawamanis Rafinasi, Makassar Tene, Duta Sugar International, serta Dharmapala Usaha Sukses. Sementara perusahaan lain yang belum memberikan laporan adalah Permata Dunia Sukses Utama dan Berkah Manis Makmur.

Tahun ini, pemerintah memberikan kuota impor gula mentah mencapai 2,8 juta ton. Gula mentah ini selanjutnya akan diolah menjadi gula rafinasi bagi kebutuhan industri makanan dan minuman serta industri lainnya (bukan konsumsi rumah tangga).

Kuota impor yang diberikan tahun ini lebih rendah jika dibandingkan dengan target kuota tahun lalu yang mencapai 3,6 juta ton. Tapi kemudian target itu dikurangi menjadi 3,15 juta ton karena realisasi pada semester I tak mencapai target.

Perlu dicatat, sepanjang tahun lalu Indonesia juga mengimpor gula mentah untuk diolah menjadi gula kristal putih (GKP) bagi keperluan konsumsi. Alhasil, tingginya permintaan impor tersebut membuat Indonesia menjadi negara importir gula tertinggi di dunia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang Januari-November tahun lalu, impor gula mentah RI mencapai 5,03 juta ton, naik 12,15 persen dibandingkan 2017 (year on year / yoy).

Dari jumlah tersebut, 80,78 persen kebutuhan gula mentah Indonesia dipasok dari Thailand. Sisanya; 17,52 persen dari Australia dan 1,37 persen dari Brasil.

Tak pelak, ekonom Faisal Basri berteriak di ruang publik. Faisal merasa heran dengan kenaikan impor yang signifikan pada periode tersebut.

Padahal, saat itu tidak ada kenaikan konsumsi gula yang tinggi, walaupun di sisi lain ada penurunan produksi di dalam negeri. Karena impornya tinggi, stok gula nasional pun menumpuk.

Sehingga dapat dipahami mengapa kemudian Faisal mencurigai lonjakan impor tersebut terkait dengan praktik rente para mafia yang menguasai pasar. Namun pemerintah berdalih, lonjakan impor tersebut terjadi karena tingginya permintaan seiring dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman (mamin) serta industri farmasi tumbuh 5-6 persen tahun ini. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang stabil di atas 7 persen per tahun.

"Pada Januari-September 2018 industri mamin tumbuh 9,74 persen, sementara industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun lalu. Kami perkirakan tahun ini kedua sektor itu akan tumbuh 7-8 persen," ujar Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono, seperti dikutip siaran pers, Sabtu (9/2).

Industri mamin diproyeksi tumbuh positif tahun ini berkat momentum pemilu serentak pada bulan April yang diprediksi akan memberikan lonjakan konsumsi produk makanan dan minuman. Tahun lalu, realisasi penyaluran GKR untuk industri mamin dan farmasi mencapai 3 juta ton.

Sementara itu, Kemenperin memperkirakan industri farmasi mampu tumbuh 7-10 persen pada tahun ini. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Program JKN diprediksi masih menjadi magnet bagi investor farmasi untuk berekspansi, karena dapat meningkatkan permintaan di pasar domestik. Demi menjaga keberlanjutan produktivitas, Sigit menegaskan Kemenperin berupaya memastikan ketersediaan bahan baku industri farmasi, salah satunya kebutuhan GKR.

"Rekomendasi impor yang dikeluarkan Kemenperin berupa impor gula mentah diberikan kepada industri yang mengolah gula mentah menjadi GKR untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman serta farmasi," ujar Sigit.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR