PENDIDIKAN NASIONAL

Kemendikbud tegaskan larangan tes calistung untuk masuk SD

Foto ilustrasi. Sorang siswa sekolah dasar belajar di Sekolah Dasar Yayasan Pembinaan Pendidikan Islam (YPPI) di perkampungan terapung Melahing, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan, Kalimantan Timur, Senin (29/10/2018).
Foto ilustrasi. Sorang siswa sekolah dasar belajar di Sekolah Dasar Yayasan Pembinaan Pendidikan Islam (YPPI) di perkampungan terapung Melahing, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan, Kalimantan Timur, Senin (29/10/2018). | Jessica Helena Wuysang /beritagar.id

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Didik Suhardi, menegaskan kembali bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tak boleh mengedepankan baca, tulis, dan berhitung (calistung).

Dengan begitu, sekolah dasar (SD) juga tak perlu menerapkan tes calistung untuk saringan masuk kelas 1. Kemendikbud perlu mengingatkan hal ini karena banyak isu bahwa calon didik harus mengiikuti tes calistung untuk masuk SD.

Isu itu membuat sejumlah orang tua memilih PAUD yang mengajarkan calistung. Selain untuk membekali anak dengan kemampuan tersebut, orang tua juga menilai belajar calistung sejak dini akan memudahkan anak-anaknya saat di tingkat SD.

"Masuk SD tidak boleh ada tes calistung, karena pendidikan di lembaga PAUD bukan untuk mengajarkan calistung," kata Didik dalam dialog dengan Bunda PAUD se-Sulawesi Selatan di Makassar pada akhir pekan lalu seperti dikutip Tirto, Senin (18/2/2019).

Khusus berhitung, yang dimaksud bukanlah ala matematika. Berhitung dalam konteks ini adalah kemampuan anak mengurutkan angka dari 1-10, misalnya.

Kemendikbud dalam waktu dekat akan membuat surat edaran ke berbagai sekolah dasar untuk menghentikan kebijakan tes calistung bagi calon peserta didik kelas 1. Syarat untuk menjaring calon siswa kelas 1 hanya usia.

Menurut Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), syaratnya memang cuma usia calon peserta didik. Yaitu berusia tujuh tahun atau paling rendah enam tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

Di sisi lain, Didik menambahkan, pendidikan yang harus diterapkan pada PAUD (anak usia 5-6 tahun) adalah pendidikan karakter --bukan calistung. Hal ini diatur dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) PAUD Kurikulum 2013.

  • Nilai agama dan moral.
  • Fisik motorik: Berat dan tinggi sesuai usia, menggambar sesuai contoh, menggunting sesuai pola, melakukan gerakan tubuh terkoordinasi, dan sebagainya.
  • Kognitif: Eksploratif, kreatif, logis, mengenal pola ABCD, dapat menyebutkan lambang bilangan, dan sebagainya.
  • Bahasa: mengulang kalimat yang lebih kompleks, menjawab pertanyaan, mengenal simbol, dan sebagainya.
  • Sosial emosional: menunjukkan sikap toleran, bermain dengan teman sebaya, mengatur diri sendiri, dan sebagainya.
  • Seni: bernyanyi, menggambar, menggunakan alat musik, dan sebagainya.

Sedangkan bagi anak usia 2-4 tahun menurut Indonesia Montessori, tumbuh kembangnya akan dilihat dari kemampuan melompat, berjalan, mengendarai sepeda roda tiga, menggunting, berbicara, membuka dan menutup toples, dan sebagainya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Lydia Freyani Hawadi. Dia mengatakan bahwa PAUD dapat memberikan manfaat yang nyata terhadap perkembangan kecerdasan dan moral anak.

PAUD menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, bahkan tentang gizi.

"Esensi dari PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar," papar Reni, panggilannya, dikutip Kompas.com, Selasa (21/5/2013).

Lalu, berapakah usia ideal anak masuk PAUD? Menurut Reni, usia 2-6 tahun atau hingga sebelum masuk ke jenjang SD adalah waktu yang tepat.

Anda juga bisa memastikan PAUD tempat anak Anda sekolah dekat dengan rumah, memiliki pengajar berkompeten dan memahami teknik pengajaran PAUD yang tepat, dan kurikulum yang jelas.

Sedangkan menurut psikolog anak dari Klinik Kancil, Alzena Masykouri, orang tua bisa menilai kemampuan mereka ketika memutuskan akan melibatkan PAUD atau tidak dalam mendidik anaknya.

Pada anak usia dini, PAUD bisa menjadi pembimbing yang tepat bagi orang tua untuk melatih mengembangkan stimulasi yang dibutuhkan. Namun, tak berarti seluruh pendidikan diserahkan kepada PAUD.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR