INTERNASIONAL

Kemenlu jamin hak hukum jurnalis Indonesia di Hong Kong

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/09/2019).
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/09/2019). | Aditya Pradana Putra /AntaraFoto

Kementerian Luar Negeri tetap akan memberikan pendampingan kekonsuleran untuk Veby Mega Indah (39), jurnalis Indonesia yang terkena tembakan peluru karet di Hong Kong, meski yang bersangkutan telah menunjuk pengacara.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan, sejak insiden nahas itu menimpa jurnalis harian Suara—koran berbahasa Indonesia terbit di Hong Kong—tersebut, pihaknya telah melakukan pendampingan penuh.

Kendati demikian, seluruh proses hukum yang dijalani Veby terhadap otoritas terkait di Hong Kong menjadi kewenangan pengacara yang ditunjuk Veby.

“Kita tahu ibu Veby sudah menunjuk pengacara, tetapi kita tetap melakukan pendampingan kekonsuleran agar hak-hak hukum ibu Veby terpenuhi,” kata Retno, usai Sidang Kabinet di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Rabu (2/10/2019), Veby dilaporkan mengalami kebutaan pada mata kanannya setelah menjalani operasi mata di Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole, Wan Chai, Hong Kong.

Cedera yang dialami Veby berasal dari peluru karet yang ditembakkan oleh petugas kepolisian saat yang bersangkutan tengah meliput aksi demonstrasi di Hong Kong.

“Pupil matanya dilaporkan robek akibat kuatnya benturan. Persentase kerusakannya hanya dapat dinilai setelah operasi,” ucap pengacara Veby, Michael Vidler, kepada jurnalis AFP Jerome Taylor.

Vidler telah menerima bukti dari pihak ketiga bahwa proyektil yang membuat mata kanan Veby tak berfungsi lagi adalah peluru karet.

Proyektil tersebut diduga menghantam kaca mata pelindung yang dikenakan Veby. Jarak tembakan diduga hanya berkisar 12 meter. Kuatnya benturan itu mengakibatkan cedera parah di mata kananya, luka sayat di dekat mata, dan cedera di mata kirinya.

Dalam rilis yang diterima redaksi, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta mengecam keras tindakan intimidatif yang diduga dilakukan aparat kepolisian Hong Kong kepada Veby.

Lewat laporan kuasa hukum Veby yang diterima AJI Jakarta, diketahui bahwa sejumlah aparat dari kepolisian terkait mencoba mendatangi Veby ke rumah sakit meski kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan.

“Beruntung, pihak rumah sakit menolak permintaan kepolisian untuk bertemu Veby karena alasan kesehatan,” sebut Asnil Bambani, Ketua AJI Jakarta.

Dalam pandangan AJI Jakarta, kedatangan polisi ke rumah sakit bisa saja menjadi bentuk intimidasi terhadap korban. Apalagi, menurut tim dokter di rumah sakit, besaran persentase kerusakan mata Veby bisa diketahui setidaknya dalam 7 hari setelah operasi selesai dilakukan.

Oleh karenanya, AJI. Jakarta meminta kepolisian Hong Kong untuk menghentikan segala bentuk tindakan intimidasi kepada Veby.

Sebaliknya, pihak kepolisian sebaiknya menangkap dan menindak pelaku penembakan terhadap Veby dengan proses hukum yang transparan.

“Kepolisian Hong Kong harus bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi terhadap Veby. Aksi ini bukan hanya ancaman bagi Veby tetapi juga bagi jurnalis lokal dan internasional yang turut meliput aksi serupa,” kata Asnil.

AJI Jakarta juga meminta Konsulat Jenderal RI di Hong Kong untuk selalu melakukan pendampingan dan memastikan proses hukum berlangsung adil bagi korban serta. Veby terdaftar sebagai anggota AJI Jakarta sejak tahun 2008.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR