PILPRES 2019

Kenapa Basarah sebut Soeharto guru korupsi

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah saat menghadiri diskusi terkait pemikiran KH Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu (28/11/2018). Basarah menyebut Soeharto guru korupsi, karena ada TAP MPR yang menyebutnya.
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah saat menghadiri diskusi terkait pemikiran KH Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu (28/11/2018). Basarah menyebut Soeharto guru korupsi, karena ada TAP MPR yang menyebutnya. | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto ingin melaporkan politisi Ahmad Basarah ke polisi. Pangkal masalahnya, Basarah melontarkan jika Soeharto, bapaknya Tommy, adalah guru korupsi di Indonesia.

Lontaran itu muncul sebagai reaksi pernyataan calon presiden Prabowo Subianto di Singapura. Dalam forum The World in 2019 Gala Dinner, Prabowo menyatakan korupsi di Indonesia ibarat kanker stadium 4 alias parah. Basarah, yang menjadi juru bicara capres Joko Widodo menyatakan, bahwa guru korupsi di Indonesia adalah Soeharto. "Yang itu adalah mantan mertuanya Prabowo," kata Basarah, seperti dikutip dari wawancara di akun Kompas.tv, Kamis (29/11/2018).

Namun Tommy tak mau melaporkan sendiri. Ia meminta Laskar Berkarya, sayap di bawah Partai Berkarya, yang melapor. "Saya minta Laskar Berkarya sebagai sayap partai untuk menuntut. Karena faktanya tidak demikian," kata Tommy dalam sambutan pada pengukuhan DPP Laskar Berkarya di Bogor, Jumat (30/11/2018) seperti dikutip dari Merdeka.com.

Basarah tak takut dengan ancaman bakal dilaporkan ke polisi. Dasar lontaran Basarah memang jelas dan kuat, Ketetapan MPR nomor 11 tahun 1998, tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Salah satu poin yang dikutip Basarah adalah pasal 4 dari ketetapan itu, yang berbunyi:

Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapa pun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden.

Soeharto dan Orde Baru memang lekat dengan korupsi. Salah satu buktinya adalah putusan Mahkamah Agung yang memenangkan gugatan Kejaksaan Agung atas kasus Yayasan Supersemar, bentukan Soeharto.

Dalam kasus ini, Yayasan Supersemar divonis bersalah dan harus mengembalikan dana sebesar Rp4,4 triliun. Salah satu pembayaran itu adalah penyitaan Gedung Granadi di Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2018).

Saat awal-awal lengser dari kekuasaannya, banyak laporan yang menggambarkan bagaimana korupsi Soeharto dibanding dengan pemimpin negara lain.

Pada 1999, majalah Time menggelar liputan investigasi yang dipublikasikan dengan judul Suharto Inc. Liputan itu menemukan, Suharto beserta anak-anaknya, memiliki kekayaan AS $15 miliar dalam beragam wujud. Salah satu temuan investigasi itu adalah, adanya transfer uang Soeharto sebesar AS $9 miliar dari Swiss ke Austria pada Juli 1998, usai dia lengser.

Forbes menempatkan Mohamed Suharto alias Soeharto menjadi nomor satu dalam daftarThe World's All-Time Most Corrupt Leaders. Media Amerika Serikat itu mengutip laporan Transparancy International yang mendudukan Soeharto di urutan utama dalam jumlah pencurian uang publik.

Dalam Global Corruption Report 2004, Transparancy International melansir laporan setebal 365 halaman berisi soal korupsi politik. Dalam daftar itu, Soeharto mengalahkan pemimpin dunia lainnya dalam urusan korupsi. Dari 10 pemimpin dunia yang paling korup, Soeharto adalah pemimpin paling korup.

Pemimpin korup macam Ferdinand Marcos (Filipina) , Mobutu Sese Seko (Zaire), Sani Abacha (Nigeria), atau Slobodan Milosevic (Serbia) kalah semua. Transparancy International menaksir, Soeharto korupsi antara AS $15 miliar hingga AS $35 miliar. Padahal, saat itu pendapatan per kapita orang Indonesia hanya AS $695.

BACA JUGA