INVESTASI ASING

Kenapa investasi asing di startup berkembang cepat

Pengemudi ojek aplikasi berbasis teknologi tengah menanti penumpang di kawasan Sudirman, Jakarta (13/12/2017). Kehadiran Go-Jek dan Grab di Indonesia membuat investasi startup di Indonesia menjadi semakin menarik.
Pengemudi ojek aplikasi berbasis teknologi tengah menanti penumpang di kawasan Sudirman, Jakarta (13/12/2017). Kehadiran Go-Jek dan Grab di Indonesia membuat investasi startup di Indonesia menjadi semakin menarik. | Mast Irham /EPA-EFE

Perusahaan rintisan digital (startup) mulai mewabah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini timbul seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan masyarakat atas hidup yang lebih praktis.

Kesuksesan perusahaan-perusahaan startup tersebut tentu tak luput dari derasnya gelontoran dana fantastis dari para pemodal ventura. Hingga akhirnya memunculkan beberapa "Unicorn"--gelar yang diberikan pada startup yang valuasinya lebih dari 1 miliar dolar AS--dari Indonesia.

Hasil riset Google Indonesia dan AT Kearney yang dirilis pada akhir tahun 2017 menunjukkan bahwa nilai investasi di bidang startup teknologi di Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah sektor migas, dengan total investasi yang masuk berjumlah Rp40 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2017.

Dari catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) suntikan dana asing kepada sejumlah startup Indonesia berbasis teknologi sepanjang tahun lalu mencapai 4,8 miliar dollar AS atau setara Rp64 triliun.

Independent Wealth Management Advisor serta Co-Founder dan Managing Partner Jagartha Advisors, Ari Adil, menilai bahwa para investor asing sangat cermat dan jeli dalam melihat konsep bisnis yang diusung oleh para startup.

Padahal, tidak seperti konsep bisnis perusahaan konvensional pada umumnya yang selalu fokus untuk mengejar profit, tren yang berkembang bagi startup saat ini adalah tren merugi tetapi terus mengejar ekspansi.

Mengapa demikian? Hal pertama yang dikejar menurut Ari adalah valuasi.

Ia menjelaskan, Indonesia didukung oleh stabilitas makroekonomi, demografi, dan penetrasi pengguna internet yang meningkat mencapai 54 persen, kondisi ini membuka peluang besar dalam pertumbuhan ekonomi digital.

"Investor asing dalam hal ini melihat pangsa pasar yang begitu besar di Indonesia bagi pertumbuhan bisnis startup ­tersebut, sehingga startup Unicorn ini mendapat nilai yang sangat baik di mata asing,” ujar Ari di Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Lebih lanjut, Ari menambahkan bahwa fenomena sharing economy atau ekonomi berbagi yang ditawarkan oleh startup Unicorn di Indonesia disinyalir menjadi faktor pemicu utama masuknya dana investasi asing yang fantastis.

Indonesia saat ini memiliki empat startup Unicorn yang menjadi raksasa bisnis baru di dalam negeri.

Unicorn tersebut terbagi dalam tiga jenis industri, yaitu Go-Jek yang merajai sektor transportasi, kemudian ada Tokopedia dan Bukalapak sebagai marketplace memberikan solusi berbelanja instan. Sementara, bagi masyarakat yang gemar berpergian dimanjakan dengan kehadiran Traveloka.

Bermula dari sebuah konsep, kemudian merangkak tumbuh sebagai startup, hingga kini empat perusahaan tersebut mampu menjadi korporasi dengan nilai valuasi di atas 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau lebih dari Rp13 triliun.

Jika ditelisik, Go-Jek misalnya yang berhasil menjadi Unicorn pertama di Indonesia setelah enam tahun berdiri. Sepak terjang Go-Jek semakin melesat ketika mendapat pendanaan senilai 550 juta dolar AS, atau setara Rp7,9 triliun, pada Agustus 2016 dari konsorsium delapan investor asing yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug.

Setelah itu, Go-Jek sukses memperoleh suntikan dana tambahan senilai 1,2 miliar dolar atau Rp17,3 triliun dari Tencent Holding dan JD.com pada 2017. Hal ini yang membuat total pendanaan yang sukses diraih GO-JEK berada di angka 1,75 miliar dolar atau setara Rp25,3 triliun, nilai valuasi terbesar di antara empat Unicorn Indonesia.

Tokopedia menyusul menyandang gelar Unicorn setelah memperoleh pendanaan senilai 1,3 miliar dolar (Rp18,8 triliun). Jumlah yang dijabarkan oleh situs crunchbase.com ini mencatatkan investasi terbesar datang dari Alibaba pada Agustus 2017, dengan angka senilai 1,1 miliar dolar.

Traveloka berada pada urutan ketiga sebagai startup asal Indonesia yang berhasil menjelma menjadi Unicorn. Platform penyedia layanan tiket online ini berhasil menarik perhatian Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri, yang mengucurkan dana senilai 350 juta dolar (Rp5 triliun) pada Juli 2017.

Tambahan dana baru ini menggenapkan total pendanaan untuk Traveloka menjadi 500 juta dalam setahun terakhir dan berhasil mengantarkan Traveloka sebagai korporasi dengan valuasi di atas 1 miliar dolar.

Melihat angka tersebut, menurut Ali, investasi yang masuk pada startup Indonesia, yang didominasi oleh pemain asing, menunjukkan bahwa para investor masih percaya pada kondisi ekonomi makro Indonesia.

Baik Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka, memaksimalkan konsep one stop solution dalam satu aplikasi.

“Mereka (startup Unicorn) tidak memiliki aset seperti perusahaan konvensional pada umumnya. Startup tersebut menyediakan aplikasi yang bermanfaat bukan hanya bagi pengguna tetapi bagi mereka yang memiliki aset seperti motor, mobil, produk, dan kehadiran startup ini mampu menjembatani gap di antara ini,” jelas Ari.

Mungkinkah dibatasi?

Derasnya aliran modal yang dimiliki investor asing tidak menjadi masalah bagi pemerintah. Kehadiran investor asing tersebut belum akan dibatasi dengan regulasi.

Bagi pemerintah, suntikan dana oleh investor asing ke rintisan Unicorn merupakan bagian dari Foreign Direct Investment (FDI) yang berpotensi menambah pemasukan devisa negara. Pemerintah menganggap FDI adalah salah satu yang memang dibutuhkan untuk menopang perekomian perusahaan dan negara.

“UMKM yang sudah berkembang sampai tahap middle, atau sekitar Rp 100 miliar, pihak asing boleh masuk tapi dibatas maksimum 49 persen. Kalau nilai valuasi lebih dari itu, tidak ada pembatasan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Informasi dan Humas Kominfo, Noor Iza, kepada Beritagar.id, Jumat (10/8).

Apabila keinginan untuk investasi dihambat oleh pemerintah, negara akan sulit untuk mendapat pertumbuhan ekonomi yang baik.

"Selain itu, lapangan kerja pun sempit, anak mudah tak dapat kesempatan lebih luas, dan pengangguran dapat meningkat," jelasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR