Kenapa Menteri Susi tak mau lelang kapal pencuri ikan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kanan) saat penenggelaman 13 kapal nelayan asing asal Vietnam yang ditangkap karena mencuri ikan di Perairan Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kanan) saat penenggelaman 13 kapal nelayan asing asal Vietnam yang ditangkap karena mencuri ikan di Perairan Indonesia. | Jessica Helena Wuysang /ANTARA FOTO

Setidaknya ada dua alasan utama mengapa Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti bersikukuh menenggelamkan kapal para pencuri ikan alih-alih melelangnya.

Ia membeberkannya sebelum memusnahkan 13 kapal pencuri ikan dari Vietnam di Perairan Tanjung Datu, Kalimantan Barat, Sabtu (4/5/2019).

Peledakan atau pembakaran kapal hanya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dulu. Itu pun hanya pada beberapa kapal untuk memantik rasa ngeri dan jera.

Kini, KKP memilih cara penenggelaman. Kata Susi, sebelum ditenggelamkan pihaknya sudah memastikan seluruh minyak pada kapal dibersihkan sesuai prosedur.

Kelak, bangkai kapal yang sudah tenggelam bisa menjadi rumah bagi para ikan. Penyelam pun dapat menjadikannya diving site baru.

Jika pada 2014 Greenpeace Indonesia pernah mengajukan protes atas peledakan dan pembakaran kapal pencuri ikan, kini mereka sudah sepaham. Arifsay Nasution, peneliti Greenpeace Indonesia menjelaskan perlunya memastikan lokasi penenggelaman kapal.

Kedalaman cukup, tidak mengganggu pelayaran, tak mengganggu terumbu karang, dan bisa jadi rumpon ikan untuk nelayan pesisir adalah beberapa syarat yang mesti dipenuhi KKP.

Bagaimanapun, Arifsay tetap berpendapat ada cara pemusnahan kapal lain yang lebih ramah lingkungan. "Saran lain dari Greenpeace adalah kapal-kapal itu dapat dimusnahkan di darat dengan aman," terangnya.

Pihaknya sudah melakukan kajian dampak di titip-titip penenggelaman kapal. Saran langsung juga sudah disampaikan pada pihak KKP.

Sepanjang 2014 hingga 2019, total tangkapan kapal ikan ilegal KKP mencapai angka 582 kapal. Sejak Januari hingga 11 April 2019, 38 kapal ikan ilegal dari Indonesia (10 kapal), Malaysia (13 kapal), dan Vietnam (15 kapal).

Beberapa waktu lalu, Menko Maritim Luhut Pandjaitan menyarankan, alih-alih menenggelamkan, kapal asing ilegal lebih baik dilelang. Susi bergeming.

"Karena dari Pak Jokowi masih firm, deterrence effect. Pak Presiden belum perintahkan, Bu Susi penenggelaman kapal dihentikan, belum ada perintah ke saya. Jadi selain Pak Presiden ya tidak akan saya dengar," ucap Susi dalam pidato jelang penenggelaman, Sabtu (4/5).

Menurutnya penenggelaman lebih baik. Pasalnya, punya efek jera--deterrence effect--tinggi dan tidak merepotkan KKP dengan urusan oknum di balik pencurian ikan. "Sebetulnya ini adalah way out yang sangat cantik," Susi berujar.

Soal lelang kapal, Susi tak setuju. Menurutnya lelang malah membuat para pencuri ikan makin berani. "Ikan dilelang oke lah, kalau kapal dilelang dijadikan kapal untuk mencari ikan lagi. Apa iya kita mau bikin dagelan di negeri kita?" tandas Susi.

Susi minta semua penegak hukum memantau dan memastikan, kapal yang ditangkap harus ditetapkan penenggelamannya satu minggu kemudian.

Hal lain yang membuat Menteri Susi yakin, penenggelaman kapal adalah cara efektif menangani para pencuri ikan, adalah dampak positif pada sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

"Neraca dagang perikanan Indonesia menjadi nomor satu di Asia Tenggara. Kali ini kita nomor satu. Suplier tuna terbesar di dunia," tuturnya.

Berdasarkan data KKP neraca perdagangan perikanan Indonesia meningkat sejak tahun 2015. Pada 2018, neraca perdagangan meningkat sebesar 7,79 persen atau $4.861 juta.

Peningkatan ini dikarenakan nilai ekspor perikanan Indonesia meningkat dan nilai impor cenderung stagnan.

"Penenggelaman kapal jangan hanya dilihat deterrent effect-nya saja, tapi reward ekonominya untuk negara luar biasa," tegas Susi.

Nelayan Indonesia mendapat hasil lebih banyak karena kapal-kapal pencuri ikan makin berkurang. Ini terbukti dengan meningkatnya produksi perikanan.

Dalam keterangan tertulis, Susi memaparkan pada triwulan III 2015 produksi perikanan 5.363.274 ton, naik 5,24 persen menjadi 5.664.326 ton pada 2016.

Demikian halnya dalam periode sama pada 2017. Ada kenaikan produksi perikanan 8,51 persen, yaitu sebesar 6.124.522 ton. Juga pada triwulan III 2018, meningkat 1,93 persen mencapai 6.242.846 ton.

Pada triwulan III tahun 2018, PDB perikanan mencapai nilai Rp59,98 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan periode sama pada 2017 senilai Rp 57,84 triliun.

Meski terjadi perlambatan pertumbuhan PDB dari 6,85 persen pada triwulan III 2017 menjadi 3,71 persen di triwulan III 2018, PDB perikanan mengalami peningkatan di setiap kuartal, begitu pula dengan jumlah produksi perikanan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR