INDUSTRI PARIWISATA

Kenapa wisata halal tak laku di negeri sendiri

Wisatawan berkunjung ke destinasi wisata halal, Al-Quran Al-Akbar, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2019).
Wisatawan berkunjung ke destinasi wisata halal, Al-Quran Al-Akbar, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2019). | Iggoy el Fitra /ANTARA FOTO

Indonesia adalah destinasi halal terbaik di dunia. Namun, orang Indonesia lebih memilih berwisata halal ke luar negeri. Setidaknya, ada dua alasan yang mendasari pilihan tersebut.

Hasil studi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019, menobatkan Indonesia di posisi pertama destinasi halal terbaik dunia bersama Malaysia. Indonesia bahkan diklaim sebagai satu-satunya negara yang paling progresif mengembangkan pariwisata halal.

Namun, alih-alih melihat peningkatan wisatawan halal di dalam negeri, Nur Iman Santoso, Co-Founder HTK (Halal Travel Konsorsium)—salah satu pelopor wisata halal yang tergabung dalam ATHIN (Asosiasi Travel Halal Indonesia), malah mengungkap kenaikan tren wisata halal di luar negeri setidaknya sejak tiga tahun terakhir.

Ia menyebut ada sekitar 20 juta pelancong muslim Indonesia yang bepergian ke luar negeri pada 2019.

"Daftarnya ke Singapura, Korea dan Jepang. Setelahnya pilih umroh hingga Eropa Barat, Prancis, Belanda Jerman, Australia, New Zealand, terakhir ke AS karena masalah pengurusan visa yang rumit," tutur Iman (26/6).

Menambahkan pernyataan Iman, Sekretaris ATHIN, Cheriatna mengatakan, turis asal Indonesia kini lebih tertarik mencari destinasi halal terutama saat melancong ke Eropa.

"Wisata halal lebih menguasai turis Indonesia yang ada di Eropa dibanding konvensional. Mereka memenuhi travel agen ramah muslim. Itu data yang terbaru dari turis Indonesia. 2-3 tahun ini. Orang Indonesia pilih wisata halal,” jelasnya.

Terlepas dari potensi pasar wisata halal luar negeri yang terbilang menjanjikan, Iman berpendapat mahalnya tiket pesawat dalam negeri melatarbelakangi pilihan pelancong muslim Indonesia untuk beralih ke luar negeri.

Pemicu lain, "Di beberapa daerah menolak wisata halal, seperti Bali, NTT hingga Tana Toraja, mungkin kurang komunikasi,” timpal Cheriatna.

Senada, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pencapaian wisata halal Indonesia sebetulnya belum optimal. Menurutnya, belum banyak daerah yang menjadikan wisata halal sebagai ciri khas, terutama dengan melakukan sertifikasi sebagai jaminan halal dan sesuai standar, pun ramah muslim.

"Mayoritas kita muslim sehingga berpikir untuk tidak mau disertifikasi. Biasa orang Indonesia disertifikasi suka marah, dan itu menjadi kelemahannya," terang Arief (26/6).

Berdasarkan survei Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) tahun 2019 yang dihelat Kemenpar, Lombok menempati peringkat pertama dari sepuluh wilayah yang paling ramah terhadap wisatawan Muslim. Disusul kemudian Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Jakarta dan Sumatera Barat di posisi lima.

Pencapaian itu tentu tidak mudah. “Lombok itu dalam waktu dua tahun naik 35 persen (jumlah kunjungan wisatawan). Dulu wisman, wisnus hanya 1 juta, dan dari 1 juta ini, 95 persennya berasal dari Bali," ujar Arief.

Apalagi, sambung Cheriatna, di dunia kini memang sedang mengetren wisata halal. Termasuk di negara non muslim. "Ada bento halal di Seven Eleven Jepang. Tokonya pun mudah. Selain itu ada Korea, China dan Thailand yang lebih dulu menggarap wisata halal," urainya.

Merujuk studi terbaru oleh University of Portsmouth tentang wisata halal, disimpulkan 'nilai-nilai islami' sama pentingnya dengan ‘kombinasi kualitas lain’ dalam hal memilih tujuan liburan bagi umat muslim.

Nilai islami berkaitan dengan keimanan seperti makanan halal, kebersihan, fasilitas untuk shalat, menghindari yang haram dan sebagainya. Sedangkan ‘kombinasi kualitas lainnya’ mencakup nilai konsumsi atau uang (akomodasi, hiburan hingga penerbangan) dan nilai pribadi (kepuasan, kebahagiaan dan keamanan).

Di luar keterbatasan studi, temuan yang dipublikasikan dalam International Journal of Tourism Research ini memberi wawasan baru tentang harapan konsumen Muslim di pasar pariwisata halal yang cuma mewakili 12 persen pariwisata global.

Dengan demikian, lanjut Arief, tanpa mengedepankan sertifikasi, jangan heran jika jumlah wisatawan halal Indonesia masih kalah dari Thailand dan Singapura. Di Singapura, kata dia, angka kedatangan wisman halalnya lebih dari 20 persen, sedangkan Indonesia baru mencapai 20 persen.

Sebagai solusi mempercepat pertumbuhan, Kemenpar kini sedang bersiap menyusun pedoman wisata halal yang mengacu pada standar wisata dunia. Pedoman ini nantinya akan meliputi empat bidang yaitu destinasi, pemasaran, industri, dan kelembagaan.

Namun, "Untuk langkah awal ada empat bidang usaha yang akan disertifikasi yakni kuliner, hotel, biro perjalanan, dan spa,” pungkas Arief.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR