KERUSUHAN MANOKWARI

Kepala daerah diminta jaga ucapan

Kondisi bangunan yang terbakar pascakerusuhan di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/02/2019).
Kondisi bangunan yang terbakar pascakerusuhan di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/02/2019). | Tomi /AntaraFoto

Para kepala daerah diimbau untuk berhati-hati ketika berbicara dan membuat pernyataan, terutama yang berhubungan dengan masyarakat Papua dan Papua Barat.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengingatkan, ada banyak masyarakat Papua dan Papua Barat yang tinggal dan menuntut ilmu di kota-kota besar Indonesia.

Jangan sampai, pernyataan sekecil apa pun bisa memantik emosi antarmasyarakat berbeda etnis tersebut. “Saya minta, termasuk diri saya, untuk hati-hati dalam membuat statement,” kata Tjahjo usai jumpa pers di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Jakarta Pusat, Senin (19/8/2019).

Tjahjo mengamini, kerusuhan yang terjadi di Jayapura, Papua, serta Manokwari dan Sorong, Papua Barat, sepanjang Senin kemarin, meluas lantaran sikap kepala daerah yang kurang hati-hati.

“Kalau emosional tanpa terkendali itu bisa menimbulkan opini yang berbeda dan menimbulkan kesalahpahaman, seperti yang terjadi di Manokwari dan Jayapura,” katanya.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian mengakui kerusuhan di tiga kota besar di Papua dan Papua Barat itu adalah buntut insiden persekusi di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Insiden berawal dari pengepungan dan penyerangan asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, karena tudingan perusakan bendera Merah Putih. Polrestabes Surabaya lalu mengangkut 43 mahasiswa asal Papua untuk diperiksa.

Kamis (15/8/2019), Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia for West Papua menggelar aksi unjuk rasa di Malang. Aksi itu berujung rusuh.

Karena kerusuhan itu, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko mengeluarkan ancaman akan memulangkan mahasiswa perusuh ke daerah asal mereka. Pernyataan itu membuat Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan marah dan meminta Sofyan menarik ucapannya dan meminta maaf.

Ucapan bercampur hoaks kata-kata rasisme dan dugaan mahasiswa Papua meninggal dunia diyakini Tito sebagai pemicu mobilisasi massa di Papua dan Papua Barat.

Berbondong-bondong minta maaf

Dalam konferensi pers bersama Kapolri, Senin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan permohonan maafnya kepada warga Papua melalui sambungan telepon langsung dengan Gubernur Papua Lukas Enembe.

“Sama sekali itu bukan suara Jatim. Harus bedakan letupan bersifat personal dengan apa yang menjadi komitmen Jatim,” kata Khofifah.

Khofifah memastikan, selama ini pemerintah Provinsi Jawa Timur kerap melakukan komunikasi dengan mahasiswa Papua. Bahkan, mahasiswa Papua sering diundang dalam setiap acara penting di Jawa Timur.

“Komunikasi kami sangat intensif. Masing-masing harus bangun satu komitmen menjaga NKRI, Pancasila, dan Merah Putih,” tukasnya.

Wali Kota Malang Sutiaji juga demikian. Sutiaji bahkan menegaskan bahwa kabar pemulangan mahasiswa asal Papua dan Papua Barat adalah tidak benar.

“Kalau pun ada insiden, atas nama Pemerintah Kota Malang saya saya sampaikan maaf sebesar-besarnya,” ujar Sutiaji, dikutip dari jatim.suara.com.

Sutiaji turut meluruskan ucapan yang dilontarkan wakilnya, Sofyan Edi Jarwoko. Menurutnya, apa yang disampaikan Sofyan di luar dari koordinasi pemerintah kota.

“Siapa pun boleh di sini, utamanya saudara Papua juga warga kita. Harus kita perlakukan sesuai seharusnya, dinaungi dan dilindungi,” tukasnya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menekankan, tidak ada bukti yang menunjukkan pihaknya mengeluarkan pernyataan pengusiran mahasiswa Papua dan Papua Barat di Surabaya.

Risma meyakini, kehidupan mahasiswa Papua di Surabaya masih dalam situasi normal. “Sekali lagi boleh dicek, selama ini di kegiatan apapun kami melibatkan mahasiswa Papua. Kalau memang itua da kesalahan di kami di Surabaya, saya mohon maaf,” tuturnya, mengutip BBC Indonesia.

Pemerintah janji lindungi Pace, Mace, dan Mama Mama

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengakui ada hal yang membuat masyarakat Papua tersinggung. Kendati begitu, Jokowi tetap meminta masyarakat di provinsi paling timur Indonesia itu untuk mau memaafkan.

Dalam keterangan persnya di Istana Merdeka, Jakarta, Jokowi meminta masyarakat Papua dan Papua Barat untuk tetap percaya bahwa pemerintah tidak akan membeda-bedakan perlakuan terhadap mereka.

“Sebagai saudara sebangsa setanah air, yang paling baik memaafkan. Emosi itu boleh, tapi memaafkan lebih baik. Yakinlah, pemerintah menjaga kehormatan dan kesejahteraan Pace Mace, Mama-Mama yang ada di Papua dan Papua Barat,” katanya.

Sementara itu, kondisi Manokwari dan Sorong, Papua Barat, Selasa (20/8/2019), dilaporkan sudah berangsur kondusif. Aparat dari tim gabungan TNI-Polri bersama tokoh masyarakat masih akan berpatroli mengantisipasi kerusuhan susulan.

“Komunikasi terus dijalin bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda untuk mengantisipasi keributan lanjutan,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam keterangan pers, Senin (19/8/2019).

Dedi menyebut tidak ada korban jiwa dari kejadian ini. Hanya saja tiga personelnya terluka karena lemparan batu.

Di Manokwari, massa membakar gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Papua Barat. Saat kejadian, massa juga memblokir sejumlah ruas jalan.

Sementara di Sorong, massa menerobos masuk Bandara Domine Eduard Osok. Kaca-kaca terminal pecah, sejumlah kendaraan yang terparkir juga ikut dirusak. Penerbangan sempat ditunda, namun dipastikan sudah berlangsung normal mulai Selasa ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR