Keputusan The Fed dan ketidakpuasan dalam negeri

Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan) berdiskusi dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri) saat memaparkan detail kebijakan untuk mengatasi pelemahan ekonomi global di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9).
Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan) berdiskusi dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri) saat memaparkan detail kebijakan untuk mengatasi pelemahan ekonomi global di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/9). | Yudhi Mahatma /ANTARAFOTO

Sejumlah negara maju di Eropa merasa lega karena bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunganya. Namun, kondisi tersebut justru berbalik di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang menahan suku bunga acuannya di kisaran nyaris 0 persen akan melanjutkan aksi spekulasi para pelaku keuangan.

Darmin menyebut sebelum pengumuman The Fed, banyak investor yang melarikan dananya ke negara Barack Obama karena berharap mendapat keuntungan lebih dini jika suku bunga The Fed jadi dinaikkan. Hal itu terlihat dari banyaknya aliran dana asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia.

"Tidak lama adjustment-nya akan terjadi. Banyak pihak yang akan pasang dulu dan kemudian itu akan rendah spekulasinya. Kalau tidak jadi naik, tekanan spekulasinya akan rendah. Tapi itu hanya sementara saja," kata Darmin dikutip CNN Indonesia, di kantornya, Jumat (18/9).

Meski begitu Darmin menyadari, keputusan suku bunga acuan dilematis bagi ekonomi AS. Naik atau tidaknya suku bunga acuan tetap memberikan dampak negatif dan positif.

Dikutip Detik Finance, Darmin menjelaskan, bila ada kenaikan suku bunga, maka akan timbul gejolak di pasar keuangan. Namun diperkirakan hanya sebentar, dan masing-masing negara bisa kembali menata fundamental ekonominya.

"Sebenarnya kan, The Fed itu dia mau naikkan bunga atau tidak naikkan bunga itu dilematis saja buat dia, termasuk Indonesia. Dia naikkan, akan ada gejolak sebentar, mungkin gejolak agak besar, habis itu agak reda, dan sesuaikan diri," ujar Darmin.

Jadi, keputusan The Fed yang dipimpin Janet Yellen ini bukan hadiah yang bisa dinikmati Indonesia.

Senada dengan Darmin, Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, dalam keterangan tertulisnya kepada VIVA.co.id mengatakan, dengan keputusan ini, spekulasi yang ditimbulkan dari The Fed akan tetap memberikan sentimen negatif di pasar keuangan internasional, termasuk Indonesia.

"Dengan belum adanya kenaikan tingkat bunga AS, terus terjadi spekulasi antara mata uang dolar AS dan semua mata uang negara dunia. Khususnya, bagi negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia," ujar Bambang, dalam kunjungannya ke Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Jumat, 18 September 2015.

Menurut Bambang, langkah The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunganya adalah berdasarkan data yang diperoleh dari AS, di mana perekonomian Negeri Paman Sam tersebut masih bergejolak. Salah satunya yakni, inflasi AS yang membengkak.

Dengan hasil ini, Bambang melanjutkan, pemerintah akan tetap melakukan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun otoritas terkait, untuk tetap menjaga pasar keuangan nasional.

Seperti diketahui, The Fed memutuskan untuk menunda menaikkan suku bunganya yang telah bertahan selama hampir satu dekade. Meski begitu, The Fed tetap berencana menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini.

Lembaga ini secara terpisah merilis proyeksi ekonomi mereka yang menunjukkan bahwa 13 dari 17 ekonom di Dewan The Fed memprediksi kenaikan suku bunga acuan sebanyak paling sedikit 0,25 persen tahun ini.

Rapat The Fed selanjutnya dijadwalkan pada Oktober dan Desember mendatang. Yellen menegaskan bahwa langkah pertama (menuju kenaikan suku bunga) bisa jadi dimulai dari salah satu rapat tersebut.

Keputusan ini disambut lega oleh dunia perbankan di Eropa. Berbeda dengan Amerika, bank sentral Eropa masih berjuang untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi di kawasan itu.

Suku bunga acuan Eropa juga di kisaran nol persen dan pejabat Bank Sentral Eropa telah mengindikasikan rencana pembelian surat utang dan aset lain untuk memicu pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ekonomi Eropa memang amat berkaitan dengan kondisi di Tiongkok dan negara berkembang lain. Pasar Tiongkok adalah konsumen penting untuk produksi otomotif Jerman dan eksportir Eropa lain.

Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat akan membuat investor menarik dana mereka dari pasar negara berkembang dan membuat mereka tak mampu lagi membeli produk Eropa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR