MUDIK 2018

Kereta api tak kenal istilah ''puncak arus mudik''

Ratusan pemudik menaiki kereta api Mutiara Selatan tujuan akhir Surabaya di Stasiun Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Senin (11/6). PT Kereta Api Indonesia Daop 2 Bandung memprediksi lonjakan penumpang arus mudik di Jawa Barat mencapai 20,7 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 11.531 kursi.
Ratusan pemudik menaiki kereta api Mutiara Selatan tujuan akhir Surabaya di Stasiun Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Senin (11/6). PT Kereta Api Indonesia Daop 2 Bandung memprediksi lonjakan penumpang arus mudik di Jawa Barat mencapai 20,7 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 11.531 kursi. | Raisan Al Farisi /Antara Foto

Idulfitri sudah di depan mata, para pemudik pun sejak beberapa hari lalu telah memadati jalur-jalur menuju kampung halamannya. Berbagai moda transportasi pun dipilih, mulai dari kendaraan roda empat, roda dua, pesawat, kapal laut, hingga kereta api.

Bagi Anda yang ingin menikmati perjalanan yang nyaman tanpa bermacet-macetan, kereta api bisa jadi alternatif. Apalagi sejak lama, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menjual tiket perjalanan sekitar tiga bulan sebelum Lebaran tiba, tepatnya sejak 1 Maret 2018.

Pembelian tiket yang lebih cepat membuat para pemudik dapat mengatur dengan lebih cermat rencana mudik mereka.

Mutia (27), salah satu pemudik yang menumpang Kereta Pangrango mengakui, aturan itu jadi memudahkannya untuk membeli tiket dengan lebih nyaman. Meskipun kehabisan tiket kereta diakui masih jadi ketakutannya.

“Iya, beli dari jauh hari supaya enggak kehabisan,” ucapnya kepada Beritagar.id, Rabu (13/6).

Persis seperti Dimaz (29), penumpang kereta Bima jurusan Jakarta-Surabaya yang sengaja membeli tiket beberapa minggu sebelum berangkat pada Jumat (8/6).

Lebaran memang musim yang sibuk bagi penyedia sarana transportasi umum. Tiket dijual sejak jauh hari pun peminatnya tetap membludak. Jumlah penumpang berbagai moda transportasi umum biasanya melonjak jauh dari hari-hari biasa. Kerap disebut sebagai "puncak arus mudik".

Padahal, tahukah Anda jika sebenarnya tak ada istilah "puncak arus mudik" bagi moda transportasi kereta api?

Secara umum pun, jumlah penumpang kereta api di tiga wilayah di Indonesia (Jawa, Jabodetabek, dan Sumatra), tidak menunjukkan kecenderungan adanya puncak tahunan pada masa puasa atau Lebaran.

Data periode 2010-2017 yang digarap oleh tim Lokadata Beritagar.id menunjukkan hal tersebut. Setiap tahunnya jumlah penumpang kereta memang mengalami peningkatan, tetapi tak ada kenaikan angka yang bisa disebut sebagai sebuah lonjakan. Bahkan jumlah penumpangnya cenderung stabil.

Sejak 2015, kereta Jabodetabek mampu mengangkut sekitar 21-25 jutaan orang per bulan. Sedangkan kereta non-Jabodetabek angkanya bermain di 4-6 jutaan per bulan.

Sumatra pun tak jauh berbeda, baik di bulan-bulan biasa maupun puasa atau Lebaran, keretanya tercatat mengangkut 500-600 ribu penumpang per bulan.

Meski tak terlampau signifikan, tapi naiknya angka jumlah penumpang justru lebih besar pada masa penghujung tahun. Beberapa tahun terakhir, jumlah penumpang pada periode akhir tahun juga justru lebih tinggi ketimbang periode puasa-Lebaran.

Misalnya saja pada 2016, jumlah penumpang kereta api di Pulau Jawa non-Jabodetabek saat lebaran mencapai 6,64 juta orang. Sedangkan pada akhir tahun jumlahnya sekitar 6,68 juta penumpang.

Tahun berikutnya pun tak jauh berbeda. Jumlah penumpang saat lebaran yang mencapai 5,7 juga berhasil dikalahkan jumlah penumpang periode akhir tahun, yakni sebanyak 7 jutaan penumpang.

Komuter Jabodetabek pun bernasib sama. Setiap tahunnya kereta mengangkut penumpang dengan jumlah yang cenderung stabil setiap bulannya, yakni sekitar 21-25 juta jiwa. Angka yang signifikan terlihat mulai menanjak pada September yakni sekitar 28 juta, hingga Desember yang menyentuh angka 29 juta.

Meskipun demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, periode puasa-Lebaran ternyata pernah menyumbang kenaikan jumlah penumpang yang cukup signifikan, yakni pada 2012 untuk kereta Jabodetabek, 2010 untuk non-Jabodetabek, serta 2015 untuk kereta Sumatra.

Tahun ini di Sumatra, kereta yang yang memiliki jalur sepanjang 1.176 kilometer tersebut tercatat mampu meraup jumlah penumpang lebih banyak ketimbang tahun kemarin. Hanya saja penggunaannya masih dianggap belum maksimal bagi para pemudik karena jalurnya masih banyak terputus di beberapa titik.

Menurut Humas PT KAI Daop 7 Madiun, Supriyanto kepada Tempo.co, kenaikan jumlah yang terjadi pada akhir tahun bisa jadi disebabkan oleh libur anak sekolah yang bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru.

Libur yang lebih lama membuat lebih banyak orang memutuskan untuk menumpang kereta api dengan berbagai tujuan, baik yang pulang ke kampung halaman atau hanya untuk melancong menghabiskan masa rehat sambil merayakan pergantian tahun.

Jika demikian, dengan jumlah hari libur dan cuti bersama periode puasa-Lebaran yang lebih lama, bukan tak mungkin periode mudik 2018 mampu menyumbang angka pemudik yang sama banyaknya dengan di penghujung tahun nanti.

BACA JUGA