PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Kereta semi cepat Jakarta-Surabaya ditargetkan beroperasi 2022

Pekerja menyelesaikan konstruksi terowongan proyek kereta cepat Jakarta - Bandung  di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018).
Pekerja menyelesaikan konstruksi terowongan proyek kereta cepat Jakarta - Bandung di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018). | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Pembahasan mengenai pembangunan kereta semi cepat Jakarta-Surabaya sudah lebih maju. Proyek kolaborasi Indonesia dan Jepang ini ditargetkan mulai konstruksi pertengahan tahun depan. Penandatanganan perjanjian kerja sama (MoU) antara Indonesia-Jepang akan dilakukan setelah 17 Agustus 2019.

Proyek ini mendapat suntikan dana dari Badan Kerja Sama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA) sebesar Rp60 triliun. Pemerintah dan pihak JICA akan melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk memperhitungkan berbagai risiko teknik mulai tahun depan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memproyeksikan apabila konstruksi jalur bisa dilakukan pertengahan tahun depan, kereta itu diperkirakan mulai bisa beroperasi pada akhir 2022. Kementerian Perhubungan masih menyusun studi jalur dan prasarana penyokong sebelum mengeksekusi proyek kereta semi cepat.

"Kira-kira selesai dalam dua tahun. Sedangkan uji coba butuh waktu enam bulan. Jadi mungkin akhir (tahun) 2022 baru bisa operasi," ujar Budi Karya dilansir dari Medcom.id, Selasa (6/8/2019).

Konstruksi untuk pembangunan rel yang baru akan dilakukan pada lintas Jakarta-Semarang. Sementara lintas Semarang hingga Surabaya tetap menggunakan rel lama. Jarak lintasan kereta ini diperkirakan mencapai 720 kilo meter (km) dengan waktu tempuh 5,5 jam.

Kecepatan laju maksimal kereta ini diperkirakan mencapai 160 km per jam, dengan laju rata-rata 140-145 km per jam. Karena belum bisa menembus kecepatan 200 km per jam, kereta ini masih tergolong semi cepat. Pemerintah memutuskan pembangunan jalur baru dengan jenis rel sempit (narrow gauge) selebar 1,067 meter agar tidak mengganggu operasional kereta reguler.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri, mengatakan awalnya kereta kencang ini mau melintasi jalur yang ada sekarang (existing). Namun, jalur tersebut perlu direvitalisasi agar bisa dilintasi kereta cepat.

"Kereta yang sekarang ini kan tidak boleh berhenti, makanya kalau mau merevitalisasi jalur itu harus bangun temporary track. Ini kan sama saja bangun trek baru. Akhirnya kita putuskan buat jalur khusus untuk kereta cepat," terang Zulfikri.

Zulfikri mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan prastudi kelayakan dengan Jepang. Rencananya, ada 56 km jalur kereta kencang yang dibangun melayang (elevated).

"Di beberapa tempat ada 56 km elevated, dengan slab on pile (jembatan layang) seperti di Bandara Solo. Fly over atau underpass juga akan dibangun," papar dia.

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, meminta pemerintah selektif memilih teknologi proyek tersebut. "Jangan salah perhitungan mencari paket yang lebih hemat tapi mengorbankan kualitas," ujarnya dikutip dari Koran Tempo.

Proyek kereta cepat sudah digagas sejak era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dan mulai direalisasikan oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Studi kelayakan kereta canggih ini sempat dikerjakan pemerintah Indonesia dengan JICA pada 2015, dengan pertimbangan dua rute.

Proyek kereta semi cepat Jakarta-Surabaya menjadi satu dari 42 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tertahan di tahap persiapan. Alotnya pembahasan spesifikasi teknis dan survei kebutuhan prasarana membuat proyek ini tak kunjung dimulai.

Jepang telah lama menjadi satu di antara penanam modal terbesar di Indonesia. Namun, pada 2015, negeri itu seakan terpukul dengan keputusan Jokowi memilih Tiongkok untuk mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Konstruksi proyek tersebut sudah berjalan dengan 60 persen saham milik konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN, dan sisanya dipegang pemerintah Tiongkok, melalui China Railway International Co. Ltd.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR