BISNIS KEBENCIAN

Kesehatan jiwa Bos Saracen dan saksi yang mangkir

Aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) membentangkan poster yang berisi penolakan penyebaran berita bohong (hoax) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/1/2017)
Aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) membentangkan poster yang berisi penolakan penyebaran berita bohong (hoax) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/1/2017) | Yudhi Mahatma /Antara Foto

Hasil pemeriksaan psikologis terhadap pimpinan grup Saracen, JAS, menyatakan tidak terdapat tanda-tanda gangguan jiwa yang signifikan. Sementara tiga saksi baru yang akan diperiksa polisi, mangkir dengan beragam alasan.

JAS diperiksa kesehatan jiwanya lantaran tidak konsisten menjawab pertanyaan saat diperiksa penyidik. Pemeriksaan kesehatan dilakukan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, sejak 20 September 2017 lalu.

Hasilnya, ia dinyatakan mampu memahami risiko dari perbuatannya. Ia pun dikembalikan ke Rutan Bareskrim, Polri, sejak Kamis (28/9/2017). Proses observasi ini tidak dihitung sebagai masa kurungan, baru dihitung lagi setelah ia kembali ke sel. Penyidikan kasusnya akan dilanjutkan hingga seluruh berkas selesai diperiksa.

Dilansir Okezone, dokter Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, menyatakan hasil pemeriksaan Psikometri MMI menunjukkan tidak terdapat tanda-tanda gangguan jiwa yang signifikan. Penampilannya normal sebagai seorang Iaki-Iaki seusianya, perawatan diri baik, perilaku tenang, dan kooperatif terhadap pemeriksa.

Fungsi intelektualnya pun dalam batas normal. Mekanisme coping (menghadapi masalah) tampak adaptif, seperti menyatakan bahwa kasus yang menimpa dirinya merupakan teguran dari Allah, tidak menyalahkan pihak Iain, dan mengakui kesalahan dalam hal mengakses akun orang lain secara ilegal. Daya nilai realita juga dinilai tidak terganggu.

JAS bisa saja terbebas dari ancaman hukuman yang menjeratnya bila terbukti tidak sehat secara psikologis. Namun, bila terbukti berpura-pura "gila", maka ancaman hukumannya malah bisa lebih berat.

"Kalau dia strateginya mempersulit, ya bisa diperberat. Mempersulit ya, tidak kooperatif," tegas Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, yang dikutip Republika, Senin (2/10).

Penyidik Direktorat Siber Polri telah menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus penyebar konten ujaran kebencian lewat grup Saracen. Selain JAS, mereka adalah MFT, SRN, dan MAH. Polisi juga telah menetapkan Asma Dewi sebagai tersangka ujaran kebencian, namun perannya secara langsung dengan Saracen tengah diselidiki.

Berkas perkara SRN dan MFT telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Agung, sedangkan berkas JAS dan MAH masih diproses kepolisian.

Saksi-saksi lanjutan kasus Saracen

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap bendahara kelompok Saracen, MR alias RN, sebagai saksi pada Senin (2/10). Selain itu, polisi memanggil dua orang lainnya, DW dan RD, juga sebagai saksi.

Panggilan Senin lalu adalah panggilan kedua bagi RN, karena pada Rabu (27/9), ia juga sudah dipanggil tetapi tidak hadir tanpa keterangan. Dilaporkan Kontan, sebagai bendahara, RN diduga mengetahui soal aliran dana dari pihak luar ke kelompok Saracen.

Sedangkan dua saksi lainnya, diduga juga mengetahui aktivitas kelompok itu meski tak termasuk dalam struktur. Namun ketiganya, menurut lansiran Kompas.com, hingga Senin sore tidak hadir dengan alasan masing-masing.

Menurut Irjen Setyo Wasisto, salah satu saksi mengaku baru menerima surat panggilan sehingga meminta pemeriksaannya ditunda. Saksi berikutnya mengaku sakit diare dan sudah diminta menyerahkan surat keterangan sakit dari dokter. Sedangkan satu saksi lagi mengirim SMS, meminta penjadwalan ulang.

"Bendahara Saracen tidak datang, ia akan dipanggil paksa," kata Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar, dilansir Jawapos, Senin (2/10). Kepolisian berencana memanggil lagi RN pekan depan.

Menurut Irwan, keterangan RN penting didalami karena terkait dengan pendanaan kelompok Saracen. Polisi juga mengincar informasi dari tersangka Asma Dewi karena diketahui mentransfer uang Rp75 juta yang diteruskan ke bendahara Saracen--sebelumnya disebut berinisial D.

Penyidik Bareskrim Polri telah menerima Laporan Hasil Analisis (LHA) Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) seputar transaksi keuangan sindikat Saracen yang melibatkan belasan rekening. Dalam laporan itu, penyidik menemukan sejumlah nama-nama tokoh yang dikenal publik, namun belum satupun yang diungkap.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR