DAYA SAING GLOBAL

Kesiapan menghadapi Revolusi Industri 4.0 jadi ukuran daya saing

Seorang mahasiswa mencoba hasil penelitian sensor robot pemadam kebakaran dengan menyalakan korek api saat Pameran Hasil Penelitian Inovasi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (27/11/2018).
Seorang mahasiswa mencoba hasil penelitian sensor robot pemadam kebakaran dengan menyalakan korek api saat Pameran Hasil Penelitian Inovasi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (27/11/2018). | Aloysius Jarot Nugroho /Antara Foto

Indeks Daya Saing Global edisi terbaru yang dirilis World Economic Forum (WEF) pada 2018 lalu, menempatkan Indonesia di peringkat ke-45 dari 140 negara. Indeks terbaru ini menggambarkan kesiapan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang menuntut inovasi.

Indonesia dengan skor total 64,9 unggul dibandingkan Meksiko yang berada di posisi 46, Filipina (56), India (58), Turki (61), dan Brasil (72). Meski demikian, capaian Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand yang masing-masing menempati posisi kedua, ke-25, dan ke-38.

Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index 4.0 (GCI) edisi 2018 dengan metodologi baru dirilis oleh WEF di Jenewa, Swiss, pada Oktober tahun lalu. Indeks baru itu menyoroti serangkaian faktor-faktor penting dalam produktivitas menghadapi Revolusi Industri Keempat (4IR).

Perubahan itu mengantisipasi perubahan teknologi yang cepat, polarisasi politik, dan pemulihan ekonomi yang rapuh, sehingga sangat penting untuk mendefinisikan, menilai, dan mengimplementasikan "jalur baru menuju pertumbuhan dan kemakmuran".

"Indeks lama dan indeks baru ini ibarat apel dan jeruk. Indeks baru dibangun karena kita sudah belajar begitu banyak tentang apa yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan dalam jangka panjang," kata Saadia Zahidi, seorang anggota dewan pelaksana WEF seperti dikutip Reuters.

Pernyataan itu sekaligus menampik tudingan bahwa WEF semata-mata memuji kinerja Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Negeri Paman Sam itu dalam indeks terbaru menggeser dominasi Swiss selama sembilan tahun terakhir. Pergeseran itu tidak berarti Swiss lebih buruk, melainkan potret perubahan indikator dalam pengukuran.

GCI didefinisikan sebagai serangkaian institusi, kebijakan, dan faktor yang menentukan tingkat produktivitas. Perubahan dalam indeks GCI ini dilakukan keempat kalinya sejak pertama diluncurkan pada 1979. Perubahan kali ini, ingin merefleksikan pemahaman baru tentang daya saing pada era percepatan inovasi khususnya di era 4IR.

Sekitar 60 persen penilaian dari 98 indikator di antaranya mulai memasukkan kesiapan ekonomi pada masa datang, modal sosial, inovasi bisnis yang disruptif, atau penetrasi serta pendayagunaan internet. Intinya, memasukkan paradigma dalam 4IR.

"... pembangunan berbasis manufaktur yang telah mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan, khususnya di Asia, tak lagi bisa diharapkan pada masa mendatang. Masa depan adalah eranya teknologi baru, pekerjaan dengan keterampilan tingkat tinggi, yang membutuhkan pendekatan baru," tulis penjelasan WEF di situs resminya.

Terdapat empat sektor yang diukur dalam indeks terbaru, yakni Lingkungan Pendukung, Sumber Daya Manusia, Pasar, dan Ekosistem Inovasi. Di dalamnya dipecah lagi ke dalam 12 pilar yang masing-masing diukur lewat sejumlah indikator.

Pilar Harapan Hidup dengan ranking 95 dari 140 negara merupakan ranking terburuk Indonesia di antara pilar yang lain. Meski terus mengalami peningkatan sejak 1960--menurut catatan Bank Dunia 2016--rekor Indonesia masih di bawah rata-rata dunia, bahkan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Tertinggal dalam hal inovasi

Ranking Indonesia dalam GCI 2018 sebenarnya dua poin lebih baik bila perhitungan yang sama dilakukan pada 2017. Diuntungkan oleh besarnya pasar karena jumlah penduduk dengan skor 81,6 atau peringkat ke-8 dari 140 negara, Indonesia 20 poin lebih tinggi dibanding rata-rata capaian negara berpendapatan rendah-menengah.

Faktor ini, bila dikombinasikan dengan capaian pada pilar budaya kewirausahaan dan dinamika bisnis, bisa menguntungkan Indonesia pada masa mendatang. Namun, kemampuan inovasi yang masih rendah--dengan belanja riset hanya mencapai 0,1 persen dari GDP (Produk Domestik Bruto/PDB)--menjadi elemen penghambat.

Dalam GCI 2018, kemampuan inovasi Indonesia mencatat skor terendah--meski bukan yang terburuk. Dengan skor 37 di bidang kemampuan inovasi, Indonesia menempati ranking ke-68 dari 140 negara menurut 12 pilar baru dalam GCI 2018.

Kemampuan berinovasi mengukur kuantitas dan kualitas upaya penelitian dan pengembangan; menggambarkan bagaimana sebuah negara mendorong kolaborasi, konektivitas, kreativitas, keberagaman, dan penyatuan beragam visi; serta kemampuan dalam melahirkan ide-ide baru dalam produksi barang dan jasa.

Negara yang mampu melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru dan berkolaborasi antar-disiplin ilmu cenderung memiliki kapasitas yang baik dalam melahirkan ide yang inovatif atau bisnis model baru--elemen penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Khusus untuk urusan riset, Kementerian Perindustrian lewat inisiatif peta jalan “Making Indonesia 4.0” telah berkomitmen menganggarkan 2 persen dari PDB. Peningkatan porsi anggaran di bidang penelitian, pengembangan, desain, dan inovasi, diharapkan mendorong inisiatif penguasaan dan pengembangan teknologi pada masa datang.

Komitmen dalam riset, juga ditunjukkan lewat alokasi anggaran dalam APBN 2019. Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyebut pemerintah berfokus pada pengembangan riset dengan skema dana abadi beasiswa yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)--kini mengelola dana abadi beasiswa sebesar Rp55 triliun.

Pos Dana Abadi Penelitian sebesar Rp990 miliar tercantum dalam pasal 21 ayat 3 huruf b UU Nomor 12 Tahun 2018 tentang APBN 2019. Anggaran itu merupakan bagian dari Anggaran Pendidikan sebesar 20 persen APBN, atau Rp492 triliun.

Namun, patut dicatat bahwa ekosistem inovasi tak sekadar tentang anggaran penelitian dan pengembangan. WEF memeringatkan lemahnya pilar ini ditemukan di 77 dari 140 negara--bahkan di negara dengan budaya riset yang tinggi.

Keterbukaan dunia industri untuk menerima ide baru, juga faktor penting, yang membuat AS bercokol di puncak ranking GCI 2018. Dibutuhkan pula keberanian untuk mengambil risiko dalam mengadopsi gagasan, seperti di Israel; atau penyederhanaan hierarki perusahaan yang populer di Denmark, Swedia, dan negara Nordik lainnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR