PILPRES 2019

Ketangguhan suara di Jawa bagi Pilpres 2019

 
Simpatisan mengecat muka ketika mengikuti kampanye akbar yang dihadiri calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019).
Simpatisan mengecat muka ketika mengikuti kampanye akbar yang dihadiri calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019). | Wahyu Putro A /AntaraFoto

Sepekan jelang hari pemungutan suara, Kota Solo, Jawa Tengah, jadi incaran. Dua calon presiden, Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto, menggelar orasi politik secara bergantian di kota ini.

Stadion R. Maladi Sriwedari jadi saksi peralihan massa pendukung 01 dan 02 hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Jokowi memilih hari Selasa (8/4/2019) pukul 15.00 WIB, sementara Prabowo berorasi pada Rabu (9/4/2019) pukul 11.00 WIB.

Secara kasat mata, stadion tampak penuh saat dua agenda tadi. Iring-iringan pendukung dengan motor dan mobil yang membawa bendera berwajah calon presiden maupun partai koalisi ramai memadati jalan-jalan utama Kota Solo.

Jokowi memboyong Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, Prabowo menghadirkan Agus Harimurti Yudhoyono, putra pertama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo "SBY" Bambang Yudhoyono.

Dalam orasinya, Jokowi meminta perolehan suara di Jawa Tengah minimal 70 persen--naik dari 66 persen pada 2014--untuk 17 April nanti. Angka minimal itu menurutnya turut disumbangkan oleh perolehan suara di Kota Solo yang ditargetkan sebesar 90 persen, naik 84 persen pada 2014.

"Karena, tambahan persentase elektabilitas di Jawa Tengah akan kita pakai untuk menutup di tempat lain. Oleh sebab itu, kita harus bekerja keras," jelas Jokowi.

Sementara Prabowo tidak membicarakan target. Lagi, dirinya berorasi seputar kekayaan nasional yang ditudingnya lari ke luar negeri, alih-alih dinikmati rakyat sendiri.

Makanya, dia berjanji akan menghentikan aliran kekayaan nasional ke tangan “asing” tersebut. “Saya tidak gentar, saya tidak menyerah, saya tidak takluk, saya tidak akan berlutut. Lebih baik saya mati daripada menyerah kepada orang-orang itu,” kata Prabowo.

Meski tak menyebut target secara gamblang, Prabowo pada dasarnya sepakat dengan pernyataan Jokowi yang menyebut Jawa Tengah adalah provinsi penentu kemenangan pemilihan presiden.

Hal itu bisa dibuktikan dengan keputusan Badan Pemenangan Nasional (BPN) yang memindahkan markas utama pemenangan kubu mereka ke Solo, dekat dengan lokasi rivalnya.

Di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pertengahan Februari 2019, Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Fadli Zon sepakat menyebut Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur sebagai battle ground.

"Analoginya dalam kompetisi politik biasanya apabila ada satu daerah dikuasai lawan, maka kita berusaha untuk menguasainya dengan cara damai dan konstitusional. Salah satunya dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat," ucap Fadli ketika itu.

Merujuk hasil resmi rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilihan 2014, Prabowo hanya berhasil menguasai Jawa Barat. Sementara, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur menjadi milik Jokowi meski dengan selisih persentase yang kecil.

Secara terperinci, di Jawa Barat Prabowo berhasil meraih 59,78 persen dan Jokowi dengan 40,22 persen. Jawa Tengah, Jokowi dapat 66,65 persen dan Prabowo 33,35 persen. Yogyakarta, Jokowi dengan 55,81 persen dan Prabowo dengan 44,19 persen. Terakhir Jawa Timur, Jokowi dengan 53,17 persen dan Prabowo dengan 46,83 persen.

Suara Prabowo di Jawa juga sedikit terbantu dari Banten dengan perolehan untuk dirinya sebanyak 57,10 persen berbanding 42,9 persen untuk Jokowi. Sementara di DKI Jakarta, Jokowi memimpin dengan 53,08 persen dan Prabowo dengan 46,92 persen.

Peta pertarungan pada 2019 pun tak berbeda jauh dengan lima tahun sebelumnya. Tiga besar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) dikuasai berturut-turut oleh Jawa Barat (33,2 juta pemilih), Jawa Timur (30,9 juta), dan Jawa Tengah (27,8 juta). Oleh karenanya, perebutan suara di Pulau Jawa memang perlu dimaksimalkan.

Pertarungan cawapres

Dinamika politik selama lima tahun terakhir menjadi ganjalan utama bagi kubu Jokowi untuk mempertahankan suara.

Di sisa masa kampanye terbuka, Jokowi berupaya optimal dengan mendatangi beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat seperti Karawang, Sukabumi, Bandung, Depok, dan Pakansari (Cibinong).

Kendati berupaya mengalihkan suara Prabowo di Jawa Barat, Jokowi sebenarnya punya ganjalan yang tak mudah dalam mempertahankan suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyebut, ada beberapa titik di Jawa Timur yang sebenarnya tidak bisa dijamah oleh "Nahdlatul Ulama/NU".

"Ada beberapa zona yang kemasukan di luar NU . Kira-kira begitulah. Ide-ide baru seperti ide khilafah. Sedikit sih," kata pria yang akrab disapa Cak Imin ini.

Dalam mengikis ganjalan ini, Ma'ruf Amin pun digerakkan. Cak Imin mengakui, pendekatan agama adalah salah satu cara ampuh untuk mendekati kelompok-kelompok yang memiliki cara pandang berbeda dengan NU ini.

"Kita ambil kembali yang kecil-kecil atau di sudut-sudut tertentu yang masih dipengaruhi oleh mereka. Kita sudah siap melakukan penyisiran di seluruh wilayah Jatim. Itu kemudian yang kita konsolidasi," tukas Cak Imin.

Di kubu lawan, Sandiaga Uno juga digerakkan. Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Suhud Alynudin mengatakan, sosok cawapres turut mengambil peran penting dalam meningkatkan suara di Jawa.

Sandi memang sengaja lebih banyak hadir di tanah kelahiran Jokowi. Target utama mereka adalah undecided voters dan juga pemilih muda yang baru menggunakan suara mereka.

“Pemilih pemula di basis partai pendukung Jokowi-Ma’ruf itu masih berpotensi menjatuhkan pilihan yang berbeda dari masyarakat lainnya,” tukas Suhud dalam KOMPAS.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR