UNGKAPAN

Ketika Hari Valentin makin dianggap aneh

| Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Apa sih yang dimaksud budaya asing atau luar negeri? Dalam benak Mahin, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, JawaTimur, salah satu contohnya adalah Valentine's Day atau diindonesiakan saja menjadi Hari Valentin (HV).

Pekan lalu Mahin sudah menyiapkan surat edaran untuk para kepala sekolah agar melarang siswa merayakan HV. Tak secara jelas ia nyatakan alasannya selain jangan ikut-ikutan budaya luar negeri (h/t Surya.co.id).

Tahun-tahun sebelumnya kantor itu juga menerbitkan surat edaran menjelang 14 Februari, hari kasih sayang yang dirayakan banyak orang. Ketua Komisi IV DPRD Gresik, Khoirul Huda, mendukung pelarangan itu. Alasannya, "Apalagi konotasi Valentine banyak yang negatif ya."

Satpol PP bergerak

Sedangkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, wali kota Ibnu Sina tak hanya melarang perayaan HV namun juga akan mengerahkan satuan polisi pamong praja untuk mengawasi pelajar (h/t BanjarmasinPost.co.id). Alasan Ibu, HV adalah budaya Barat dan cenderung berdampak negatif.

Sudah tiga tahun kota itu melarang perayaan HV. Dan bulan ini pemkot menurunkan sejumlah spanduk promosi yang berhubungan dengan HV.

Adapun di Kudus, Jawa Tengah, SMP-SMA Kanisius tak melarang perayaan HV. Sekolah itu malah mengerahkan murid menanam seratus bibit pohon Tabebuya di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Tabebuya dari Brasil itu mirip sakura atau seruni Jepang.

Herry Christanto, wakil kepala SMP Kanisius, mengatakan, "Dua tiga tahun ke depan bisa dinikmati bunganya. Bisa menjadi ikon saat melintas di Jalan Yos Sudarso. Sekaligus menghias lingkungan bukan dengan yang artifisial, tapi yang alami."

Seks bebas dan kristenisasi

Begitulah, terdapat beragam sikap terhadap HV. Bahkan di sejumlah negeri Arab ada perayaan HV – lihat kartun.

Penolakan terhadap HV di Indonesia, seperti di Bogor, Jawa Barat, kemarin (13/2/2018), oleh Lembaga Dakwah Kampus, bukanlah hal baru.

Enam tahun lalu, Majelis Ulama Padang meminta kaum muda tak merayakan hari kasih sayang itu. Ketua MUI Padang, Duski Samad beralasan, HV bisa mengarah kepada seks bebas dan kemaksiatan (Hidayatullah.com, 14/2/2013).

Terhadap kontroversi HV, kolumnis Hasanudin Abdurakhman menanggapi di detikcom pekan ini dengan santai. Hari kasih sayang tak perlu dipertautan dengan seks bebas maupun atau kristenisasi. Seks bebas bisa terjadi kapan pun dan di mana pun. Kristenisasi? Tak semua kalangan Nasrani mendukung HV.

Sejak kapan menolak?

Sebagai gaya hidup, HV di Indonesia menyebar dari perkotaan. Gejala itu mulai terasa tahun 1970-an melalui kehadiran majalah remaja, misalnya Gadis yang saat itu penentu tren cewek. Lalu stasiun radio menggaungkannya. Maka kota-kota kecil pun mengenal HV.

Gelombang penolakan oleh sebagian kalangan mulai terasa pasca-Reformasi, awal 2000-an. Sejumlah sekolah melarangnya.

Akan tetapi jauh sebelum 2000, menurut Film Indonesia, film Valentine, Kasih Sayang Bagimu (Bobby Sandy, 1989) memuat "dialog pembelaan tentang hari Valentine, hari kasih sayang, yang entah bagaimana mulai dirayakan di Indonesia dengan bermacam acara dan cukup menimbulkan kontroversi dalam masyarakat".

Naskah film itu ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dan Hilman Hariwijaya. Arswendo saat itu adalah pemimpin redaksi majalah remaja pria Hai. Adapun Hilman adalah pemuda belasan tahun penulis Hai, antara lain serial Lupus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR