Ketika mayoritas warga Inggris sepakat bercerai dengan UE

Matahari terbit di atas Gedung Parlemen dan Big Ben, London, Inggris, Jumat (24/6/2016).
Matahari terbit di atas Gedung Parlemen dan Big Ben, London, Inggris, Jumat (24/6/2016). | Hannah McKay /EPA

Nyanyian dan teriakan riang "leave" terdengar bersahut-sahutan di sejumlah tempat di Inggris, Jumat (24/6/2016).

Teriakan terdengar lantang dari para pendukung Brexit, setelah hasil referendum menunjukkan 51,8 persen pemilih sepakat Inggris meninggalkan keanggotannya dalam konsorsium Uni Eropa (UE).

Meski Skotlandia, Irlandia Utara, dan sebagian kecil wilayah Wales sepakat Inggris tetap, namun perolehan ketiganya tak mampu menyaingi suara pemilih Inggris lainnya yang meyakini perceraian setelah 43 tahun bersama dengan UE.

Seperti yang dilaporkan dalam BBC.com, referendum diikuti oleh lebih dari 30 juta warga Inggris--jumlah pemilih terbesar dalam pemilihan Inggris sejak 1992.

Pemimpin Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP), Nigel Farage, menyebut hasil referendum ini sebagai "Hari Kemerdekaan" bagi Inggris. Inggris mungkin menjadi negara pertama yang keluar dari keanggotaan UE yang saat ini terdiri dari 28 blok negara.

Namun, hasil referendum hari ini tidak serta merta membuat langkah perceraian ini menjadi tuntas. Setidaknya Perdana Menteri Inggris harus segera menentukan kapan akan melaksanakan Pasal 50 Lisbon Treaty, yang mana akan memberi waktu Inggris dua tahun untuk bernegosiasi dengan keputusan mereka.

Ketika Pasal 50 dilaksanakan oleh negara anggota UE, maka negara itu tidak akan bisa bergabung lagi ke dalam konsorsium. Pasal 50 Lisbon Treaty berbunyi: "Siapapun anggota (UE) diizinkan untuk keluar dari perserikatan selama memenuhi persyaratan konstitusionalnya."

Cameron sebelumnya pernah mengatakan dirinya siap melaksanakan Pasal 50 secepat mungkin setelah hasil pemilihan keluar. Namun Boris Johnson dan Michael Gove, anggota konservatif kubu keluar, meminta Cameron untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Mereka juga sepakat untuk segera membuat perubahan sebelum Inggris benar-benar meninggalkan UE, seperti membatasi ruang gerak hakim-hakim UE dan imigran. Pemerintah Inggris juga perlu bernegosiasi mengenai masa depan hubungan perdagangan mereka dengan UE dan sejumlah perjanjian dagang dengan negara non-UE.

David Cameron mengundurkan diri

David Cameron, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris setelah kemenangan kubu keluar. Dalam pernyataannya, Cameron mengatakan ia akan resmi mundur pada sidang Partai Konservatif yang akan digelar Oktober mendatang.

Cameron memimpin Partai Konservatif selama hampir 11 tahun - waktu yang cukup lama di antara Stanley Baldwin, Lady Thatcher, dan Sir Winston Churchill. Saat Cameron masuk ke dalam bursa PM Inggris enam tahun lalu, ia ingin hadir sebagai sosok muda dengan pemikiran liberan terbuka, sosialis, dan juga modern.

"Saya mencintai negara ini dan merasa terhormat bisa melayaninya. Saya akan tetap melakukan apapun yang saya bisa di masa depan untuk membuat negara ini sukses," tutup Cameron dalam pernyataan pengunduran dirinya yang dilansir The Guardian.

Cameron menjadi orang pertama yang mengusung gerakan Britain Exit atau Brexit. Namun, Cameron berada di sisi seberangnya ketika harus memilih antara keluar atau bertahan dengan UE.

Cameron meyakini Inggris akan lebih baik jika tetap bertahan dalam UE. Namun hasil referendum hari ini menunjukkan mayoritas warga Inggris yang tidak sejalan dengan dirinya.

BBCmenulis, semua hal yang pernah dilakukannya selama enam tahun, Cameron selamanya akan dikenang sebagai Perdana Menteri yang membuat Inggris keluar dari Uni Eropa.

Mata uang dunia terguncang

Referendum tersebut tak hanya menjadi pemungutan paling dramatis yang pernah ada di Inggris saja, melainkan bagi dunia, terutama bursa dan pasar uang.

CNBCmencatat gejolak mata uang yang terjadi saat hasil referendum menunjukkan mayoritas penduduk Inggris menginginkan perceraian dengan UE. Berikut beberapa laporannya:

  • Mata uang Inggris, Poundsterling, jatuh 10 persen terhadap dolar AS dan 3,35 persen terhadap Euro
  • Bursa saham Jepang, Nikkei, turun 7,5 persen
  • Bursa Dow Jones turun 700 poin
  • Harga minyak dunia Brent dan WTI jatuh 5,8 persen
  • IHSG tercatat turun 2,28 persen pada pukul 12.30 WIB dari pembukaan
  • Saham-saham UE dibuka dengan 7,5 persen lebih rendah dari penutupan hari kemarin
  • Para investor mulai menjual aset-aset mereka di negara-negara tax haven

Gejolak ini belum ditanggapi oleh bank sentral Inggris. Namun, John McDonnell, salah satu konselor senior Inggris, meminta Bank of England untuk segera melakukan intervensi atas gejolak yang terjadi.

Kedudukan Inggris di UE

Inggris setidaknya harus mengeluarkan rata-ratanya 130 Poundsterling per orang setiap tahunnya sebagai ongkos keanggotaan bersama Uni Eropa. Ongkos yang dikeluarkan Inggris tersebut berkontribusi sebesar 12 persen terhadap anggaran UE.

Oleh UE, kontribusi Inggris itu akan digunakan sebagai subsidi untuk petani dan orang miskin di area-area pelosok Inggris seperti Wales dan Cornwall. Secara total UE memberikan dana sebesar 8,5 miliar Poundsterling setiap tahunnya, atau sekitar 350 juta Poundsterling per minggu.

Bagi kubu keluar, uang yang dikeluarkan UE untuk Inggris tidak sebanding dengan ongkos yang sudah dikeluarkan oleh Inggris.

Tapi, apakah defisit yang dialami Inggris dari UE membuat negara asal mendiang Putri Diana ini terancam? Tidak juga, jauh sebelum bergabung dengan UE di tahun 1973, ekonomi Inggris relatif baik, bahkan jauh lebih baik dari negara UE lainnya, seperti Jerman, Perancis, dan Italia, bahkan dari Amerika Serikat.

Namun, meski ekonomi Inggris relatif baik, banyak ekonom yang sepakat kepergian Inggris dari UE akan membawa dampak negatif bagi Inggris dan UE sendiri.

Uni Eropa adalah perserikatan ekonomi dan politik dari 28 negara yang berada di kawasan Benua Eropa yang menyumbang sedikitnya 24 persen dari produk domestik bruto global.

Meski Inggris bergabung dengan UE, negara ini tidak termasuk ke dalam Eurozone, atau negara anggota yang mengadopsi Euro sebagai mata uangnya. Inggris tetap menggunakan Poundsterling sebagai mata uangnya

Inggris juga tidak termasuk ke dalam Schengen Area, atau negara-negara anggota yang memberlakukan visa tunggal sebagai bentuk kerja sama non-perbatasan. Inggris juga tidak termasuk dalam anggota EFTA, perjanjian perdagangan bebas Eropa.

Inggris hanya terikat dalam EEA (European Economic Area) atau kerja sama pertukaran orang, pelayanan, barang, dan modal dalam pasar UE internal.

Catatan redaksi : artikel ini telah diperbarui dengan menambahkan keterangan pengunduran diri Perdana Menteri Inggris, David Cameron, pada 15.41 WIB
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR