DAYA BELI

Ketimbang konsumsi, masyarakat pilih piknik dan menabung

Pekerja membangun wahana bermain di area Pasar Malam Perayaan Sekaten 2017 di Alun-Alun Utara, DI Yogyakarta, Jumat (27/10). Daya beli kalangan menengah bawah turut menyumbang pelemahan konsumsi.
Pekerja membangun wahana bermain di area Pasar Malam Perayaan Sekaten 2017 di Alun-Alun Utara, DI Yogyakarta, Jumat (27/10). Daya beli kalangan menengah bawah turut menyumbang pelemahan konsumsi. | Hendra Nurdiyansyah /Antara Foto

Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan adanya peralihan konsumsi di masyarakat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kalangan usia produktif kini lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman ketimbang memiliki barang.

Keberadaan media sosial, di mana orang-orang bisa menunjukkan pengalamannya, menurut Suhariyanto, sangat mempengaruhi pergeseran konsumsi.

"Hasilnya, konsumsi untuk leisure meningkat, namun konsumsi masyarakat di barang-barang kebutuhan biasa melemah," ujarnya di kantor BPS, Senin (6/11/2017) seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Suhariyanto menjelaskan, konsumsi rumah tangga di kuartal III 2017 tercatat hanya tumbuh 4,93 persen secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini lebih rendah jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 4,99 persen.

Pelemahan konsumsi terjadi pada barang-barang konsumsi, seperti makanan dan minuman yang turun dari 5,01 persen menjadi 4,93 persen. Konsumsi pakaian juga turun dari 2,24 persen menjadi 2 persen.

Sedangkan konsumsi untuk mengisi waktu luang (leisure) justru tumbuh. Misalnya, konsumsi restoran dan hotel yang tumbuh dari 5,01 persen menjadi 5,52 persen. Selain itu, pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi juga tercatat tumbuh ke posisi 5,86 persen.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan, perlambatan konsumsi hingga kuartal ketiga ini bukan karena pelemahan daya beli. Menurut dia, pola konsumsi masyarakat tengah bergeser. "Tidak ada urusan daya beli," ujarnya di kantor Kementerian Perdagangan, Senin (6/11/2017).

Enggartiasto menilai pola konsumsi masyarakat sedang beralih. Masyarakat lebih senang membelanjakan uangnya pada kesenangan (leisure). Sementara, kaum milenial juga mulai beralih pada toko daring (online).

Meski beberapa perusahaan ritel menutup beberapa gerainya, buktinya laporan keuangan perusahaan juga masih menunjukkan tren positif.

Kalangan pengusaha terbelah dalam menyikapi soal melemahnya konsumsi.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani selaras dengan Enggartiasto. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat beralih, dari makanan, minuman, dan pakaian ke kebutuhan kesenangan (leisure). Efeknya, pertumbuhan permintaan ritel melambat.

"Konsumen sekarang membeli makanan dengan jumlah diperkecil, lebih mengurangi membeli dalam jumlah besar. Kemudian, uangnya leisure dan senang-senang," katanya seperti dikutip CNN Indonesia, Selasa (7/11/2017).

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang tidak yakin daya beli turun. Menurutnya, industri manufaktur terus tumbuh. Welirang mengutip data Kementerian Perindustrian yang menunjukkan industri manufaktur skala menengah dan besar tumbuh 5,51 persen. Sedangkan untuk skala mikro dan kecil tumbuh 5,34 persen.

Soal mulai sepinya mal dan pusat perbelanjaan, menurutnya karena tak ada segmentasi pasar yang jelas. "Kalau dia (mal) upper (kelas atas) ya upper saja, jangan dicampur, jadi tidak jelas begitu loh," kata dia, seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Namun menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Haryadi Sukamdani, turunnya konsumsi rumah tangga perlu disikapi apa sebabnya. Jika pemerintah tak ingin disebut penyebabnya adalah pelemahan daya beli, sebaiknya diteliti penyebabnya. "Tapi kalau konsumsi turun bisa disimpulkan sendiri, kan pasti memang ada masalah daya beli," ujar Hariyadi.

Kepala Ekonom PT BTN Tbk, Winang Budoyo dalam risetnya yang dikutip detikFinance, Selasa (7/11/2017) menilai pada dasarnya penurunan daya beli dan peralihan konsumsi sedang terjadi di Indonesia.

Winang menjelaskan, penurunan daya beli dialami oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah seiring dengan turunnya penghasilan riil.

Sedang kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang terjadi adalah kombinasi antara menunda konsumsi dan menabung. Hal ini karena turunnya kepercayaan mereka untuk melakukan konsumsi di tengah kondisi ekonomi yang dianggap masih belum menentu.

Walau kondisinya mirip, namun imbas yang ditimbulkan kedua kelompok itu berbeda. Menurut BPS, kontribusi kelas bawah terhadap ekonomi nasional hanya sekitar 17 persen, sedangkan kelas menengah sebesar 36 persen, dan kelas atas sekitar 46 persen. Sehingga kondisi ekonomi lebih banyak dipengaruhi oleh kalangan menengah ke atas.

Survei Konsumen yang dihelat Bank Indonesia untuk rentang waktu Oktober 2017 menemukan, porsi pengeluaran untuk konsumsi turun dari 66,4 persen menjadi 65,7 persen dari penghasilan. Porsi buat bayar utang atau cicilan juga turun dari 14,4 persen menjadi 14,1 persen. Sedangkan porsi tabungan naik dari 19,2 persen menjadi 20,2 persen.

Grafik komposisi pengeluaran pendapatan rumah tangga.
Grafik komposisi pengeluaran pendapatan rumah tangga. | Istimewa /Bank Indonesia

Bahkan para konsumen itu juga akan mengurangi konsumsi mereka dalam 3 bulan ke depan. Penurunan konsumsi diperkirakan akan terjadi pada kelompok nonmakanan.

Untuk tabungan, konsumen memperkirakan akan menambah porsi tabungan dan pembayaran cicilan dalam 6 bulan ke depan.

Grafik perkiraan pengeluaran konsumsi rumah tangga 3 bulan mendatang
Grafik perkiraan pengeluaran konsumsi rumah tangga 3 bulan mendatang | Istimewa /Bank Indonesia

Hingga Agustus lalu, duit yang disimpan di bank cenderung meningkat dibanding bulan sebelumnya. Pada bulan itu, total duit nasabah yang dihimpun bank mencapai Rp4.924,2 triliun. Yang terpecah dalam bentuk tabungan mencapai Rp1.561,8 triliun, giro sebesar Rp1.073,1 triliun, dan deposito Rp2.289,3 triliun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR