SOROTAN MEDIA

Kewenangan KPK dari penyadapan sampai penuntutan diamputasi

Ketua KPK Agus Rahardjo: KPK di ujung tanduk.
Ketua KPK Agus Rahardjo: KPK di ujung tanduk. | Putra Haryo Kurniawan/wsj / ANTARA FOTO

Penolakan terhadap keputusan DPR berinisiatif merevisi UU No.30/2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, mulai disuarakan baik oleh akademisi maupun para penggiat antikorupsi.

Alasan penolakan karena, revisi yang dinarasikan oleh DPR untuk memperkuat KPK, namun kenyataannya malah sebaliknya: melemahkan KPK. Bahkan KPK ibarat berada di ujung tanduk.

Ketua KPK Agus Rahardjo menjelaskan 9 butir draf revisi UU KPK yang akan mengamputasi kewenangan lembaga antirasuah itu.

Ringkasan

  • KPK dijadikan lembaga pemerintah Pusat, di bawah presiden, dengan begitu KPK tidak lagi disebut sebagai lembaga Independen.
  • Penyadapan hanya dapat dilakukan setelah ada izin dari Dewan Pengawas. Sementara itu, Dewan Pengawas dipilih oleh DPR dan menyampaikan laporannya pada DPR setiap tahunnya.
  • Dewan Pengawas menambah panjang birokrasi penanganan perkara karena sejumlah kebutuhan penanganan perkara harus izin Dewan Pengawas, seperti: penyadapan, penggeledahan dan penyitaan.
  • Penyelidik KPK hanya berasal dari Polri, sedangkan penyidik KPK berasal dari Polri dan PPNS. Ini bertentangan dengan keputusan MK yang memperbolehkan KPK merekrut penyelidik dan penyidik sendiri.
  • KPK harus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung dalam melakukan penuntutan korupsi. Selain memperpanjang birokrasi KPK bulan lagi menjadi lembaga independen.
  • Ketentuan di Pasal 11 huruf b UU KPK yaitu: mendapat perhatian dan meresahkan masyarakat dihapuskan. Ini membatasi tindak korupsi yang bisa ditanda tangani KPK.
  • Kewenangan strategis seperti: Pelarangan ke luar negeri, Meminta keterangan perbankan, Menghentikan transaksi keuangan yang terkait korupsi, Meminta bantuan Polri dan Interpol dihapuskan.
  • Kewenangan mengelola pelaporan LHKPN hanya bersifat supervisi. LHKPN dilakukan di masing-masing instansi,

Sebaran Media

Jumlah sebaran pada Media Daring terbanyak diraih oleh republika.co.id dan antaranews.com dengan 5 pemberitaan, diikuti peringkat kedua detik.com dengan 3 pemberitaan.

Jumlah berita per media
Jumlah berita per media | Robotorial /Content Analysis

Sebaran Linimasa

Sebaran topik mulai muncul sejak pukul 00:00 hingga 10:00 WIB, dan mencapai puncak pemberitaan pada pukul 10:00 WIB dengan total 8 pemberitaan.

Jumlah berita per jam
Jumlah berita per jam | Robotorial /Content Analysis

Sebaran Facebook

Jumlah interaksi pada media sosial Facebook terbanyak diraih oleh viva.co.id dengan 938 interaksi, diikuti peringkat kedua detik.com dengan 38 interaksi. Selanjutnya liputan6.com dengan 35 interaksi pada peringkat ketiga.

Jumlah berita media di Facebook
Jumlah berita media di Facebook | Robotorial /https://www.sharedcount.com/

Sumber

Catatan Redaksi: Teks dan gambar dalam artikel ini diolah secara otomatis oleh program komputer. Penerbitannya melalui moderasi editor.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR