Keyakinan generasi milenial terhadap pemerintah Jokowi dan masa depannya

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas tentang optimalisasi lapangan kerja di desa (padat karya) di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (3/11).
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas tentang optimalisasi lapangan kerja di desa (padat karya) di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (3/11). | Rosa Panggabean /Antara Foto

Hasil survei lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan mayoritas generasi milenial saat ini optimistis terhadap pemerintahan Jokowi Widodo. Generasi berusia 17-29 tahun ini optimistis terhadap kemampuan pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan.

CSIS merilis hasil sigi bertajuk "Ada Apa dengan Milenial? Orientasi Ekonomi, Sosial dan Politik Generasi Milenial", di Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Survei nasional CSIS dilakukan pada periode 23 hingga 30 Agustus 2017 terhadap 600 sampel di seluruh Indonesia dengan rentang usia 17 sampai 29 tahun. Sebagai pembanding, CSIS juga melakukan survei terhadap 851 responden berusia di atas 30 tahun pada periode yang sama.

Hasil survei memperlihatkan 75, 3 persen generasi milenial optimistis bahwa pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Optimisme lebih besar diperlihatkan responden berusia di atas 30 tahun, 77,8 persen.

"Tingkat optimisme generasi milenial terhadap kemampuan pemerintah masih cukup tinggi," ujar peneliti CSIS Yose Rizal.

Selain kemampuan kemampuan meningkatkan kesejahteraan, generasi milenial juga optimistis pemerintah dapat meningkatkan pembangunan. Ada 82,5 persen generasi milenial menyatakan optimistis dan non generasi milenial 83,8 persen.

Generasi milenial pun menyatakan optimistis dalam menatap masa masa depan. Ada 94,8 persen yang menyatakan optimistis dengan masa depan kehidupan mereka. Angka itu sama dengan optimisme dari responden berusia di atas 30 tahun.

Dalam menjalani kehidupan, 91,2 persen generasi milenial ternyata mengaku merasa bahagia. Hanya 8,2 persen yang mengaku tidak bahagia dan sisanya 0,7 persen tidak menjawab.

Responden berusia di atas 30 tahun pun sebagian besar menyatakan bahagia meski persentasenya lebih kecil ketimbang generasi milenial. Ada 89,3 persen generasi non-milenial menyatakan bahagia; 9,4 persen tidak bahagia; sisanya 1,3 tidak menjawab.

Meski ada nada optimistis dari generasi milenial, pemerintah masih punya pekerjaan rumah di bidang ekonomi.

Generasi milenial menganggap ekonomi nasional saat ini dibandingkan dengan lima tahun lalu tidak banyak berubah (33,8 persen), bahkan ada yang menyatakan buruk (17 persen). Adapun yang menyatakan lebih baik 47,8 persen.

Generasi milenial merasakan kesulitan utama yang sedang dihadapinya adalah terbatasnya lapangan pekerjaan.

Persoalan lain adalah tingginya harga sembako; tingginya angka kemiskinan; pelayanan dan biaya kesehatan mahal; pelayanan dan kualitas pendidikan yang buruk; tingginya ketimpangan antara yang kaya dan miskin; pungutan liar; serta rendahnya daya beli.

Hasil survei  lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Jumat (3/11/2017)
Hasil survei lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Jumat (3/11/2017) | beritagar.id /CSIS

Generasi milenial lahir dan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Sejak kelahirannya, generasi ini sudah akrab dengan teknologi dan gawai canggih. Mereka mampu melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia maya dalam satu waktu.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memproyeksikan Indonesia memiliki penduduk sekitar 305,6 juta jiwa pada 2035. Dari jumlah tersebut, sekitar 68,1 persen (207,8 juta) adalah penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Dengan asumsi usia paling produktif adalah 25-40 tahun, artinya mereka yang lahir pada rentang 1995-2010 menjadi tulang punggung bonus demografi pada 2035.

Survei terhadap generasi milenial pernah diluncurkan lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) pada 16 Agustus 2017.

Lembaga Survei KedaiKOPI melakukan survei dilakukan terhadap 200 responden kelahiran 1995-2010 atau berusia maksimal 22 tahun di Jakarta. Responden dipilih dengan cara acak bertingkat (ratified random sampling) di 12 Sekolah dan 3 Universitas di DKI Jakarta. Wawancara tatap muka dilakukan pada 7-8 Agustus 2017.

Sebanyak 68 persen menyatakan puas pada kinerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan 32 persen menyatakan tidak puas.

Generasi Z menyatakan puas karena menganggap pembangunan infrastruktur berjalan dengan sangat cepat. Mereka juga menganggap Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya dan telah berubah ke arah positif.

Adapun responden yang merasa tidak puas menyebutkan sejumlah alasan di antaranya belum melihat perubahan, harga mahal, masih banyak rakyat miskin, serta korupsi dan narkoba yang merajalela.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR