MENJELANG PILPRES 2019

Kiai NU bela Mahfud MD

Foto siluet menunjukkan Mahduf MD tengah bersiap menyampaikan orasi kebangsaan di Sanggar Prativi Building, Jakarta, Selasa (31/7/2018). Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini gagal menjadi cawapres.
Foto siluet menunjukkan Mahduf MD tengah bersiap menyampaikan orasi kebangsaan di Sanggar Prativi Building, Jakarta, Selasa (31/7/2018). Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini gagal menjadi cawapres. | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Ngasinan Kediri, Kiai Anwar Iskandar, meminta Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj bijak dalam berkomentar. Pernyataan Said Agil yang menyebut Mahfud MD bukan kader NU dianggap telah mencederai Nahdliyin.

Kiai Anwar menegaskan hingga saat ini Mahfud masih tercatat sebagai Dewan Pembina Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU). Bahkan masyarakat luas juga telah mengetahui dedikasi dan pengabdian Mahfud MD kepada organisasi ini.

"Pak Mahfud sampai sekarang masih ketua ISNU. Kok bisa disebut bukan NU," kata Kiai Anwar kepada Beritagar.id, Rabu (15/8/2018).

Pernyataan Said Agil yang mengidentifikasi status seseorang sebagai kader NU atau bukan berdasarkan jabatan organisasi, dinilai Kiai Anwar, sangat tak masuk akal. Sebab tak semua jamiyah NU memiliki kesempatan menjadi pengurus organisasi NU dan badan otonomnya seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Bahkan Kiai Anwar mengaku tak pernah duduk dalam struktural NU. Namun semua orang tahu jika dirinya seorang Nahdliyin. Demikian pula Mahfud.

Kiai sepuh NU ini khawatir apabila pemikiran Said Agil tersebut terus dikembangkan, akan menghambat pertumbuhan organisasi NU sendiri. Sebab faktanya, sulit mencari orang pintar yang memiliki intelektual seperti Mahfud di kalangan NU saat ini.

"Mestinya orang seperti Pak Mahfud ini kan dihargai, dirawat, bukan malah dicederai dan tak dianggap bagian dari NU,” kritik Kiai Anwar.

Ia pun berharap kepentingan politik NU yang saat ini dijalankan tak mencederai siapapun, termasuk kader NU. Said Agil juga diminta memperbaiki komunikasi dengan Mahfud, dan memberikan tempat terhormat kepadanya sebagai negarawan NU.

Sikap Kiai Anwar itu disampaikan untuk merespons pernyataan Said Aqil yang menyebut Mahfud MD bukan kader NU pada Rabu (8/8) silam. Mahfud disebut belum pernah menjabat sebagai pengurus organisasi yang berafiliasi dengan NU seperti PMII atau IPNU. Said Agil juga mengatakan kedekatan Mahfud dengan NU hanya sebatas kultural.

Pernyataan itu berkaitan dengan kesempatan menjadi calon wakil presiden (cawapres). Joko Widodo sebagai calon presiden petahana memilih Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres ketimbang Mahfud pada detik terakhir, Jumat (10/8).

Kiai Anwar pun kecewa, tapi ia tetap mendukung pencalonan Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres. "Sebagai sesama kiai, tentu menjadi kewajiban moral untuk membantu," katanya.

Namun dia juga meminta Ma'ruf Amin untuk menanggalkan jabatannya sebagai Rais Aam PBNU. Selain menjadi aturan organisasi, hal itu akan menjadi contoh bagi kader NU lain yang hendak mengikuti kontestasi pemilu.

Netralitas organisasi NU harus tetap dijaga agar tak dimanfaatkan untuk kepentingan praktis. Kiai Anwar Iskandar menegaskan sikap Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa yang tak mau melepas jabatan saat mengikuti pemilihan gubernur Jawa Timur tak boleh diulang. Hal itu bukan pembelajaran yang baik dalam berorganisasi.

"Kiai Ma'ruf harus melepas jabatan di NU. Termasuk banomnya (badan otonom), jangan seperti Ketua Muslimat," sindir Kiai Anwar.

Di sisi lain, pencalonan Kiai Ma'ruf didukung para kader muda NU. Ketua Umum Pagar Nusa, Emha Nabil Haroen, memastikan Kiai Ma'ruf bisa diterima kaum milenial.

"Kiai Ma'ruf itu dikenal sebagai ulama zaman now di kalangan muda NU," kata Nabil.

Ia pun menjelaskan saat ini telah banyak gerakan akar rumput di kalangan Nahdliyin yang mengorganisir diri untuk pemenangan pilpres mendatang. "Sejumlah anak muda NU di beberapa daerah sudah berkoordinasi dengan saya untuk membentuk relawan," tutur Nabil.

Selain kader Pagar Nusa, gerakan ini juga dilakukan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di berbagai daerah. Kemunculan sosok Ma'ruf dinilai sangat tepat sebagai figur kiai Nahdlatul Ulama yang bisa mempersatukan bangsa.

Nabil juga menampik tudingan yang menyebut rendahnya elektabilitas Ma'ruf Amin di kelompok milenial. Menurut dia, Kiai Ma'ruf justru dikenal sangat terbuka dan dialogis dengan anak muda di kalangan NU.

"Beliau selalu membuka akses komunikasi dengan anak muda NU yang ingin bertemu, beliau kiai zaman now," kata Nabil.

Meski tak bermain media sosial, pemikiran Ma'ruf sangat terbuka dengan isu kekinian dan tak menolak kritik kepadanya. Sikap ini justru berbanding terbalik dengan sejumlah ulama atau ustaz yang aktif bermedsos tetapi justru antikritik jika kepentingannya diserang.

Karena itu Nabil sangat optimistis bahwa Ma'ruf akan mendapat tempat lapang di kalangan anak muda NU sebagai pemimpin masa depan. Apalagi pencalonannya telah menuai dukungan secara penuh dari warga Nahdliyin di seluruh tanah air.

Meski demikian Nabil menegaskan organisasi Pagar Nusa tidak akan masuk ke wilayah praktis sebagai mesin pemenangan Jokowi. Namun, dia tak akan melarang anggota Pagar Nusa untuk melakukan aksi dukungan memenangkan kiai mereka.

"Sudah sewajarnya jika kader NU akan mendukung kiai mereka dalam pilpres mendatang,” kata alumnus santri Lirboyo Kediri ini.

Dia juga memastikan jika Kiai Ma'ruf akan mengikuti mekanisme organisasi untuk meletakkan jabatannya sebagai Rais Am PBNU. Hal itu sudah menjadi aturan AD/ART NU yang tak perlu lagi diperdebatkan.

"Kiai Ma'ruf sudah pasti akan mundur dari jabatannya, tak perlu dipertanyakan lagi," kata Nabil tegas.

BACA JUGA