KEPOLISIAN

Kirim miras ke mahasiswa Papua, polwan dicopot dari jabatan

Foto ilustrasi. Massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua Jawa-Bali melakukan aksi unjuk rasa damai di Depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019).
Foto ilustrasi. Massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua Jawa-Bali melakukan aksi unjuk rasa damai di Depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019). | Novrian Arbi /Antara Foto

Seorang polisi wanita (polwan) bernama Komisaris Sarce Christiaty dicopot dari jabatannya sebagai Kapolsek Sukajadi, Bandung, Jawa Barat (Jabar). Keputusan itu diambil karena Sarce memberi dua kardus minuman keras (miras) kepada para mahasiswa asal Papua.

Keputusan pencopotan atau nonaktif dilakukan oleh Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi. Rudy enggan menjelaskan apa sanksi lain bagi Sarce dan meminta maaf kepada para mahasiswa asal Papua.

"Saya mohon maaf ke mahasiswa Papua atas kejadian yang diduga anggota saya mengirim minuman ke rekan-rekan," katanya dalam CNN Indonesia, Jumat (23/8/2019).

Sarce diketahui mengirim dua kardus miras ke asrama mahasiswa Papua di Bandung pada Kamis (22/8). Saat pengiriman terjadi, para mahasiswa tengah berunjuk rasa memprotes aksi rasisme di berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur di depan Gedung Sate, Bandung.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Jabar, Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, mengatakan tindakan pengiriman dua kardus miras bermerek Topi Koboi itu lantaran hubungan emosional.

Dilansir IDN Times, Trunoyudo mengatakan bahwa Sarce berasal dari Indonesia timur sehingga ada perasaan sesama perantau terhadap para mahasiswa asal Papua. "Jadi, kami ingin menyampaikan bahwa ini bersifat pribadi. Hubungan emosional saudari Sarce pada warga Papua," ujar Trunoyudo.

Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Papua Bandung, Abraham Kossay, menjelaskan paket miras dikirim pada Kamis (22/8) sekitar pukul 13.00 WIB. Miras itu diantar langsung oleh Sarce yang mengenakan seragam dinas kepolisian.

Menurut Abraham, Sarce berpesan agar pengiriman itu tidak usah dikabarkan ke siapapun. "Ketika mengantar, 'Ini buat adik-adik setelah pulang aksi kalian minum buat malam istirahat'," kata Abraham.

Namun, para mahasiswa yang masih berada di asrama membawa paket miras itu lokasi aksi unjuk rasa. Mereka menolak dan mengembalikannya ke aparat, di sini lah tindakan Sarce diketahui Polres Bandung dan Polda Jabar.

Sarce pun berada di lokasi aksi. Sementara Miles, koordinator lapangan aksi unjuk rasa mahasiswa asal Papua, mengatakan bahwa tindakan pengiriman paket miras adalah sebuah penghinaan dan menegaskan stigma bahwa orang Papua adalah pemabuk.

Sarce dalam keterangan di lapangan menegaskan bahwa minuman itu tidak beralkohol. Namun, di kemasan minuman tertera kandungan alkohol 19 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR