BURUH MIGRAN

Kisah Parinah, 18 tahun tanpa gaji dan komunikasi

Parsin anak kedua dari Parinah, TKW Indonesia yang telah hilang selama 18 tahun, menunjukan foto ibunya beserta surat terakhir ibunya yang meminta bantuan untuk dipulangkan dari Inggris, di rumahnya di Desa Petarangan, Kemranjen, Banyumas, Senin (9/4/2018).
Parsin anak kedua dari Parinah, TKW Indonesia yang telah hilang selama 18 tahun, menunjukan foto ibunya beserta surat terakhir ibunya yang meminta bantuan untuk dipulangkan dari Inggris, di rumahnya di Desa Petarangan, Kemranjen, Banyumas, Senin (9/4/2018). | Idhad Zakaria /ANTARAFOTO

Perasaan Parinah bercampur aduk saat tahu dirinya bisa pulang ke Tanah Air.

Buruh migran asal Banyumas, Jawa Tengah, itu senang karena akhirnya bisa bertemu dengan dua putranya setelah 18 tahun terpisah.

Tapi Parinah (50) juga sedih, karena harus pulang dengan tangan kosong tanpa membawa sepeser pun uang dari hasil kerjanya selama itu.

"Keadaan saya baik. Alhamdulillah saya sekarang di KBRI, tapi tidurnya di rumah kos-kosan. Senang sih senang kalau ketemu keluarga. Senang tapi tidak punya uang kalau pulang," ucap Parinah dalam detikcom, Senin (9/4/2018).

Parinah bekerja dengan keluarga Ali Abdullah dan Fatiah yang berkewarganegaraan Mesir, di Arab Saudi sejak tahun 1999. Komunikasi Parinah dengan keluarganya selama di Arab Saudi terbilang normal.

Namun sejak diboyong majikannya ke Inggris pada 28 Mei 2001, Parinah menjadi sulit melakukan kontak dengan keluarganya di kampung.

Selama bekerja, Parinah tak pernah menerima perlakuan kasar dari majikannya. Hanya saja, selama 18 tahun mengabdi, Parinah baru sekali saja diberi uang.

"Dikasih uang untuk kirim (ke keluarga) 1.000 Poundsterling, tapi lupa tahun berapa. Setelah itu tidak terima lagi," ceritanya dalam sambungan percakapan video dengan putra keduanya, Parsin (33), yang dikutip ANTARA.

Si majikan terus mengelak setiap Parinah menagih upahnya. Alasan yang paling sering diucap majikannya adalah semua upah Parinah disimpan dalam bank supaya menjadi tabungan untuk masa tua.

Pengelakan yang sama juga terjadi ketika Parinah menyampaikan keinginannya untuk pulang ke Indonesia. "Mereka selalu bilang, nanti saja," sambungnya.

Selama di Inggris, Parinah tidak pernah diizinkan keluar rumah tanpa didampingi salah satu anggota keluarganya.

Mengutip lansiran ANTARA yang lain, laporan keberadaan Parinah pertama kali diketahui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, Inggris, pada 1 Maret 2018. Laporan itu merujuk pada dua surat yang dikirimkan Parinah ke KBRI tertanggal 5 Maret 2005 dan 28 Januari 2018.

Berselang dua minggu setelah KBRI menerima laporan, Parsin mendatangi kantor Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi, dan UKM Kabupaten Banyumas untuk melaporkan ibunya yang terakhir kali mengirim kabar pada 2004 itu.

Dalam laporan Republika (h/t ANTARA), Parsin mengaku sudah berupaya mencari tahu keberadaan ibunya, namun tak pernah benar-benar sampai membuat laporan resmi ke otoritas terkait.

Disnakertrans Banyumas kemudian menyampaikan laporan Parsin kepada Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Luar Negeri. Selanjutnya, KBRI di London bekerja sama dengan Kepolisian Brighton, Sussex, untuk menjemput Parinah di rumah majikannya.

Setelah berhasil menjemput Parinah, Kepolisian Brighton menahan pasangan suami-istri beserta dua anak majikannya atas dugaan tindak perbudakan modern.

Di Inggris, segala macam bentuk perbudakan modern adalah kejahatan yang serius. Hal itu dikuatkan dalam Akta Perbudakan Modern (Modern Slavery Act) yang disahkan pada 2015.

Kepolisian Brighton pun berjanji akan terus berkoordinasi dengan KBRI London terkait perkembangan kasus yang menjerat majikan Parinah itu.

Parinah kemungkinan besar akan dipanggil lagi ke London untuk menjadi saksi di pengadilan majikannya nanti.

Sesuai jadwal penerbangan, Parinah direncanakan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, pada Rabu (11/4/2018), sekitar pukul 18.15 WIB dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia (GA087).

Perwakilan Kementerian Luar Negeri dan BNP2TKI akan menyambut kedatangan Parinah di bandara sekaligus mendampinginya hingga tiba di Banyumas.

Catatan redaksi: terdapat kesalahan ketik daerah asal Parinah yang semula dituliskan Banyuwangi, Jawa Timur, kemudian dikoreksi menjadi Banyumas, Jawa Tengah. Dengan ini kesalahan telah diperbaiki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR