PEMILU 2019

Kisah dua pedagang asongan masuk Istana

Sejumlah pedagang minuman keliling menjajakan dagangannya di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (24/5/2019).
Sejumlah pedagang minuman keliling menjajakan dagangannya di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (24/5/2019). | Risyal Hidayat /AntaraFoto

Selama 62 tahun jadi warga DKI Jakarta, baru Jumat (24/5/2019), Abdul Rajab menginjakkan kakinya di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Abdul ditemani Ismail, rekan dagangnya di Jl. Agus Salim, wilayah yang lebih dikenal dengan sebutan Sabang, Jakarta Pusat.

Keduanya pakai batik lengan panjang, Ismail melengkapi penampilannya dengan peci putih bercorak hijau.

Mereka jadi salah satu tamu istimewa yang diterima Presiden Joko “Jokowi” Widodo setelah Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie.

Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) bahkan menjemput keduanya di gerbang halaman Istana Kepresidenan dengan mobil buggy golf.

“Bangga sekali, belum pernah masuk Istana. Baru sekali ini,” kata Abdul, tersenyum.

Abdul dan Ismail tak mengajukan diri untuk masuk Istana. Pun tak menyangka nasib apes yang menimpanya Rabu (22/5/2019) malam, jadi jalan bagi keduanya bertemu RI 1.

Katanya, pihak Istana yang mengundang. Gara-gara kisahnya jadi viral di media massa dan sosial. “Sebenarnya bertiga (yang dipanggil), tapi yang 1 lagi gak datang,” ujar Abdul.

Rabu malam itu, dua hari pasca-pengumuman hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), warung Abdul, Ismail, dan satu kawannya lagi jadi sasaran amuk massa.

Kejadiannya sekitar jam 10 malam. Kaca warungnya tiba-tiba dilempari batu. Abdul tak ada di tempat saat itu, Ismail lebih sial karena dia tengah berjaga di dalam warungnya. Leher belakang Ismail tergores serpihan kaca yang berhamburan.

Kengerian tak sampai di situ. Keduanya sontak berlari meninggalkan mata pencaharian utamanya ketika beberapa oknum mulai menggerogoti barang dagangannya.

“Pas malam, massa diusir sama aparat. Mereka sambil lari sambil njarah gitu. Pecah-pecahin warung. Ambil rokok, minuman,” kata Abdul.

Apa yang dialami Ismail berbeda. Bukan hanya mi instan, telur, dan rokok yang habis diborong paksa, massa juga tega membakar warung jualannya itu.

“Yang sebagian ada yang bilang gak boleh dibakar, tapi ada satu orang datang bilang ‘udah bakar aja’. Dua jam kejadiannya. Saya langsung lari, tapi tidak ke arah (Jalan) Wahid Hasyim. Kalau ke sana, pasti dikeroyok, sudah mati,” tutur Ismail.

Warung mi instan Ismail memang persis berada di samping pos polisi Sabang. Diduga kuat massa mengincar pos polisi, namun warung Ismail kena imbasnya.

Dari pandangan mata Ismail, barang-barang yang ada di pos polisi ikut diangkut massa, seperti di antaranya televisi dan empat sepeda motor; dua milik polisi, dua milik wartawan.

Ismail cukup dekat dengan kawanan polisi di situ. Sebab kalau sedang sepi, Ismail kerap cari tambahan duit lewat bersih-bersih pos polisi.

Abdul mengaku menderita kerugian hingga Rp30 juta. Sementara Ismail mengestimasi Rp20 juta, dengan perincian kerugian warung yang hangus juga dua buku tabungan serta Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang ikut terbakar bersama dagangannya.

Ismail (peci putih) dan Abdul Rajab berbincang dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019).
Ismail (peci putih) dan Abdul Rajab berbincang dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019). | Muchlis Jr /Biro Pers Sekretariat Presiden

Tapi keduanya cukup beruntung. Presiden mau bantu ganti rugi dagangan mereka yang jadi sasaran korban. Besarannya rahasia. Namun dipastikan cukup untuk merintis usaha dari awal lagi.

Abdul mengaku pasrah dengan kejadian yang dialaminya. Marah pun jadi pilihan yang tak mungkin dilakukan sebab dirinya sadar hal tersebut tak bisa mengembalikan barang-barangnya yang sudah raib.

Kalau Ismail cukup traumatis dan berharap kejadian serupa tak pernah terulang lagi.

“Kebanyakan gitu kan ngeri. Kalau satu yang (mau) ngebakar bisa dilawan. Tapi kan banyak temennya di luar, bisa ngeroyok,” tukas Ismail.

Rugi triliunan

Bicara soal kerugian akibat kerusuhan tak mendasar pada 21-22 Mei, pasti tak hanya dialami Abdul dan Ismail.

Perputaran uang harian yang berhenti di Pasar Tanah Abang bahkan diprediksi mencapai Rp200 miliar. Sementara, sejumlah pertokoan di pusat grosir itu nyaris tutup sampai 3 hari lamanya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memerinci dengan pasti berapa total kerugian yang muncul di titik-titik yang rusak dan terbakar.

Pemprov saat ini masih sibuk menginventarisasikan fasilitas umum yang rusak, berbarengan dengan proses pembersihan sampah-sampah di lokasi kerusuhan.

Estimasi angka kerugian justru diungkapkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Kadin Jakarta, menyebut besaran kerugian sebesar Rp1-Rp1,5 triliun.

Besaran itu diukur dari kerusakan fisik dan juga psikologi pasar yang terganggu akibat kejadian tersebut. Daerah yang paling terpukul tentu saja Pasar Tanah Abang.

“Sebetulnya pengunjung Tanah Abang saat Ramadan bisa naik 100 persen,” kata Sarman, Kamis (23/5/2019).

Rata-rata pengunjung Tanah Abang pada hari biasa diperkirakan sekitar 140 ribu orang, dengan omzet Rp4 juta hingga Rp5 juta per kios. Sementara pada Ramadan, jumlah pengunjung bisa naik hingga 250 ribu orang dan omzet Rp10 sampai Rp15 juta.

Adapun total kios baik yang ada di Tanah Abang Blok A, Blok G, PGMTA, dan jembatan layang mencapai 11.000. Sehingga kerugian per harinya bisa mencapai Rp165 miliar.

“Konsumsi rumah tangga adalah penopang pertumbuhan ekonomi kita. Momen Ramadan dan Idulfitri sangat diharapkan mampu memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal II/2019 sehingga bisa mencapai target tahun 2019 sebesar 5,3 persen,” tandas Sarman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR