KERUSUHAN 22 MEI

Kivlan Zen jalani sidang kasus kepemilikan 4 senjata ilegal

Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen berjalan dengan kawalan petugas kepolisian seusai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (19/6/2019).
Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen berjalan dengan kawalan petugas kepolisian seusai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (19/6/2019). | Indrianto Eko Suwarso /ANTARA FOTO

Tersangka kasus kepemilikan senjata api, Kivlan Zen, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa (10/9/2019). Kivlan disebut memiliki empat senjata api dan 117 peluru tajam tanpa surat resmi dari pihak berwenang.

Keempatnya yakni senjata api jenis Revolver Merk Taurus kaliber 38 mm, senjata api laras pendek jenis Mayer warna hitam kaliber 22 mm, senjata api laras pendek jenis Revolver kaliber 22 mm, dan senjata api laras panjang rakitan kaliber 22 mm.

Senjata diduga akan digunakan untuk membunuh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Kemanan, Wiranto, dan Menteri Koordinator Bidang Maritim, Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen Gregorius “Gories” Mere, dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Keempatnya menjadi sasaran pembunuhan saat aksi aksi kerusuhan pada 21 Mei 2019 dan 22 Mei 2019 berlangsung di beberapa titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Aksi tersebut menolak hasil Pilpres 2019 yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum.

Pengacara Kivlan Zen, Tonin Tachta Singarimbun, mengaku kliennya siap menjalani sidang perdana. “Sidang hari ini tanggal 10 September siang hari,” kata Tonin ketika dihubungi Beritagar.id.

Dalam berkas dakwaan yang diterima Beritagar.id, kasus bermula saat purnawirawan TNI ini bertemu dengan orang suruhan, yakni Helmi Kurniawan alias Iwan dan Tajudin alias Udin. Keduanya bertugas membeli senjata api.

Pada 13 Oktober 2018, atas permintaan Kivlan, terjadi transaksi pembelian satu senjata api Revolver merek Taurus kaliber 38 mm senilai Rp50 juta dari penjual senjata, Asmaizulfi alias Vivi. Kivlan meminta Helmi untuk menyimpan senjata tersebut.

Selanjutnya, pada 9 Februari 2019, sekitar pukul 12.00 WIB, Kivlan bertemu dengan Iwan dan Udin di Rumah Makan Padang Sederhana, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kivlan menyerahkan duit 15 ribu dolar Singapura yang disebut sebagai pemberian mantan anggota DPR, Habil Marati.

Kemudian, Kivlan meminta keduanya untuk mencari senjata api laras panjang dari duit tersebut. Duit diberikan Iwan kepada Udin yang diduga sebagai biaya operasional memata-matai target pembunuhan, Wiranto dan Luhut.

Pesan senjata pada Adnil

Pada 20 Februari 2019, Iwan memesan senjata api permintaan Kivlan kepada penjual, Adnil. Senjata pesanan tersebut yakni satu senjata api jenis Mayer warna hitam kaliber 22 mm seharga Rp5,5 juta, satu senjata api laras pendek jenis Revolver kaliber 22 m beserta empat butir peluru senilai Rp6 juta, dan satu senjata api laras panjang rakitan kaliber 22 m senilai Rp15 juta.

Penyerahan senjata sekaligus pelunasan transaksi terjadi sejak 3 Maret 2019 hingga 5 Maret 2019 di daerah Cibinong, rumah Udin. Penyerahan senjata kepada Kivlan terjadi pada 6 dan 7 Maret 2019.

Selanjutnya, pada 8 Maret 2019 di Pintu Tol TMII Jakarta Timur, Kivlan kembali menyerahkan duit Rp50 juta kepada Iwan untuk membeli senjata api dan Rp10 juta untuk Udin menjalankan misi surveinya. Berselang dua hari, Habil menyerahkan duit Rp30 juta untuk Iwan dan Rp20 juta untuk Udin di Pondok Indah Mall, Jakarta.

Kemudian, pada 21 Mei 2019 saat kerusuhan terjadi, sekitar pukul 13.00 WIB, di Hotel Megaria Jakarta Pusat, Iwan dicokok tiga petugas karena kedapatan membawa senjata api dan amunisi yang disimpan di Mobil Isuzu Panter warna silver bernomor polisi B-9127-UBA. Pada hari yang sama, aparat juga meringkus Udin di Bogor karena diduga menguasai senjata api rakitan dan senjata laras pendek kaliber 22 mm.

Dari hasil uji laboratorium forensik Polri, senjata tersebut berfungsi dengan baik dan dapat ditembakkan. Atas perbuatan tersebut, Kivlan dijerat pasal 1 ayat 1 UU Nomor 12 Tahun 1951 juncto Pasal 55 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Ancaman hukumannya, seperti termaktub dalam UU No. 12/1951 adalah hukuman mati atau penjara setinggi-tingginya 20 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR