Klaim ihwal Gaj Ahmada berujung satire

Salah satu ukiran sejarah Indonesia yang mengelilingi Monumen Nasional, Jakarta, menggambarkan kerajaan kuno Indonesia, di bagian kanan adalah Gadjah Mada, Mahapatih Majapahit.
Salah satu ukiran sejarah Indonesia yang mengelilingi Monumen Nasional, Jakarta, menggambarkan kerajaan kuno Indonesia, di bagian kanan adalah Gadjah Mada, Mahapatih Majapahit.
© Gunawan Kartapranata/CC BY-SA 3.0 /Wikimedia

Kata kunci "Gaj Ahmada" sering tertulis di jagat media sosial beberapa hari terakhir.

Kata kunci itu diklaim sebagai nama asli dari Gadjah Mada, Mahapatih Kerajaan Majapahit. Klaim itu menyebar beriring wacana Gadjah Mada adalah seorang muslim, dan Majapahit sebagai kesultanan Islam.

Pantauan Beritagar.id menunjukkan, klaim itu berembus di Facebook lewat tulisan bertajuk "Meluruskan Sejarah". Dalam sejumlah status yang menyebar di media sosial tercantum nama Arif Barata sebagai penulisnya.

Okezone menyebut akun itulah yang mula-mula menyebarkan wacana ini. Akan tetapi, status tersebut telah dihapus oleh Arif.

Merujuk sejumlah tangkapan layar yang menyebar di media sosial, Arif mengirim status "Meluruskan Sejarah", Kamis (15/6).

Ada lima pokok yang ditulis Arif dalam statusnya, antara lain soal "salah pengucapan" dari orang-orang pada masa lampau saat menyebut Gadjah Mada.

"Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah)" tulis akun yang mencantumkan Universitas Islam Malang (Unisma) sebagai almamaternya itu.

Status Arif Barata soal "Gaj Ahmada" yang viral di media sosial.
Status Arif Barata soal "Gaj Ahmada" yang viral di media sosial.
© Istimewa

Arif juga menuliskan nama Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, sebagai sumber rujukan klaimnya.

Lembaga termaksud memang pernah terlibat penerbitan buku bertema Majapahit dan Islam yakni Kesultanan Majapahit: Fakta Yang Tersembunyi (2010) dan Fakta Mengejutkan Majapahit Kerajaan Islam (2014).

Kedua buku itu ditulis Herman Sinung Janutama, seorang pemerhati budaya Jawa, dan tercatat pernah menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya, membenarkan bahwa pihaknya pernah memfasilitasi penelitian Herman soal Majapahit sebagai kesultanan Islam.

"Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku," ujar Ashad, dikutip detikcom.

Adapun LHKP-PDM Yogyakarta, kata Ashad, memang diisi oleh anak-anak muda yang gandrung wacana alternatif.

Herman, seperti dilansir Tirto.id (18/6), menyebut kesimpulan Majapahit sebagai kerajaan Islam berangkat dari keyakinan terhadap tradisi Jawa, dengan merujuk pada cerita lisan dan manuskrip.

Salah satu yang disebutnya sebagai rujukan adalah empat jilid Babad Majapahit, dengan tebal sekitar 4 ribu halaman. "Naskah masih ada di Museum Sonobudoyo. Isinya menyimpulkan baik Majapahit maupun Singasari adalah kerajaan Islam. Cerita-cerita di dalamnya selama ini hidup di bawah sadar orang Jawa (cerita lisan dan tradisi)," kata dia.

Pun, Herman mengaku punya bukti silsilah yang menerangkan Gadjah Mada sebagai Muslim. Konon, silsilah itu menyebut Raden Wijaya dan raja-raja Jawa sebelumnya merupakan seorang muslim. Meski demikian, Herman tak memerinci sumber silsilah yang dimaksud.

Sabtu (17/6), Herman menyampaikan ihwal beda klaim antara bukunya dan status nan viral di media sosial. Hal itu termuat dalam kolom komentar di status Facebook milik Ashad Kusuma Djaya.

Beda klaim itu antara lain soal penulisan Gadjah Mada. "Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA," tulisnya (17/6).

Meski ada beda klaim, dari gelagat yang terlihat di media sosial, riset Herman sudah dilirik sebagian orang sebagai rujukan sejarah alternatif.

Di sisi lain, klaim status viral soal Gadjah Mada juga beroleh bantahan.

Salah seorang yang membantah adalah Bambang Budi Utomo, Peneliti Pusat Arkeologi Nasional. "Tidak benar itu, nama Gaj Ahmada tidak ada dalam catatan mana pun," ujar Bambang, dikutip kumparan.com.

Adapun koin-koin bertuliskan syahadat pada masa Majapahit--juga diklaim sebagai bukti dalam status nan viral--memang benar adanya. Namun, Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia, Ali Akbar, menyebut hal itu lumrah belaka.

"Situasi kerajaannya (Majapahit) di tahun 1293 memang banyak yang beragama Hindu, tapi banyak juga pedagang Islam yang tinggal menetap dan meninggal di situ," katanya. Ia percaya para pedagang Islam itulah yang membawa koin-koin bertuliskan syahadat.

Gambar koin itu juga terlihat dalam brosur Museum Nasional, Jakarta. "Kalau uang dengan ada tulisan Arab, kemungkinan besar ada untuk menyebarkan agama ke Kerajaan Majapahit," kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional, Tri Gangga.

Bagaimana pun, di media sosial, topik ini telah memicu pembelahan dua kubu.

Kubu pertama adalah para pendukung wacana ini, terutama mereka yang kerap berkomentar menggunakan sentimen keagamaan. Hal itu antara lain terlihat lewat penyebaran status Arif Barata oleh blog macam Yes Muslim dan Portal Islam--tautannya sering dibagikan di media sosial.

Di titik berbeda, banyak juga yang meragukan klaim itu. Sebaliknya, mereka meyakini catatan sejarah resmi--Majapahit sebagai kerajaan Hindu-Buddha.

Mereka yang berposisi demikian umumnya menganggap wacana "Gaj Ahmada" dibangun dari analisis cocokologi (baca: asal mencocokkan).

Satu respons menarik adalah munculnya meme satire (sindiran) yang menyebut nama-nama tokoh nonmuslim (fiksi maupun riil) sebagai seorang Muslim.

Meme itu kerap pula berseliweran dengan kata kunci "Meluruskan Sejarah", meminjam tajuk status nan viral ihwal Gaj Ahmada.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.