BISNIS KEBENCIAN

Klarifikasi Eggi Sudjana dan tokoh misterius di balik Saracen

Eggi Sudjana saat memberikan keterangan kepada wartawan di halaman kantor Kejagung, Jakarta pada 2013
Eggi Sudjana saat memberikan keterangan kepada wartawan di halaman kantor Kejagung, Jakarta pada 2013 | Reno Esnir /Antara Foto

Polisi mengaku menemukan titik terang atas dalang di balik kelompok Saracen yang dituding memproduksi ujaran kebencian. Politikus dari sebuah partai politik disebut-sebut terlibat, namun belum ada nama yang muncul.

Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar, kepada Media Indonesia (19/9/2017) menyatakan kelompok-kelompok serupa Saracen bermunculan sejak lima tahun lalu, dan terhubung satu sama lain. Saracen hanyalah salah satunya.

"Saracen hanya satu dari sekian kelompok yang dikelola dan didanai kelompok besar. Pengendali kelompok besar itu seorang politikus yang berasal dari sebuah partai politik. Dari analisis dan hasil pemeriksaan yang kami lakukan, nanti ketahuan," kata Irwan.

Lebih lanjut Irwan menjelaskan, penyidik Polri telah membuktikan JAS sebagai bos Saracen memiliki relasi luas dengan politikus dan media massa. Hubungan itulah yang membuatnya terampil menulis dan melek politik, meski belajar secara otodidak.

"Jasriadi bahkan membuat pelatihan khusus cara-cara menulis ujaran kebencian di Hambalang. Dia sempat hendak menjadi pemateri sebuah pelatihan, tetapi keburu kami tangkap. Kami fokus pada tindak pidana yang dilakukannya," ujar Irwan.

Saracen disebut kerap berubah nama dalam kegiatannya menyebarkan ujaran kebencian. Beberapa nama mereka antara lain Keranda Ahok Jokowi, Pendukung Anies-Sandi, Saracen, dan NKRI Harga Mati.

Pada Sabtu, 16 September lalu, Kombes Irwan menyebut kelompok pimpinan JAS itu juga memiliki beberapa grup WA. Salah satunya bernama Gerakan Merah Putih Prabowo Subianto (GMPPS), aktif membicarakan strategi terkait dengan Pemilu 2019.

"Dia cukup dominan berbicara di grup. Salah satu yang dibicarakan, bagaimana terhindar dari jeratan hukum," ujarnya dilansir MetrotvNews.com.

Namun politikus Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria, membantah GMPPS adalah simpatisan resmi partainya. Ia menyatakan banyak jenis simpatisan, ada yang benar-benar mendukung, tetapi klaimnya, ada yang seolah mendukung padahal ingin merusak citra partai yang didukung.

Sejauh ini, baru dua dari empat tersangka Saracen yang kasusnya siap disidangkan. Kejaksaan Agung telah menerima dan menyatakan lengkap berkas perkara SR dan MFT. Berkas perkara SR dinyatakan P21 atau lengkap pada Rabu (13/9), sedangkan berkas MFT dinyatakan lengkap pada Jumat (15/9) lalu.

Adapun berkas JAS yang digadang sebagai bos kelompok penyebar kabar bohong dan ujaran kebencian itu, belum kunjung lengkap karena jawabannya berbeda-beda selama menjalani proses pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Satu tersangka lainnya, MAH, berkasnya juga belum lengkap. MAH diduga sebagai salah seorang pendiri kelompok yang diduga membisniskan ujaran kebencian dan fitnah itu. Sementara Asma Dewi, yang ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian dan SARA saat Pilkada DKI Jakarta, belum jelas kaitannya dalam jaringan Saracen.

Asma diketahui melakukan transfer uang senilai Rp75 juta ke NS, yang disebut-sebut sebagai anggota inti kelompok Saracen, dan uang itu kemudian diteruskan ke bendahara kelompok itu yang berinisial D. Polisi masih mendalami keterkaitan Asma Dewi di Saracen.

Eggi Sudjana datangi Bareskrim Polri

Eggi Sudjana yang merasa dicatut namanya sebagai salah satu dewan pembina Saracen, akhirnya mendatangi polisi untuk mengklarifikasi. Dalam struktur organisasi Saracen terdapat nama Purnawirawan Ampi Tanudjiwa dan pengacara Eggi Sudjana sebagai Dewan Penasihat Saracen.

Dia sempat menolak diperiksa polisi, karena penyidik seharusnya menjadikan keterangan JAS di media massa yang mengaku tak mengenal dirinya, sebagai bahan pertimbangan hukum untuk tidak melakukan pemeriksaan terhadapnya.

Namun Ketua Advokasi Tim Pembela Ulama dan Aktivis Indonesia (TAPUA) itu mendatangi Kantor Bareskrim Polri di Gambir, Jakarta, pada Senin (18/9). Ia menampik tudingan menunaikan ibadah haji sebagai jalan untuk menghindari proses hukum.

Dilaporkan CNN Indonesia, Eggi sempat menunggu penyidik di Bareskrim selama satu jam. Namun, petugas yang diharapkan dapat memberi informasi tak berhasil ditemui karena sedang tugas di luar.

"Jadi saya ke sini intinya mengklarifikasi tentang Saracen itu, bahwa nama saya cuma dicomot, baru wacana, dan tidak dilegalkan," jelasnya seperti dilansir RMOL. Ia bahkan berani bersumpah tidak tahu, apalagi terlibat dalam Saracen.

Eggi menjabarkan bahwa tuduhan keterlibatan Saracen ini seharusnya sudah gugur secara otomatis saat JAS menyatakan tidak kenal dengan Eggi.

Pada kesempatan lain, JAS pernah mengaku kelompoknya sempat berencana melegalkan struktur organisasi yang telah dibuatnya bersama Rizal Kobar. Rizal, adalah terpidana ujaran kebencian yang pernah ditangkap dengan dugaan makar bersama Rachmawati Soekarnoputri dkk.

JAS menjelaskan bahwa nama Eggi dan Ampi diusulkan Rizal Kobar saat acara kopi darat para aktivis-aktivis dunia siber. Namun, sepengakuan JAS, struktur tersebut tidak jadi dilegalkan lantaran tidak ada pembicaraan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Adapun Rizal Kobar yang telah divonis 6 bulan 15 hari penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awal Juni lalu, juga membantah terlibat dengan sindikat JAS. Ia merasa namanya dicatut tanpa sepengetahuannya.

"Pernah sekali ketemu, setelah itu tidak pernah ketemu lagi. Itupun dalam sebuah acara saat dia datang ke Jakarta. Saya tidak pernah ketemu lagi. Ketemu itu pada saat silaturahmi akbar masyarakat Jakarta Utara, mungkin dia lihat undangan disebar di media sosial, lalu dia datang," jelasnya kepada Detikcom (31/8/2017).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR