KECELAKAAN TRANSPORTASI

Kapal yang tenggelam di Sumenep tak punya izin, kelebihan muatan

Ilustrasi sejumlah penumpang dari Pulau Sapudi, Sumenep di Pelabuhan Kalbut, Mangaran, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (21/2/2019).
Ilustrasi sejumlah penumpang dari Pulau Sapudi, Sumenep di Pelabuhan Kalbut, Mangaran, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (21/2/2019). | Seno /ANTARA FOTO

Berangkat dari pelabuhan liar, tak punya izin, dan kelebihan muatan, KM Arim Jaya tenggelam di laut antara perairan Sapudi-Giliyang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Senin (17/6/2019). Peristiwa ini menewaskan setidaknya 19 orang.

Kapal berukuran 6 GT (gross ton) ini panjangnya kira-kira 10 meter. Kapasitas maksimalnya hanya 30 penumpang.

Namun, KM Arim Jaya berangkat dengan 61 penumpang, semua adalah warga pulau Guwa-guwa. Kapal bertolak dari pulau Guwa-guwa, desa kecil di gugusan pulau sebelah timur Madura, Senin (17/6) sekitar pukul 10.00 WIB menuju Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.

Sekitar pukul 15.00 WIB di tengah perairan antara Pulau Sepudi dan Kepulauan Giliyang, kapal dihantam ombak setinggi dua meter. KM Arim Jaya terguling, lalu tenggelam.

Ada 5 perahu nelayan yang merapat. Mereka menolong dan membawa korban ke Kecamatan Dungkek yang terdekat dari lokasi.

Masih pada hari yang sama, empat kapal diturunkan untuk pencarian korban. Dari Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan), Polairud (Polisi Air dan Udara), dan 2 kapal tradisional milik penduduk.

Tim SAR gabungan, sudah mengevakuasi 19 korban jiwa. Data 16 di antaranya sudah teridentifikasi.

Ada 12 perempuan dewasa, 2 anak perempuan, dan 2 anak laki-laki. Jenazah berada di kamar jenazah di RSUD dr H. Moh. Anwar, Sumenep.

Hingga Rabu (19/6), 3 penumpang dinyatakan hilang, sementara 39 lainnya selamat.

"Pelabuhan Guwa-guwa itu pelabuhan tikus yang tidak diusahakan oleh pemerintah, jadi kapal kayu kapal penumpang itu tidak dapat persetujuan dari siapapun," jelas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Fattah Jasin.

Menurut Fattah, pelabuhan itu dikelola oleh desa, kecamatan, dan masyarakat setempat. Padahal, di Pulau Kangean--masih dalam gugusan sama dengan Guwa-guwa, ada Pelabuhan Ra'as yang berstatus resmi.

"Sudah kami bangun pelabuhan penyeberangan. Ada di Raas, tapi mereka langsung, itu ilegal, kapalnya juga tidak berizin," tandas Fattah.

Bagaimanapun, pemerintah turun tangan dalam upaya penyelamatan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa sudah memerintahkan organisasi perangkat daerah (OPD) mencari informasi dan melakukan penanganan tenggelamnya KM Arim Jaya.

Sementara, menurut Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kalianget, Supriyanto, kapal maut tersebut berjenis Kapal Laut Motor (KLM). Fungsi kapal untuk mencari ikan, semestinya tidak digunakan untuk mengangkut penumpang.

Pada kenyataannya, praktik ini lumrah terjadi dari Dungkek ke Guwa-guwa dan sebaliknya. "Dari pulau ke pulau swakarsa masyarakat," kata Supriyanto.

Klaim Supriyanto, pihaknya sudah berkali-kali melakukan sosialiasi keselamatan. Namun, praktik ini masih terus terjadi.

Dinas Perhubungan (Dishub), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan (Dinkes), Bakorwil Pamekasan, dan Biro Kessos Pemerintah Provinsi Jatim dilibatkan. Pencarian korban dilakukan dengan koordinasi Basarnas, OPD Pemprov Jatim, pihak Syahbandar Kalianget, dan pihak kepolisian.

Menurut aturan pengoperasian, kapal di bawah 7GT ada di bawah koordinasi pemerintah daerah setempat. Sudah berulang kali kejadian kapal motor sejenis tenggelam karena mengabaikan aturan.

Pada Juni 2018, KM Arista tenggelam di Selat makassar, 13 orang tewas. Septemper 2017, KM Kenangan Indah tenggelam di di Selat Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur menewaskan satu orang.

Catatan redaksi: judul diganti untuk lebih mencerminkan isi.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR