LION AIR JT610

KNKT benarkan kepanikan di kokpit, tapi bantah kebocoran kotak hitam

Foto ilustrasi. Pesawat Lion Air parkir di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (17/2/2019).
Foto ilustrasi. Pesawat Lion Air parkir di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (17/2/2019). | Jessica Helena Wuysang /Antara Foto

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membenarkan ada kepanikan di kabin kokpit pesawat Lion Air JT610 sebelum jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018. Namun, KNKT membantah isi kotak hitam sudah bocor.

KNKT menyatakan hal itu dalam jumpa pers di kantornya di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019). Jumpa pers itu digelar untuk mengonfirmasi berita yang dikeluarkan sedikitnya dua media internasional.

Kantor berita Reuters, Rabu (20/3), secara eksklusif memberitakan bahwa pilot Lion Air Boeing 737 MAX 8 bernomor registrasi PK-LQP tersebut sedang mencari solusi melalui buku panduan sesaat sebelum pesawat rute Jakarta-Tanjung Pinang bermuatan total 189 penumpang itu jatuh di Perairan Karawang.

Situasi itu ditulis dengan basis keterangan dari tiga orang sumbernya. Namun, Reuters mengaku tidak mendengarkan rekaman kotak hitam atau Cockpit Voice Recorder (CVR).

Berdasarkan laporan pada November 2018, kapten pilot Bhavye Suneja menangani pesawat dan kopilot Harvino mengurus radio komunikasi. Dua menit berada di udara setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten, Harvino melaporkan ada "masalah flight control" kepada petugas Air Traffic Control (ATC).

Tetapi Harvino tidak menjelaskan dengan detail flight problem itu. Sementara Suneja tetap menjaga pesawat pada ketinggian 5.000 kaki.

Sumber pertama mengatakan kepada Reuters bahwa Harvino menyinggung soal "kecepatan" kepada Suneja, sementara sumber kedua mengungkapkan indikator masalah muncul di layar di depan Suneja.

Suneja kemudian meminta Harvino untuk membuka buku manual dan memeriksa silang apa yang terjadi. Sembilan menit kemudian, pesawat mengeluarkan peringatan stall dan Suneja menurunkan hidung pesawatnya.

Stall berarti pesawat sulit lagi dikendalikan dan kehilangan daya angkat. Dua sumber itu kemudian menyimpulkan bahwa Suneja dan Harvino hanya membahas soal kecepatan dan ketinggian, padahal hidung pesawat sudah menukik.

Sementara New York Times, Rabu (20/3), juga menyebut ada kebingungan di dalam kokpit JT610. Dalam momen terakhir sebelum JT610 hilang dari radar, media tersebut menulis Harvino meneriakkan Allahu Akbar.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan (KNKT) sekaligus investigator kecelakaan Lion Air JT610, Nurcahyo Utomo, mengakui ada kepanikan di dalam kokpit seperti terekam dalam VCR. Namun, Nurcahyo membantah ada teriakan Allahu Akbar.

"Saya cuma sampaikan bahwa pada akhir penerbangan sepertinya pilot merasa bahwa dia tidak bisa lagi me-recover penerbangan itu, di situ muncul kepanikan. Itu saja yang saya sampaikan (ke media)," kata Nurcahyo dikutip VOA Indonesia.

Nurcahyo lebih lanjut mengatakan heran bagaimana teriakan Allahu Akbar ramai dilansir media. "Saya tidak bilang bahwa di situ ada kata Allahu Akbar. Tapi saya tak tahu kok media bisa bicara itu," Nurcahyo menambahkan.

Di sisi lain, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan bahwa isi CVR yang beredar di media berbeda dengan rekaman sebenarnya. Sampai saat ini KNKT masih menyimpan data dan transkrip rekaman itu di dalam komputer yang tidak tersambung internet.

Soerjanto menjelaskan data rekaman dan transkrip hanya pernah diperdengarkan serta ditunjukkan kepada Boeing, lembaga sertifikasi FAA, dan Lion Air untuk kepentingan investigasi lebih lanjut.

Soerjanto juga membantah bahwa di dalam CVR ada rekaman perbincangan penerbangan sebelumnya, Denpasar-Jakarta, JT043, dengan pesawat yang sama. Soerjanto menegaskan rekaman itu sudah terhapus (overwritten).

"...menurut KNKT isi berita (di media) itu adalah opini seseorang atau beberapa orang yang kemudian dibuat seolah-olah seperti CVR," jelas Soerjanto.

Pada akhir, Soerjanto menegaskan bahwa seluruh hasil investigasi kecelakaan JT610 akan diumumkan dalam waktu dekat. "...final report dijadwalkan akan dipublikasikan pada Agustus atau September 2019," ungkapnya dalam detikcom.

Misteri pilot ketiga

KNKT pun menjelaskan sudah berbicara dengan pilot ketiga yang membantu penerbangan JT043. Pilot yang namanya masih dirahasiakan itu memiliki sertifikat terbang dengan Boeing 737 Max 8 dan membantu penerbangan yang sempat bermasalah itu mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.

Pilot ketiga itu sedang libur bertugas tapi ia menumpang pesawat tersebut. Itu sebabnya ia dimintai tolong oleh sejawatnya di dalam kokpit karena dirinya paham B737 Max 8.

Bloomberg yang mengutip KNKT menulis pilot ekstra itu akhirnya duduk di kursi kopilot dan mendiagnosis permasalahan yang terjadi. Ia kemudian memberi panduan kepada dua pilot yang bertugas untuk mengatasi masalah flight control yang ada.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR