LION AIR JT610

KNKT rilis hasil investigasi jelang satu tahun insiden Lion Air JT610

Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11).
Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi terhadap pesawat Lion Air jenis Boeing 737-8 MAX yang jatuh pada 29 Oktober 2018 lalu. KNKT berkesimpulan, desain dan fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada pesawat jenis baru tersebut tidak memadai dan pilot tidak mengetahuinya.

Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) berfungsi menurunkan hidung pesawat bila terlampau tinggi sehingga bisa menyebabkan stall (kehilangan daya angkat). Karena itu, sering pula disebut fitur anti-stall.

Input datanya berdasarkan salah satu sensor Angle of Attack (AOA) yang mendeteksi sudut yang dibentuk dari naik-turunnya moncong pesawat dengan arah gerak pesawat.

Namun sayangnya fitur tersebut, menurut KNKT, tidak berfungsi dengan baik dan pilot tidak terlatih untuk mengendalikannya. Sensor AOA yang terganggu, mengirimkan data yang tidak akurat sehingga MCAS berperilaku tidak wajar, dan menganggu perjalanan Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang.

Kasubkom penerbangan sekaligus investigator KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan kondisi tersebut diperburuk karena ketiadaan petunjuk dalam buku panduan maupun pelatihan terkait MCAS. Alhasil menyulitkan pilot karena tak mengenali gejala dan sebab saat sistem MCAS aktif.

"Pilotnya juga tidak dikasih tahu pesawat ini memiliki MCAS, kalau dikasih tahu maka akhirnya juga akan berbeda," kata Nurcahyo dalam konferensi pers rilis hasil investigasi di gedung KNKT, Jumat (25/10/2019).

Dalam kasus penerbangan JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang, data Flight Data Recorder (FDR) merekam adanya perbedaan derajat atau deviasi antara AOA kiri dan kanan hingga 21 derajat yang terjadi terus menerus sampai akhir rekaman.

Deviasi ini berdampak pada perbedaan penunjukan ketinggian dan kecepatan antara instrumen kiri dan kanan di cockpit, juga mengaktifkan stick shaker.

Stick shaker merupakan peringatan dari pesawat untuk memberitahu pilot bahwa pesawat sedang mengalami kondisi stall (kehilangan daya angkat). Peringatan tersebut ditunjukan dengan tanda stik kontrol kemudi pilot yang bergetar.

Sebelum pesawat jatuh, hidung pesawat turun secara otomatis hampir 24 kali dalam 11 menit. Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino berulang kali berupaya untuk membawa pesawat naik kembali sebelum akhirnya kehilangan kontrol. Pesawat itu pun jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 dan menewaskan 181 penumpang dan delapan kru.

Ternyata, anomali kerja sensor tersebut sebelumnya juga telah terjadi pada penerbangan PK-LQP rute Denpasar-Jakarta, yang terbang pada 28 Oktober 2018, malam sebelum insiden. Namun pilot saat itu mampu mengatasi permasalahan tersebut.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan prosedur operasional fitur yang otomatis mengatur hidung pesawat, MCAS, tidak dicantumkan dalam manual pilot. Dugaan Gerry, Boeing tidak ingin pilot-pilot yang menerbangkan Boeing 737 Max menganggap pesawat jenis ini beda dengan Boeing 737 generasi sebelumnya.

"Mereka (pilotnya) juga bingung ini diapakan lagi? Kejadian ini dan di Ethiopia sepertinya sama," ujar Gerry.

Rekomendasi KNKT untuk Lion Air

Pasca-insiden maut itu sejumlah pihak terkait telah melakukan perbaikan. Pihak maskapai Lion Air sendiri telah melakukan perbaikan sebanyak 35 tindakan perbaikan, sementara manufaktur pesawat Boeing Company telah melakukan perbaikan sebanyak delapan kali dan begitu pun dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Kendati begitu, KNKT masih memberikan sejumlah rekomendasi kepada pihak-pihak terkait tersebut. Salah satunya yakni tiga rekomendasi bagi Lion Air.

Rekomendasi yang diberikan kepada Lion Air itu terkait pengelolaan manajemen serta perbaikan adanya kesalahan berulang. Rekomendasi juga diberikan terkait pengecekan terhadap desain baru untuk pihak Boeing.

Hasil investigasi bukan bahan gugatan hukum

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono (tengah) didampingi Wakil Ketua  Haryo Satmiko (kanan) dan Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan Nurcahyo Utomo (kiri) memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019). KNKT menyatakan ada sembilan faktor berkaitan yang menyebabkan kecelakaan Lion Air JT 610 di Perairan Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 lalu diantaranya desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 MAX dibuat asumsi terkait reaksi pilot terhadap kerusakan yang akan mengaktifkan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), tidak ada panduan mengenai MCAS untuk pilot serta miskalibrasi pada sensor AOA pesawat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono (tengah) didampingi Wakil Ketua Haryo Satmiko (kanan) dan Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan Nurcahyo Utomo (kiri) memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019). KNKT menyatakan ada sembilan faktor berkaitan yang menyebabkan kecelakaan Lion Air JT 610 di Perairan Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 lalu diantaranya desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 MAX dibuat asumsi terkait reaksi pilot terhadap kerusakan yang akan mengaktifkan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), tidak ada panduan mengenai MCAS untuk pilot serta miskalibrasi pada sensor AOA pesawat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz |

KNKT menegaskan hasil investigasi yang telah dirilis ini tidak bisa digunakan oleh pihak manapun sebagai bahan bukti di pengadilan untuk menyeret PT Lion Mentari Airlines dan The Boeing Company dalam hal jatuhnya pesawat Lion Air JT610.

Hal itu juga berlaku untuk Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bila ingin menjatuhkan sanksi untuk perusahaan maskapai Lion Air dan Boeing Company.

"Intinya bahwa hasil penyelidikan KNKT tidak boleh dipakai pengadilan, karena rekomendasi KNKT tadi untuk perbaikan," ujar Nurcahyo.

Aturan mengenai tak bisa dibawanya hasil investigasi atau rekomendasi KNKT ke pengadilan termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan Pasal 359 Ayat 1 yang bertuliskan hasil investigasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan.

Kemudian, masih dalam pasal yang sama, pada ayat dua tertulis bahwa hasil investigasi sebagaimana dimaksud pada ayat 1, yang bukan digolongkan sebagai informasi rahasia, dapat diumumkan kepada masyarakat.

"Apabila mau melakukan investigasi di pengadilan, ya mungkin penyidiknya mencari data sendiri, tapi tidak minta di KNKT," tegas Nurcahyo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR