Koleksi prangko terbaik dunia dipamerkan di Bandung

Pengunjung melihat Pameran Filateli Dunia 2017, di Trans Studio Convention Center, Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8).
Pengunjung melihat Pameran Filateli Dunia 2017, di Trans Studio Convention Center, Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8). | Agus Bebeng /Antara Foto

Bagi sebagian orang, prangko mungkin hanyalah secarik kertas, yang biasa menempel di amplop atau kotak pengiriman barang. Setelah isi surat atau paket diterima, bungkus bersama prangko akan dibuang begitu saja. Namun itu tak berlaku bagi mereka yang hobi filateli, kegiatan mengumpulkan prangko dan benda-benda pos lainnya.

Walau mungkin saat ini kurang terdengar, tetapi hobi ini banyak peminatnya. Terbukti dengan diselenggarakannya Pameran Filateli Dunia di Bandung, 3-7 Agustus 2017.

"Filateli sebagai salah satu hobi tertua di dunia dapat terus bertahan. Sebab, filateli tidak hanya menyangkut kelangkaan dan keunikan sebuah benda pos, tapi juga nilai historisnya. Inilah yang menyebabkan sebuah benda pos mempunyai harga fantastis," ujar Deddy Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat, saat menghadiri pembukaan acara tersebut, Kamis (03/08/2017).

Di tempat yang sama, Ridwan Kamil juga mengutarakan pendapatnya mengenai hobi unik ini. Menurut Wali Kota Bandung tersebut, filateli merupakan hobi yang dapat menguntungkan, karena sekaligus sebagai investasi yang cukup menggiurkan.

"Saya menyoroti hobi ini cukup menguntungkan, karena harganya yang cukup mahal, apa lagi yang bermakna sejarah, harganya akan melambung tinggi, ini akan menjadi investasi juga," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Pameran Filateli Dunia yang bertempat di Trans Studio Convention Center, Bandung, merupakan perhelatan akbar yang akan dihadiri oleh 60 negara anggota federasi filateli dunia atau Federation Internationale de Philatelie (FIP).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah), Walikota Bandung Ridwan Kamil (kiri) dan Wagub Jabar Dedy Mizwar menunjukkan prangko pada pembukaan Pameran Filateli Dunia 2017, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8).
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah), Walikota Bandung Ridwan Kamil (kiri) dan Wagub Jabar Dedy Mizwar menunjukkan prangko pada pembukaan Pameran Filateli Dunia 2017, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8). | Agus Bebeng /Antara Foto

Tahun ini, tema utama yang diangkat adalah "Jembatan Menuju Dunia yang Damai Melalui Prangko". Pengunjung pameran akan dimanjakan dengan pameran dengan ribuan prangko.

Adapun tema di dalam pameran meliputi Traditionalstory, Postal Stationery, Aerophilately, Thematic, Youth, One Frame Exhibit, Modern, dan Literature, dengan berbagai benda pos koleksi terbaik yang dipajang pada 1.937 bingkai.

Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) R Soeyono mengatakan pameran serupa kelas dunia pernah digelar pada 1996. Pameran tersebut dinilai sukses sehingga PFI ingin kembali menghadirkan pameran sejenis di Indonesia, khususnya di Kota Bandung.

Alat pembayaran

Prangko pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 Mei 1840 di Inggris Raya sebagai reformasi pos oleh Rowland Hill. Prangko menjadi alat pembayaran yang paling populer dibandingkan lainnya. Sebelum prangko diciptakan, pelunasan biaya pengiriman surat masih dilakukan dengan uang tunai.

Di Indonesia, prangko berkembang melalui beberapa periode, salah satunya masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1864, prangko Raja Willem III berwarna merah anggur dengan gambar sang raja sudah dipergunakan.

Lalu, pada masa pendudukan Jepang, prangko zaman Belanda masih digunakan, tetapi ditindih dengan cap gambar binatang, palang, jangkar, dengan kata "Dai Nippon Yubin Kyoku". Setelahnya, diterbitkan prangko bergambar bola dunia dengan peta Jepang, kerbau, pantai, laut, dan lain-lain.

Pemerintah Republik Indonesia pertama kali mencetak prangko "Memperingati setengah tahun merdeka", dalam memperingati 1 tahun kemerdekaan. Kemudian, mulai tahun 1950, dicetaklah prangko seri angka, bangunan (rumah dan candi), garuda, pembasmian malaria, hasil bumi, Asian Games, bendera merah putih, pahlawan revolusi, dan gambar lainnya terus berkembang.

Seiring dengan berjalannya waktu, prangko semakin berkembang, sampai melahirkan sebuah kebiasaan baru yaitu menjadi barang koleksi. Kegiatan atau hobi ini disebut filateli, sedangkan orang yang mengumpulkan disebut filatelis.

Istilah filatelis yang kini menjadi familier rupanya salah kaprah, sebab sebutannya ditujukan pada mereka yang menjadi spesialis, mengumpulkan tema tertentu saja, misalnya olahraga, budaya, alam, tokoh, dan sejenisnya. Sedangkan orang yang mengoleksi prangko disebut stamp collector atau pengumpul prangko.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR