INTERNASIONAL

Komando timah panas dari MBS untuk Khashoggi

Pengunjuk rasa mengenakan topeng muka Pangeran Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) dalam aksi protes menuntut kejelasan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di depan kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, 25 Oktober 2018.
Pengunjuk rasa mengenakan topeng muka Pangeran Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) dalam aksi protes menuntut kejelasan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di depan kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, 25 Oktober 2018. | Erdem Sahin /EPA-EFE

Kerajaan Arab Saudi kembali dituding sebagai sutradara di balik konspirasi pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

The New York Times melaporkan adanya percakapan yang diduga terjadi antara Mohammed bin Salman (MBS) dengan seorang perwira tingginya, Turki Aldakhil, terkait keinginan sang putra mahkota untuk memulangkan Khashoggi dengan “peluru” ke Arab Saudi.

Percakapan—hasil penyadapan mata-mata Amerika Serikat (AS)—diyakini terjadi pada 2017, sekitar 13 bulan sebelum Khashoggi dieksekusi sampai mati di Kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018.

Ancaman MBS terucap jika Khashoggi tak kunjung kembali ke Arab Saudi dan menghentikan segala bentuk kritikan tajamnya kepada pemerintah.

Seorang analis intelijen AS mengatakan, penggunaan kata “peluru” oleh MBS kemungkinan hanya metafora. Meski memang, ucapan itu jelas menyiratkan niatannya untuk menghabisi nyawa Khashoggi. Tak pelak, perintah pembunuhan “liar” itu besar kemungkinan datang dari MBS.

Momen percakapan itu terjadi berbarengan dengan konsolidasi kekuasaan di kerajaan. Sekitar dua bulan sebelumnya, Raja Salman bin Abdul Azis Al Saud menyerahkan takhta kerajaan kepada putranya itu.

Berbarengan dengan momen itu pula, Khashoggi mulai mengirimkan berbagai opininya tentang kerajaan kepada The Washington Post. Khashoggi menuliskan opini perdananya itu dengan judul “Arab Saudi tidak pernah serepresif ini. Sekarang makin tak tertahankan”.

"Aku pergi meninggalkan rumahku, keluargaku, dan pekerjaanku. Sekarang aku akan menyuarakan pendapatku. Jika aku tidak melakukan ini, maka aku mengkhianati mereka yang terpenjara. Aku bisa berbicara saat yang lain tak bisa," tutup Khashoggi dalam opininya itu.

Penyadapan yang dilakukan intelijen AS ini adalah bagian dari upaya rutin Agen Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) dan badan lainnya untuk mengutip dan menyimpan berkas percakapan pemimpin dunia—termasuk para sekutu AS.

Kendati begitu, penyadapan percakapan MBS dan seorang patinya ini diklaim terjadi beberapa waktu lalu, demi mendukung upaya pencarian bukti keterlibatan kerajaan dalam pembunuhan mantan pemimpin redaksi Arab News ini.

Terkait hal terakhir, NSA saat ini tengah melacak percakapan, baik telepon maupun teks, MBS lainnya yang diduga berkaitan dengan rencana pembunuhan.

Sementara dalam perkembangannya, kerajaan terus mengelak keterlibatan MBS dalam misi pembunuhan Khashoggi oleh sebuah regu yang terdiri dari beberapa petinggi kerajaan dan orang terdekat putra mahkota.

Aldakhil pun demikian. Dalam sebuah pernyataan, Aldakhil menyebut percakapan yang diduga terjadi antara dirinya dengan MBS adalah sebuah kepalsuan. Tudingan ini, sambungnya, merupakan upaya kelompok lawan untuk menjatuhkan integritas MBS dan kerajaan.

Arab Saudi batasi penyelidikan

Sejumlah pakar dan penyelidik internasional sampai saat ini masih kesulitan membongkar misteri pembunuhan Khashoggi secara menyeluruh.

Arab Saudi disebut-sebut kerap membatasi dan bahkan menghilangkan materi yang bisa menjadi bukti penguat pembunuhan Khashoggi.

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan eksekusi di luar pengadilan, Agnes Callamard, menyebut tim penyidik Turki kesulitan untuk bisa memasuki kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Izin untuk bisa masuk ke konsulat baru diterima 13 hari, tepatnya tanggal 15 Oktober 2018, setelah pembunuhan terjadi. Sudah itu, para penyidik hanya diperkenankan melakukan penyelidikan di TKP sampai 17 Oktober 2018 saja.

Sikap ini dianggap menghalangi penyelidikan yang independen, lantaran bisa saja seluruh bukti-bukti yang menguatkan adanya pembunuhan dengan senyawa kimia berbahaya berikut proses mutilasinya “dihilangkan”.

Dalam kunjungannya ke Turki, 28 Januari-3 Februari 2019, Callamard—yang juga memimpin penyelidikan pembunuhan Khashoggi—berhasil mendapatkan akses ke beberapa informasi penting tentang pembunuhan Khashoggi, salah satunya rekaman suara pembunuhan di kantor konsulat.

Namun, Callamard tidak berhasil melakukan pemeriksaan teknis mendalam atas materi ini, termasuk memiliki kesempatan untuk melakukan autentikasi rekaman secara independen.

“Misalnya, kami tidak bisa bertemu dengan penyidik yang telah menangani kasus ini, seperti kepala kepolisian dan spesialis forensik yang relevan,” kata Callamard dalam rilis resminya, Kamis (7/2/2019).

Selain proses penyelidikan, Callamard juga mengkritisi proses persidangan terhadap 11 tersangka pembunuhan yang dianggap tanpa transparansi dan keadilan.

Untuk diketahui, Arab Saudi mengklaim telah menyidangkan 11 terdakwa pembunuhan Khashoggi, lima di antaranya bahkan akan dijatuhi sanksi hukuman mati.

Tidak ada yang mengetahui proses persidangan tersebut. Turki sebelumnya sudah meminta persidangan dilakukan di Istanbul, namun ditolak Arab Saudi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR