MINAT BACA

Komik: Persekusi karena anti-buku, bukan anti-kiri

Merampas buku dari toko tanpa paham isinya. Pokoknya kalau buku ada Marx dan Lenin itu berbahaya. Padahal kepicikan lebih berbahaya.
Merampas buku dari toko tanpa paham isinya. Pokoknya kalau buku ada Marx dan Lenin itu berbahaya. Padahal kepicikan lebih berbahaya. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

POKOKNYA... | Sosiolog Ariel Heryanto di Twitter memasang plakat. Tulisannya: "Buku pro-komunis dilarang. Buku anti-komunis disita. Jadi mereka itu anti-buku. Bukan anti atau pro komunis."

Olok-olok peledak tawa haru itu pas untuk menanggapi penyitaan buku komunisme dan Marxisme, atas nama razia, oleh Brigade Muslim Indonesia, di Makassar, Sulawesi Selatan, pekan lalu (3/8/2019).

Dua buku karya pastor Franz Magnis-Suseno (83), yang menolak Marxisme dan Leninisme, juga mereka sita tanpa mempelajari isinya.

Mereka berdalih, bukunya disegel plastik. Padahal itu jamak di toko buku. Kalau ingin membaca belilah buku atau menumpanglah baca di perpustakaan. Kalau bingung, tanyalah orang yang paham.

Terhadap kejadian itu Magnis berkomentar, "Jadi itu bagi saya adalah tanda kebodohan besar, kebodohan yang tidak ada batasnya."

Tentang razia, jangankan pemerintah, warga pun tak berhak bertindak sendiri. Berdasarkan putusan putusan Mahkamah Konstitusi No. 6-13-20/PUU-VIII/2010, yang melakukan uji materiil terhadap UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-Barang Cetakan, buku apa pun tidak boleh dirazia kecuali telah diuji di pengadilan."

Pengujian tentu diawali dengan membaca.

"Membaca," menurut sastrawan A.S. Laksana, "membekali kita kemampuan berpikir kritis". Juga, "memperbaiki imajinasi kita".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR