PELECEHAN SEKSUAL

Komnas PA selidiki dugaan pelecehan seksual oleh guru Ashram di Bali

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait memberikan keterangan kepada awak media usai berdialog dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Komisaris Besar Andi Fairan di Denpasar, Bali, Kamis (14/2/2019).
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait memberikan keterangan kepada awak media usai berdialog dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Komisaris Besar Andi Fairan di Denpasar, Bali, Kamis (14/2/2019). | I Made Argawa /Beritagar.id

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menelusuri dugaan pelecehan seksual terhadap anak oleh seorang guru spiritual berinisial GIU di asrama Ashram Gandhi Puri Sevagram, Klungkung, Bali. GIU adalah pimpinan asrama tersebut.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, dan dua stafnya pun mulai mengumpulkan data dari asrama yang berlokasi di Jalan Semarapura-Karangasem, Desa Paksebali, Klungkung, Rabu (13/2/2019).

Rombongan Komnas PA tiba sekitar pukul 13.30 WITA, koordinator asrama Ashram Gandhi Puri, I Wayan Sari Dika, menyambut Arist. Mereka berbincang sekitar 30 menit.

"Saya datang dalam rangka klarifikasi persoalan (dugaan pelecehan anak), ini berita sudah lama,” kata Arist. Namun Komnas PA gagal menemui GIU yang kini berada di India hingga Maret 2019.

Arist yang menjabat Ketua Komnas PA menggantikan Seto Mulyadi pada 2010 itu menyebutkan bakal membawa masalah ini ranah hukum jika menemukan bukti pelecehan anak oleh GIU.

"Tidak ada alasan damai," ujar Arist yang mengaku tak kenal pada GIU. "Sangat disayangkan jika benar ada tindakan tersebut (pelecehan anak),"

Kompas PA sempat mengunjungi kamar GIU yang terletak di sebelah timur laut asrama. Arist menghabiskan waktu sekitar lima menit di dalam kamar seluas sekitar 4x5 meter.

GIU menghuni kamar itu seorang diri karena tidak menikah atau menjadi Brahmacari. Di dalam GIU memajang sejumlah foto, terutama keluarga. "Ini foto ibunya (GIU), kebetulan baru saja meninggal," ujar Sari Dika kepada Arist.

Setelah dari kamar tidur GIU, rombongan sempat melihat kamar tidur anak asrama, termasuk kamar yang ditempati Sari Dika. Dalam satu bangunan terdapat dua kamar berukuran 3x3 meter.

"Saya tidur sendiri," ujar Sari Dika. Ia tidak setiap hari berada di Klungkung, kecuali akhir pekan, karena sedang kuliah di Denpasar.

Ihwal dugaan pelecehan yang dilakukan oleh bapak asuhnya, Sari Dika tidak pernah menyaksikannya. Tapi, Ia membenarkan ada enam anak keluar dari Ashram Gandhi Puri Sevagram pada 2015. "Keluar karena tidak bisa mengikuti aturan yang ada," ujarnya.

Selain itu, Sari Dika menyebutkan nama Dave Forgaty asal Amerika Serikat dan sempat menjadi pengurus di Ashram Gandhi Puri Sevagram. Forgaty ikut keluar dari asrama bersama enam anak.

"Dave keluar karena memberikan pengaruh buruk pada anak-anak," ujarnya. Pengaruh buruk dimaksud adalah memanjakan anak asrama. "Anak-anak dibelikan motor, hari minggu diajak jalan-jalan. Sikap disiplin berkurang," jelas Sari Dika.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (kiri) berdialog dengan koordinator asrama Ashram Gandhi Puri Sevegram, Wayan Sari Dika (kanan), untuk mengkonfirmasi kabar dugaan pelecehan oleh pimpinannya, GIU, di Klungkung, Bali, Rabu, (13/2/2019).
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (kiri) berdialog dengan koordinator asrama Ashram Gandhi Puri Sevegram, Wayan Sari Dika (kanan), untuk mengkonfirmasi kabar dugaan pelecehan oleh pimpinannya, GIU, di Klungkung, Bali, Rabu, (13/2/2019). | I Made Argawa /Beritagar.id

Setelah berkunjung ke Ashram Gandhi Puri Sevagram, rombongan Komnas PA berencana mengunjungi rumah pakar kejiwaan, Ni Luh Ketut Suryani, di Jalan Gandapura nomor 30, Denpasar.

Ketut Suryani sempat menampung anak dari asrama Ashram Gandhi Puri Sevagram pada 2015. Fogarty bahkan membawa satu anak untuk menjalani terapi di rumah Ketut Suryani.

Namun pertemuan tersebut batal karena Ketut Suryani tidak ada di rumah. Tapi Arist mengaku bertemu dengan seorang korban lelaki asal Karangasem.

"Bertemu di Denpasar, korban yang ikut kabur dari Ashram pada 2010," ujarnya. Arist mengatakan kasus dugaan pelecehan terjadi beberapa kali.

Pada pertemuan singkat itu, Arist belum mendapatkan cerita terjadinya sodomi. Hanya ada tindakan intim dari GIU kepada anak-anak.

"Anak-anak jika menari dan gerakan yoganya bagus akan disuruh memijat di kamar. Selain itu juga mandi bersama," ujarnya.

Arist mengatakan korban kecewa karena harapannya pada Ashram Gandhi Puri Sevagram sebagai tempat untuk mengubah nasib tidak sesuai. "Korban berasal dari keluarga kurang mampu," ujarnya.

Berbekal informasi dari seorang korban, Arist melaporkan kasus ini ke Polda Bali pada Kamis (14/2). Namun, saat melakukan dialog dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Komisaris Besar Andi Fairan, laporannya ditolak.

"Ini hanya koordinasi dan akan ditindaklanjuti untuk laporan," katanya.

Arist menyebutkan, koordinasinya dengan Komisaris Besar Andi Fairan menyepakati bahwa Komnas PA akan mencari keterangan dari saksi dan korban ihwal peristiwa dugaan pelecehan anak 2010.

"11 korban akan kami ajak bertemu pada 21 Februari 2019," ujarnya. Dengan pertemuan dan informasi dari beberapa korban, Arist berharap laporan kasus dugaan pelecehan bisa ditindaklanjuti oleh Polda Bali.

Sementara itu, Andi Fairan menyebutkan, pihaknya kesulitan mengungkap kasus ini karena minimya alat bukti. "Informasi sudah kami tindaklanjuti, tapi korban belum ada yang melapor," ujarnya.

Lamanya waktu kejadian pada 2010 membuat polisi tidak dapat berbuat banyak. "Yang saya sayangkan, pada 2015 ada pihak yang mengetahui kenapa tidak melapor," ujar Andi. Polisi berharap ada korban yang melapor dan bersedia menjadi saksi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR