INDUSTRI PERTAMBANGAN

Konflik batu bara Tiongkok-Australia buka peluang untuk Indonesia

Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (3/1/2019).
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (3/1/2019). | Nova Wahyudi /Antara Foto

Produsen batu bara Australia menghadapi pukulan telak menyusul keputusan pemerintah Tiongkok yang melarang impor komoditas tersebut tanpa batas. Tiongkok memberlakukan rezim kuota impor baru yang ketat.

Kondisi tersebut memberi potensi besar bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Tiongkok, menggantikan Australia.

Presiden Direktur PT Indika Energy. Tbk, Arsjad Rasjid, mengamini hal itu. Menurut dia, keputusan Tiongkok memberikan berkah tersendiri bagi emiten batu bara Indonesia. Indonesia bisa berpotensi menerima tambahan permintaan dari Tiongkok.

Meskipun kalori batu bara Indonesia relatif rendah, hanya sebesar 4.200 kcal/kg, tapi tetap memiliki pasar yang cukup besar di Tiongkok. Sebab, batu bara Indonesia seringkali digunakan sebagai bahan campuran batu bara lokal Tiongkok karena kandungan sulfur yang rendah.

"Bisa jadi keberuntungan untuk Indonesia, tapi di sisi lain kita harus waspada karena tren harga batu bara dalam beberapa tahun belakangan ini sangat fluktuatif," kata Arshad dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (22/2/2019).

Harga batu bara yang cukup fluktuatif belakangan ini memang patut diwaspadai. Oleh sebab itu, perusahaan harus tetap menjaga strategi bisnisnya. Bisa saja saat ini Australia dan Tiongkok tidak baik, tapi pekan depan sudah pulih lagi.

"Yang tadinya peluang buat Indonesia malah bisa saja diambil Australia lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Reuters melaporkan otoritas bea cukai Tiongkok yang berbasis di pelabuhan kunci di bagian utara, Dalian, telah menghentikan impor batu bara Australia dan berencana menetapkan kebijakan pembatasan impor melalui pelabuhan mereka sebesar 12 juta ton per tahun.

Langkah tersebut dinilai bermuatan politik. Maklum hanya batu bara Australia yang menjadi target dari kebijakan tersebut.

Tensi antara kedua negara pernah muncul pada tahun 2017 ketika pemerintah Australia menuding pemerintah Tiongkok mencampuri urusan dalam negerinya. Hubungan ini mengalami kemunduran tahun lalu ketika Australia memblokir akses raksasa teknologi asal Tiongkok, Huawei, dari jaringan broadband 5G-nya.

Batu bara saat ini menjadi komoditas ekspor Australia yang paling bernilai. Tiongkok yang merupakan pembeli terbesar batu bara Australia, tahun lalu mengimpor sebanyak 89 juta ton senilai AS $10,7 miliar. Demikian data dari Biro Statistik Australia (Australian Bureau of Statistics/ABS).

Meski dinilai berpeluang besar, produsen batu bara Indonesia tidak ingin terlalu berfokus mengejar pasar Tiongkok. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), misalnya. Sekretaris Perusahaan PTBA, Suherman, mengatakan pihaknya tetap harus melakukan diversifikasi pasar ke negara-negara lain yang masih berpotensi untuk digali.

"Porsi penjualan ke Tiongkok tahun lalu sekitar 10 persen-11 persen. Ini bagian dari strategi PTBA untuk tidak bergantung pada satu pasar.

"Tahun ini, PTBA akan menambah pangsa pasar baru seperti Thailand, Srilanka dan Jepang. India sudah menjadi market traditional bagi PTBA dalam beberapa tahun terakhir ini," ujar Suheman kepada Kontan.co.id.

Ekspor batu bara menjadi salah satu andalan pemerintah untuk mendulang devisa. Pada tahun 2018, data dari Kementerian ESDM mencatat ekspor batu bara sebesar 395 juta ton atau sekitar 75 persen dari produksi batu bara nasional yang mencapai 528 juta ton.

Namun tren penurunan harga komoditas menjadi tantangan bagi pelaku ekspor. Sejak awal tahun, harga batu bara telah turun hingga 7,1 persen. Penurunan permintaan batu bara dunia, terutama dari Tiongkok akibat perlambatan ekonomi global, masih terus memberi sentimen negatif yang cukup kuat.

Ditambah lagi, pelaku industri batu bara masih mengalami hambatan untuk mengekspor ke Negeri Tirai Bambu. Pasalnya, Tiongkok memberlakukan pembatasan impor batu bara tanpa adanya pemberitahuan tertulis.

Selain itu, suhu musim dingin di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang relatif tidak terlalu parah juga berdampak pada berkurangnya permintaan batu bara.

Namun, harapan terwujudnya kata damai perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok berpotensi mendorong harga batu bara. Sebab, kala hubungan dagang kedua raksasa ekonomi dunia kembali lancar, maka permintaan energi juga ikut terkatrol.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR