KEJAHATAN LINGKUNGAN HIDUP

Konflik manusia dan orangutan di hutan Kalimantan kian serius

Seekor orangutan berada dalam kandang sebelum dilepas liar di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur, Rabu (7/2/2018).
Seekor orangutan berada dalam kandang sebelum dilepas liar di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur, Rabu (7/2/2018). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Konflik antara manusia dan primata orangutan di Kalimantan kian tidak berujung. Kesekian kalinya, korban satwa langka dilindungi ini terus berjatuhan di Sungai Barito (Kalimantan Tengah) dan terbaru di Taman Nasional Kutai (TNK) Kalimantan Timur.

"Dua kasus beruntun pembantaian orangutan terjadi di Kalimantan," sesal Manajer Perlindungan Habitat Centre for Orangutan Protection (COP), Ramadhani, kepada Beritagar.id, Rabu (7/2/2018).

Para penggiat pencinta lingkungan memang belum pulih dari keterkejutan menyusul temuan bangkai orangutan yang mengambang di Sungai Barito Kalteng pada pertengahan Januari lalu. Primata ini ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tubuhnya penuh luka dan jasadnya tanpa kepala.

Hasil otopsi menyimpulkan, orangutan ini tewas setelah dianiaya berat menggunakan senjata tajam dan senapan angin. Selepas kepalanya dipenggal, bangkainya lantas dibuang begitu saja di tengah derasnya aliran sungai.

Tersangka pelaku pembantaian itu dua orang dan sudah dibekuk polisi pada akhir Januari lalu. Kedua tersangka melakukannya pada 29 Desember 2017.

Satu kasus belum selesai benar, Ramadhani kembali tersentak ketika menerima laporan orangutan terluka parah setelah dianiaya di Taman Nasional Kutai (TNK) Kaltim, pekan lalu. Dari hasil otopsi Rumah Sakit Pupuk Kaltim diketahui ada 130 butir peluru senapan angin yang bersarang di tubuh hewan malang ini.

"Selain itu telapak kaki buntung, ada luka tebasan parang, dan matanya juga buta," imbuh Ramadhani. Diketahui ada pula bekas pukulan benda tumpul dan orangutan ini mengalami kesakitan hebat hingga akhirnya tewas berselang tiga hari sejak ditemukan otoritas TNK.

"Kami sudah berusaha memberikan pengobatan, tapi nyawanya tidak tertolong," ucapnya.

Kepala Badan Pengelola TNK, Nurpatria Kurniawan, membeberkan laporan orangutan terluka di kawasan danau diterima sejak Minggu (4/2). Orangutan berhasil dievakuasi ke kantor TNK guna memperoleh pengobatan dan makanan.

Melalui observasi pengamatan lewat mata, Nurpatria menyebutkan tubuh fisik orangutan menderita banyak luka sabetan benda tajam, terluka akibat senapan angin, dan kebutaan pada kedua mata. Orangutan kemudian tewas dua hari kemudian akibat luka berat.

TNK merupakan pusat populasi habitat orangutan di Kaltim dengan perkiraan jumlah mencapai 1.511 ekor yang tersebar di Sangkima, Mentoko, dan Menawang. Adapun taman nasional seluas 192.709 hektare ini terancam praktik perambahan hutan, pemukiman warga, hingga perkebunan kelapa sawit.

"Warga menduduki area TNK seluas 17.000 hektar," sebutnya.

Petugas otopsi menunjukkan sejumlah peluru senapan angin yang diambil dari jasad orangutan di RS Pupuk Kaltim, Rabu (7/2/2018).
Petugas otopsi menunjukkan sejumlah peluru senapan angin yang diambil dari jasad orangutan di RS Pupuk Kaltim, Rabu (7/2/2018). | Habitat Centre for Orangutan Protection

Menghitung jumlah orangutan tersisa

Bercermin dari kasus di Barito dan TNK ini, Ramadhani menyimpulkan ancaman gawat pada upaya pelestarian satwa orangutan Kalimantan. Intensitas konflik manusia dan orangutan makin meningkat seiring gencarnya pemberdayaan perekonomian industri perkebunan dan kehutanan.

"Konflik berkepanjangan antara manusia dan primata orangutan di Kalimantan meningkat. "Kami mendata setidaknya ada 25 kasus pembantaian orangutan terjadi di seluruh Indonesia," ungkapnya.

Konflik tak terhindarkan karena primata orangutan dan manusia punya kecenderungan pemilihan lokasi hidup (habitat) yang sama. Orangutan punya cenderung memilih kawasan dataran rendah dan subur. Lokasi itu justru disukai manusia karena cocok untuk budidaya perkebunan kelapa sawit dan karet.

Kesamaan selera ini berakibat peningkatan intensitas gesekan antara manusia dan orangutan. Repotnya, sejumlah kasus pembantaian orangutan bermula dari anggapan bahwa orangutan adalah hama perusak perkebunan kelapa sawit.

Di Kaltim, Ramadhani mencatat ada tujuh kasus pembantaian orangutan yang menggunakan senapan angin dalam enam tahun terakhir (2012-2018). Tujuh orangutan korban pembantaian itu adalah Selton (TNK), Windi (Kaltim), Muslimah (Berau), Ponti (Grogot), Kaluhara 1 (TNK), Mema (Kaltim), dan Kaluhara 2 (TNK).

Ramadhani belum lagi menghitung penganiayaan atau pembantai orangutan yang tidak menggunakan senapan angin. Sebab ada dua dari empat kasus lain yang dilakukan dengan pembakaran di Bontang dan pembacokan di Sangata.

Ramadhani meminta aparat polisi serius mengungkap kasus pembantaian orangutan di Kalteng. Ia mencontohkan bagaimana polisi begitu cepat, kurun sepekan, dalam mengungkap kasus serupa di Kalteng.

"Hanya dalam kurun sepekan mereka mampu menangkap tersangkanya, padahal bangkai orangutan hanyut terbawa sungai," ungkapnya.

Menurut Ramadhani, tanpa keseriusan polisi, tidak akan ada efek jera. Padahal ketegasan proses hukum menegakkan Undang Undang Konservasi bisa menghentikan kasus ini.

"Ada anggapan, apalah artinya orangutan yang harganya cuma Rp30 juta per individu. Namun nilai sesungguhnya penyelamatan orangutan mencapai ratusan juta rupiah dan nilai sesungguhnya orangutan tidak ternilai harganya," tegasnya.

Hingga saat ini, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sunandar Trigunajasa, masih mengumpulkan informasi soal pembantaian orangutan yang sekian kalinya terjadi. Ia menyesalkan peristiwa pembantaian ini meskipun aparat hukum tegas menindak pembunuhan orangutan yang masuk katagori satwa sangat terancam punah.

"Setelah pengumpulan informasi akan dipublikasi hasil temuan di lapangan ini," paparnya.

Sunandar mengakui, populasi orangutan Kalimantan kian terdesak akibat aktivitas perekonomian manusia saat ini. Sejumlah kajian menyebutkan populasi orangutan yang tersisa hanya 50 ribu ekor.

Namun Sunandar meragukan hasil kajian ini karena keberadaan orangutan semakin sulit dijumpai di hutan-hutan Kalimantan. Keberadaan sarang orangutan, menurutnya bukan menjadi cerminan sesungguhnya populasi orangutan Kalimantan.

"Orangutan sangat sulit ditemui. Survei jumlah populasi orangutan hanya berdasarkan sarangnya yang berhasil ditemui di pohon-pohon," jelasnya.

Satu satu cara menjaga keberadaan orangutan, menurut Sunandar, adalah terus menjaga kelestarian hutan di Kalimantan. Pemerintah daerah juga harus berkomitmen dalam melakukan moratorium penerbitan izin perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR