POLA MAKAN

Konsumsi kalori, di antara kenikmatan dan kesehatan

Pedagang membungkus minuman untuk dijual di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/5/2019).
Pedagang membungkus minuman untuk dijual di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/5/2019). | Sigid Kurniawan /ANTARA FOTO

Kesejahteraan meningkat tak menjamin asupan lebih sehat. Hal ini terlihat dalam perubahan pola konsumsi kalori masyarakat Indonesia.

Energi untuk beraktivitas didapat dengan mencukupi kebutuhan kalori dari konsumsi makanan dan minuman. Setiap orang membutuhkan energi dalam jumlah yang berbeda. Hal ini tergantung pada usia, jenis kelamin, ukuran, dan tingkat aktivitas.

Pada 2013 rata-rata konsumsi kalori penduduk Indonesia sebesar 1.842,75 kkal (kilo kalori). Sedangkan tahun 2018 sebesar 2.147,09 kkal, naik sebesar 304.34 kkal.

Orang Indonesia gemar makan nasi. Pada tahun 2000, beras masih menyumbang 60 sampai 65 persen dari total konsumsi energi penduduk di negeri ini.

Namun, sejak tahun 2000 hingga tahun 2012, konsumsi kalori yang berasal dari komoditas padi-padian berkurang lumayan signifikan.

Pada tahun 2012, konsumsi kalori yang berasal dari beras sebesar 894,93 kkal atau 50 persen dari total konsumsi kalori secara keseluruhan. Turun lagi 875,53 kkal, atau setara dengan 44 persen dari total konsumsi kalori pada 2015.

Pada tahun 2018, kembali turun menjadi 838,03 atau 39 persen dari total konsumsi kalori.

Kesejahteraan masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Tidak melulu nasi, tahun demi tahun, konsumsi kalori dari kelompok makanan lain seperti ikan, daging, telur, dan susu juga minyak dan kelapa, serta sayur dan buah pun naik.

Tren konsumsi kalori orang Indonesia terus naik, namun konsumsi kalori dari beras justru berkurang. Jika pada 2012, 50 persen sumber kalori orang kita diperoleh dari padi-padian, pada 2018 jumlah ini berkurang menjadi 41 persen saja.

Pola berkurangnya konsumsi beras, dan bertambahnya konsumsi kelompok makanan lain sebenarnya sudah sesuai dengan program Isi Piringku yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.

Satu piring makan idealnya terdiri atas 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen karbohidrat serta protein. Nasi (sumber karbohidrat) dan sayur (sumber vitamin dan mineral) porsinya sama, lebih besar daripada lauk pauk (sumber protein) dan buah (sumber vitamin dan mineral).

Yang jadi masalah, berkurangnya konsumsi beras justru dibarengi dengan melonjaknya konsumsi kalori dari makanan dan minuman jadi. Alih-alih semakin rajin mengolah makanan di dapur sendiri, orang Indonesia jadi makin getol jajan.

Jika pada 2012 konsumsi kalori dari kelompok makanan tersebut hanya sebesar 265,55 kkal atau 14,3 persen dari total sumber kalori, naik menjadi 396,77 kkal pada tahun 2015, dan naik hingga 528,42 kkal atau 24,6 persen pada tahun 2018.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia mengalami kenaikan. Termasuk di dalamnya, kanker, strok, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Dari tiga faktor risiko utama yang menyebabkan hal ini, pola makan adalah salah satunya. "Yang terkait dengan perilaku atau diet seperti makannya tidak seimbang, kurang olahraga dan sebagainya," ungkap Kepala Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siswanto.

Angka obesitas pada 2013 hanya 14,8 persen, pada 2018 naik menjadi 21,8 persen. Diabetes melitus naik dari dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Sementara hipertensi naik dari 25,8 persen menjadi 34,1 persen.

Makin hari, jajan makin gampang. Pilihan makanan pun terus bertambah. Tak heran jika orang makin gemar membeli makanan ketimbang memasaknya sendiri.

Layanan pesan antar makanan Go Food--yang merupakan bagian dari Go-Jek--mengungkap, pada 2018 telah mengirimkan lebih dari 16 juta porsi makanan dan minuman ke masyarakat Indonesia.

Siapa yang paling gemar jajan? Rupanya, mereka yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Orang Jogja paling gemar membeli makanan dan minuman dari warung pun restoran. Menilik konsumsi kalori, dari 2.224 Kkal per hari, 34 persennya berasal dari kelompok makanan dan minuman jadi.

Kota ini terkenal sebagai kota pelajar. Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenristek Dikti, Jamal Wiwoho, pun mengakui status itu masih valid hingga kini.

Salah satu yang membuatnya jadi magnet pelajar adalah biaya hidup yang murah, termasuk untuk makan.

"Nyari tempat makan mudah, harganya juga murah-murah. Ada yang Rp5 ribu-10 ribu sekali makan. Contohnya masakan padang, di Padang itu harganya bisa Rp20 ribu-25 ribu, di Yogya Rp10 ribu sudah dapat ayam, kalau pesan lewat aplikasi malah bisa Rp7 ribu," tutur Laras Dika Youlanda (20), mahasiswi UPN Veteran, Jogja.

Bagaimanapun, status anak kos tak bisa jadi alasan makan sembarangan. "Kalau mau hidup lebih teratur, yuk kita bikin rencana. Bikin rumah juga harus direncanain, orang mau sehat juga begitu," ujar ahli gizi Dr. dr. Tan Shot Yen, M. Hum.

Anak kos bisa membuat daftar menu selama satu minggu. Lalu membuat rencana belanja dari situ. Ia memberi contoh menu makan pagi yang sehat. Nasi merah, pecel, tempe, telur rebus pindang, dan buah pisang.

"Setiap weekend ke pasar, beli bahan makanan yang dibutuhkan. Kalau sudah, sampai di kos jangan langsung masukkan semua belanjaan ke kulkas (dalam bentuk utuh). Disiapin dulu satu per satu pakai kotak makan, supaya bisa langsung dimasak. Jadi bayangkan kalau kalian mau masak semuanya hari itu juga," papar Dr. Tan.

Apa yang dikatakan Tan, sebenarnya juga bisa diterapkan orang pada umumnya. Masalahnya kemudian ada pada waktu dan kemauan yang sering kali tak berbanding lurus dengan kesehatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR