PENDIDIKAN

Kontroversi rencana Sekolah Ibu di Bandung Barat

Suasana wisuda angkatan pertama Sekolah Ibu Kota Bogor di Kampus IPD Dramaga, Bogor, Jawa Barat (6/10/2018)
Suasana wisuda angkatan pertama Sekolah Ibu Kota Bogor di Kampus IPD Dramaga, Bogor, Jawa Barat (6/10/2018) | Pemkot Bogor /Shutterstock

Program yang positif, jika disampaikan dengan cara yang keliru, malah bisa menimbulkan reaksi negatif. Tampaknya hal Itulah yang terjadi saat Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengumumkan akan mengadakan program Sekolah Ibu.

Sekolah Ibu merupakan program yang pada awalnya dicetuskan oleh Pemerintah Kota Bogor. Tujuannya adalah untuk pemberdayaan perempuan, terutama ibu rumah tangga.

Keberhasilan program inovasi dari Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor itu dipuji Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang berencana untuk menerapkannya di seluruh daerah di Jabar.

KBB menjadi salah satu yang tertarik dan ingin segera mengadopsi program pendidikan bagi para ibu rumah tangga tersebut mulai tahun 2019.

Akan tetapi, promosi program yang dilakukan Wakil Bupati KBB, Hengky Kurniawan, melalui media sosial malah memicu kontroversi.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Hengky terlebih dulu memaparkan tentang tingkat perceraian di KBB dan mengisyaratkan salah satu tujuan program Sekolah Ibu adalah untuk mengurangi angka perceraian tersebut.

"...ibu makin sayang suami, kompak dengan anak, dan tentunya keluarga akan lebih bahagia," tulisnya di kolom kapsi.

Keruan tulisan mantan artis sinetron yang berubah haluan ke dunia politik itu langsung ditanggapi dengan protes keras dari para perempuan. Kalimat yang ditulisnya membuat Hengky dianggap seolah membebankan tanggung jawab pernikahan hanya kepada perempuan.

Koordinator Seknas Forum Pengada Layanan (FPL) bagi Perempuan Korban Kekerasan, Venny Siregar, menegaskan perceraian bisa terjadi karena banyak hal yang juga dipicu oleh suami. Ia menyatakan KBB lebih baik membuat program lain untuk mengurangi perceraian, misalnya konseling suami-istri.

Sementara aktivis Komnas Perempuan, Nina Nurmila, menyatakan, berdasarkan penelitiannya di Pengadilan Agama Cimahi, faktor utama penyebab perceraian di Bandung Barat adalah masalah ekonomi.

“Jadi yang hasil wawancara saya dengan hakim dan observasi saya selama sidang, cekcok itu masalah ekonomi, misalnya suami tidak punya pekerjaan, tapi tidak ada upaya untuk mencari, berusaha, sehingga istri kesal,” papar Nina kepada Tirto (30/12).

Oleh karena itu, menurutnya, solusi yang diberikan oleh Pemkab Bandung Barat sebaiknya bukan 'Sekolah Ibu', melainkan lapangan kerja bagi para suami yang belum memiliki pekerjaan.

Protes serupa juga dilayangkan oleh Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni.

"Saya sering berpendapat, kita ini mau emansipasi atau eksploitasi. Kalau mau emansipasi itu pembebasan dari ketertindasan termasuk kebebasan berpikir dan berpendapat,” ungkap Budi saat dihubungi VIVA, Minggu (30/12).

Sementara Tsamara Amany, ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia, menyampaikan protes yang sama melalui Twitter.

Menurut catatan Hukumonline, tren perceraian di 29 Pengadilan Agama seluruh Indonesia periode 2015-2017 mengalami peningkatan. Dibanding jumlah pengajuan cerai talak, cerai gugat selalu terbanyak; 60-70 persen dari total perkara.

Penyebabnya, menurut data 2017, didominasi faktor perselisihan dan pertengkaran terus menerus, kemudian persoalan ekonomi. Ketiga, meninggalkan salah satu pihak.

Menanggapi ramainya aksi protes terhadap dirinya, belakangan Hengky menyunting catatan pada Instagram, meminta maaf, dan menutup kolom komentar pada foto yang jadi kontroversi tersebut.

"Note: tidak ada yang menyalahkan ibu dalam kasus perceraian..." tulisnya.

Apa sebenarnya Sekolah Ibu?

Seperti telah disebutkan pada awal tulisan ini, Sekolah Ibu merupakan program gagasan TP PKK Kotamadya Bogor, yang dipimpin Yane Ardian, istri dari Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Sekolah Ibu telah dijalankan di 68 kelurahan di Kota Bogor sejak 19 Juli 2018. Pada dasarnya, menurut Yane, program ini dilakukan untuk memberdayakan kaum perempuan untuk berperan aktif meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

"Bagaimana seorang ibu yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa, tanggung jawab yang besar dalam keluarga, kita tambah wawasannya sehingga dia menjadi sosok yang tangguh dalam keluarga untuk melindungi keluarganya," tutur Yane dalam situs resmi Pemkot Bogor.

"Kita dorong kaum ibu untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam melaksanakan peran dalam rumah tangga tidak hanya sebagai sorang istri, melainkan manajemen gizi, manajer keuangan, psikolog, doker dan guru bagi anak-anaknya."

Kriteria perempuan yang bisa masuk Sekola Ibu, menurut Yane kepada Antaranews.com, adalah perempuan yang menikah atau pernah menikah dan memiliki anak. Tak ada batasan usia bagi para ibu itu.

Pada peresmiannya, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto juga sempat mengatakan bahwa Sekolah Ibu merupakan langkah awal mewujudkan kota ramah keluarga dan kota ramah anak, juga sebagai penguatan ketahanan keluarga di Kota Bogor.

DPRD Kota Bogor pun menyetujui anggaran Rp4,08 miliar yang diajukan untuk program tersebut.

Kegiatan belajar di Sekolah Ibu dilaksanakan dua kali dalam seminggu di Bogor, yakni Senin dan Kamis pada pukul 13.00-15.00 WIB. Kegiatannya menempati aula pada setiap kelurahan.

"Sekolah Ibu ini merupakan yang pertama di Jawa Barat, bahkan mungkin di Indonesia," kata Yane, dikutip Okezone (17/7).

Materi yang diberikan di Sekolah Ibu terdiri dari tiga bab dengan total 18 modul yang disusun oleh para pengurus Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK). Bab yang diajarkan mencakup Menuju Gerbang Pernikahan (Bab I), Membangun Keluarga Bahagia (Bab II), dan Membangun Generasi Unggul (Bab III).

Penyusunan kurikulum itu juga dilakukan Pemkot Bogor bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Tenaga pengajarnya ada 68 orang dari latar belakang berbeda, mulai dari psikolog, dosen, profesor, polwan, hingga perempuan karier.

Pada 6 Oktober 2018, sebanyak 2.040 orang peserta angkatan pertama Sekolah Ibu Kota Bogor berhasil lulus dan menjalani upacara wisuda di Kampus IPB Dramaga. Wisuda angkatan kedua, sebanyak 1.020 orang, berlangsung pada Jumat (28/12).

Menanggapi kontroversi Sekolah Ibu di Bandung Barat, Yane menyatakan Hengky memang sempat melakukan studi banding ke Kota Bogor

"Dan saat itu banyak testimoni dari Para Peserta Sekolah Ibu bahwa setelah mengikuti Sekolah Ibu mereka lebih mudah berkomunikasi dan memahami suami dan anak-anak. Sehingga keharmonisan dalam rumah tangga terbangun," terang Yane kepada detikcom (30/12).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR