KERUSAKAN LINGKUNGAN

Korban jiwa akibat lubang eks-tambang belum berhenti

 Lokasi pertambangan batu bara di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Lokasi pertambangan batu bara di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Korban tewas akibat lubang bekas tambang di Kalimantan Timur (Kaltim) terus tumbuh. Minggu (21/4/2019), Rizki Nur Aulia (14) menjadi korban tewas terbaru setelah tenggelam di lubang bekas galian batu bara di Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sekitar pukul 18.00 WITA.

"Ada laporan korban meninggal di lokasi lubang," kata Ketua RT 10 Desa Bunga Kukar, Kuswanto, Jumat (26/4).

Kuswanto menjelaskan, lokasi tenggelam merupakan lubang lebar bekas galian yang penuh berisi air. Kawasannya terbuka untuk umum tanpa dilengkapi papan larangan atau pagar pembatas.

Lubang ini merupakan bekas galian perusahaan pertambangan sejak dua tahun silam. Perusahaan bersangkutan meninggalkan lokasi eksplorasi tanpa reklamasi.

Menurut LSM Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, korban meninggal akibat lubang tambang saat bermain bersama empat rekannya. Putri pasangan Wiyono dan Sri Rahayu ini ditemukan tewas di lubang bekas tambang PT Mandala Usaha Tambang Utama (Mutu).

"Sudah kami pastikan informasinya jatuhnya korban di lubang bekas tambang," kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradharma Rupang.

PT Mutu merupakan pemegang dua konsesi pertambangan di Kukar, masing-masing seluas 616 hektare dan 1.059 hektare. Lokasinya hanya berjarak 57 meter dari jalanan umum masyarakat.

Pradharma menginvestigasi langsung ke rumah keluarga korban yang sedang menggelar doa untuk almarhumah. Keluarga pun membenarkan peristiwa kemalangan tersebut.

"Kami mendengar ada korban tewas dari salah satu sumber masyarakat. Saat kami cek memang ada yang meninggal tenggelam dan keluarganya menggelar acara tahlilan," papar Pradharma.

Dengan peristiwa terbaru, jumlah korban akibat bekas lubang tambang di Kaltim menjadi 33 orang. Para korban tewas akibat lubang maut di Kukar, Samarinda, Kutai Barat, dan Penajam Paser Utara.

"Korban paling banyak tercatat ada di Kukar sebagai kabupaten terkaya di Kaltim," imbuh Pradharma.

Ironisnya, peristiwa seperti ini belum kelihatan bakal berhenti. Menurut Pradharma, aparat pemerintah daerah (pemda) lemah menanggulangi dampak negatif lubang bekas tambang.

Ia bahkan ragu pihak Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kaltim mengetahui jatuhnya korban di lubang milik PT Mutu. Sesuai pengalamannya, aparat daerah biasanya merupakan pihak terakhir yang mengetahui adanya permasalahan di lapangan.

"Kami kebetulan tahu informasinya dari laporan warga yang peduli pada hal ini. Sepertinya Distamben Kaltim juga belum mengetahuinya," ungkapnya.

Saat dihubungi, Kepala Distamben Kaltim Wahyu Widhi Heranata mengaku belum menerima laporan kejadian ini. "Nanti saya cek laporan anggota Distamben Kaltim," paparnya kepada Beritagar.id.

Pradharma melanjutkan, ketidaktahuan petugas lapangan membuktikan minimnya pengawasan tentang bahaya lubang bekas galian pertambangan. Selama bertahun-tahun, Pemprov Kaltim lambat mengatasi permasalahan lubang bekas tambang hingga jatuh korban mencapai 33 jiwa.

Selama ini, Jatam sudah berulang kali mempublikasi adanya 1.488 izin usaha pertambangan (IUP) konsesi Kaltim seluas 5,4 juta hektare. Jumlah tersebut belum termasuk izin Perjanjian Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) seluas 1,3 juta hektare.

"Sehingga hitungan kasar sementara diperkirakan lubang bekas tambang sebanyak 4.464 di Kaltim," ungkap Pradharma.

Soal jatuhnya korban jiwa, Pradharma pun sudah meminta pencabutan izin pertambangan yang dianggap non clear and clean (CNC) sebanyak 826 izin. Hanya saja, rekomendasi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) ini diabaikan pemerintah daerah.

"Pemprov Kaltim malah memperpanjang sejumlah IUP tambang bermasalah non CNC. Selama ini apa kerja mereka? Bukannya berkurang, tapi pertambangan makin marak di Kaltim," keluhnya.

Selama kepemimpinan Gubernur Isran Noor, Pradharma menyebutkan, ada empat korban tewas tenggelam di lubang tambang. Sementara ketika menjabat Bupati Kutai Timur, ia sudah mengobral 161 IUP minerba.

Jatam Kaltim pun risau karena korban tenggelam akibat lubang bekas tambang belum akan terhenti. Sejumlah rekomendasi penggiat lingkungan soal pencegahan dampak negatif pertambangan pun terus diabaikan.

Permasalahannya, mayoritas lokasi lubang bekas tambang beririsan langsung dengan permukiman masyarakat setempat. Mayoritas perusahaan tambang di Kaltim mengabaikan penanganan lubang tambang yang tidak ekonomis.

"Mereka semestinya memasang pagar, menandai dengan papan pengumuman atau menugaskan orang untuk menjaga. Sesuai aturannya, perusahaan juga wajib mereklamasi lokasi galian menjadi seperti sedia kala," ujar Pradharma.

Bencana akibat lubang tambang seolah jadi hal biasa di Kaltim. Selain korban jiwa, jalan pun bisa amblas seperti terjadi di Kelurahan Muara Jawa Kukar, pada Desember 2018. Jalan penghubung sepanjang 10 meter itu tergerus aktivitas pertambangan batu bara PT Adimitra Baratama Nusantara.

Meskipun tidak membawa korban jiwa, peristiwa itu memicu tanah longsor sehingga menimbun enam rumah warga sekitar. Keberadaan permukiman warga dan aktivitas pertambangan terpisah perbukitan berjarak 100 meter.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR