INTERNASIONAL

Korban jiwa akibat topan Hagibis dilaporkan jadi 37 orang

Seorang ayah dengan putrinya menyaksikan banjir yang menggenangi wilayah Nagano di Prefektur Nagano, Jepang tengah, akibat topan Hagibis, pada Minggu (13/10/2019).
Seorang ayah dengan putrinya menyaksikan banjir yang menggenangi wilayah Nagano di Prefektur Nagano, Jepang tengah, akibat topan Hagibis, pada Minggu (13/10/2019). | Kimimasa Mayama /EPA-EFE

Korban jiwa akibat topan Hagibis di pesisir timur Jepang bertambah. Setelah empat orang dilaporkan meninggal pada Minggu (13/10/2019), berbagai media lokal menyebutkan korban jiwa menjadi 37 orang dan sedikitnya 17 orang masih hilang pada Senin (14/10).

Adapun informasi resmi dari pemerintah Jepang menyebut korban jiwa 14 orang dan 11 orang hilang. Di antara korban jiwa terdapat seorang pekerja yang hanyut bersama mobilnya akibat banjir dan sedikitnya lima pelaut Tiongkok yang tenggelam di Teluk Tokyo pada Sabtu (12/10) malam.

Topan Hagibis, yang disebut terbesar untuk Jepang dalam 60 tahun terakhir, menghantam pada Sabtu (12/10) malam dan menghilang pada Minggu (13/10) pagi. Namun, jejak peninggalannya tersisa di ibu kota Tokyo dan kawasan sekitar --termasuk banjir hingga Jepang tengah akibat hujan dengan intensitas terparah di kota Hakone.

Belasan sungai meluap sehingga kota-kota digenangi banjir. Misalnya di Nagano, Jepang tengah ketika sungai Chikuma meluap dan membanjiri kawasan permukiman hingga setinggi dua lantai rumah.

Di Nagano pula, depot kereta super cepat Jepang tergenang banjir. Alhasil, Jepang menderita kerugian hebat dalam urusan transportasi karena satu rangkaian kereta ini bernilai AS $30 juta atau sekitar Rp423 miliar.

Sekitar 262 ribu rumah sempat tak punya akses listrik, tapi jumlahnya turun hingga 92 ribu rumah pada Minggu (13/10). Namun, 120 ribu rumah masih kehilangan akses air bersih.

Lebih dari tujuh juta orang dipaksa mengungsi dari rumahnya saat topan menerjang. Namun media lokal menyebut hingga kini tinggal 50 ribu yang ada di pos pengungsian.

Tiga wilayah terparah akibat terjangan topan Hagibis di Jepang.
Tiga wilayah terparah akibat terjangan topan Hagibis di Jepang. | BBC

Topan Hagibis Hagibis juga memicu tanah longsor di pulau Honshu pada Sabtu (12/10). Menurut informasi dari pemerintah Jepang, total ada 48 tanah longsor yang terjadi di 12 prefektur. Adapun angin yang dibawa badai berkecepatan 216 kilometer dan saat itu terjadi Tokyo diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,7 --bukan 5,3 seperti diberitakan kemarin.

Badai juga sempat menghambat persiapan balap mobil Formula 1 di Suzuka dan menunda dua laga Piala Dunia Rugby di Jepang. Namun pada Minggu (13/10), tim Jepang berhasil mengalahkan Skotlandia 28-21 dan lolos ke perempat final untuk pertama kalinya.

Keberhasilan Jepang pun menjadi pelipur lara bagi warga yang terdampak bencana alam ini. Pelatih Jamie Joseph pun mempersembahkan kemenangan ini untuk para korban.

"Pertandingan ini untuk Anda semua yang menderita karena topan Hagibis. Dukungan penonton sungguh luar biasa dan hari ini lebih dari sekadar pertandingan," ujar pelatih asal Selandia Baru itu dilansir BBC.

Ratusan ribu penyelamat diterjunkan

Rumah, mobil ,dan tiang listrik hancur akibat terjangan topan Hagibis di daerah Ichihara, timur Tokyo, Jepang, Sabtu (12/10/2019).
Rumah, mobil ,dan tiang listrik hancur akibat terjangan topan Hagibis di daerah Ichihara, timur Tokyo, Jepang, Sabtu (12/10/2019). | Antara Foto/Reuters/Kyodo

Pemerintah Jepang pun mulai melakukan pembersihan dan pembenahan pascabencana. Al Jazeera melaporkan lebih dari 100 ribu penyelamat gabungan diterjunkan, termasuk 31 ribu prajurit Pasukan Bela Diri Jepang.

Mereka bertugas mengangkut puing-puing dan serpihan bangunan serta pohon akibat topan Hagibis. Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan para petugas gabungan akan fokus menyelamatkan warga yang terjebak oleh banjir dan mencari mereka yang hilang.

"Pemerintah akan melakukan segalanya, termasuk bekerja sama dengan lembaga terkait, untuk mengembalikan pelayanan secepat mungkin," ujar Abe.

Pemerintah Jepang pun dipastikan akan memiliki pekerjaan tambahan karena pada akhir September lalu sedikitnya ada 33 ribu rumah yang belum sempat diperbaiki akibat topan Faxai. Sebagian warga pun tak yakin apakah mereka bisa kembali ke rumah karena kediamannya sudah hancur.

"Saya menyaksikan rumah saya tersapu rata. Saya tak tahu apakah ini mimpi atau kenyataan. Saya beruntung masih bisa hidup," tutur seorang perempuan di Nagoya stasiun televisi NHK.

Sementara di Higashi Matsuyama, prefektur Saitama, tenggara Tokyo, para petani menghitung kerugian lahan padi yang puso akibat banjir.

"Kami belum pernah mengalami banjir seperti ini. Saya tak tahu harus mulai dari mana untuk membereskan ini semua," ujar seorang petani yang menolak memberi namanya kepada Channel News Asia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR