Korban tewas kapal tenggelam di Malaysia jadi 61

Tim SAR Malaysia sedang melabuhkan kapalnya usai melakukan usaha pencarian korban kapal tenggelam yang membawa 83 TKI ilegal  di perairan Malaysia (3/9/2015) lalu
Tim SAR Malaysia sedang melabuhkan kapalnya usai melakukan usaha pencarian korban kapal tenggelam yang membawa 83 TKI ilegal di perairan Malaysia (3/9/2015) lalu | Ahmad Yusni /EPA

Jumlah korban kapal kayu yang tewas tenggelam di perairan Malaysia, 3 September lalu, telah mencapai 81 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 61 di antara mereka meninggal dunia.

Dikutip dari Fox News, Pejabat Badan Maritim Malaysia Mohamad Hambali Yaakup mengatakan, korban tewas terdiri dari 37 pria, 23 wanita dan satu balita perempuan.

Hanya 20 orang yang selamat dalam tragedi yang terjadi Kamis pekan lalu ini.

"Jika hari ini kami tidak menemukan korban lagi dalam pencarian, kami akan memanggil pulang para tim pencari besok," kata Kepala Tim SAR Malaysia, Robert Teh, kepada Reuters.

Kapal kayu yang ditumpangi tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ini diyakini terguling ombak akibat berlebihan muatan dan cuaca buruk.

Asminah, salah satu korban selamat, mengatakan ini adalah kepulangan pertamanya selama tiga tahun bekerja di Malaysia.

Asminah yang pulang dalam rangka libur Idul Adha, berencana memberikan kejutan kepada keluarganya.

Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono mengatakan pihak Kedutaan Besar RI tengah menunggu hasil proses identifikasi.

Sejauh ini, baru terdapat 17 jasad yang bisa dikenali keluarga masing-masing. Sedangkan, lima jasad lainnya dikenali berkat kartu identitas dan paspor yang melekat pada pakaian mereka.

"Setelah pihak keluarga dapat mengidentifikasi, kami akan memulangkan tujuh jenazah pada Senin (7/9/2015) dan enam jenazah pada Selasa (8/9/2015)," kata Hermono kepada BBC Indonesia.

Sementara untuk 20 korban selamat, lanjut Hermono, saat ini sedang diamankan oleh pihak aparat Malaysia karena pelanggaran undang-undang keimigrasian serta keluar dari Malaysia secara ilegal.

Meski demikian, KBRI tengah mengupayakan agar mereka tidak perlu menjalani proses hukuman di Malaysia.

"Mudah-mudahan disetujui. Jika begitu, KBRI yang akan biayai kepulangan mereka," tegas Hermono.

Di sisi lain, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memastikan tetap mengurus pemulangan para TKI yang menjadi korban tenggelamnya kapal kayu Malaysia.

Kepala BNP2TKI telah memerintahkan Kepala Balai Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI), Aceh Mukhtar, untuk berkoordinasi dengan Biro Humas Setda Aceh sebagai pusat layanan korban untuk menelusuri identitas TKI untuk kemudian dipulangkan ke keluarga masing-masing.

"Kita tetap perjuangkan, tetap dikawal proses pemulangan. Tetapi kita juga tekankan bahwa penting bagi mereka yang ingin menjadi TKI di luar negeri agar melalui jalur formal, agar dokumen kerja jelas, penempatan jelas, kontrak jelas, sehingga kalau ada apa-apa lebih mudah kita perjuangkan hak-haknya," kata Nusron Wahid seperti yang dikutip Kompas.com, di Jakarta, Minggu (6/9/2015).

Otoritas Malaysia memperkirakan ada sekitar 6 juta TKI legal dan ilegal yang bekerja di berbagai sektor seperti konstruksi, perkebunan, pabrik dan pembantu rumah tangga.

Insiden seperti ini dilaporkan sudah sering terjadi di Malaysia, apalagi ada sekitar 2 juta TKI ilegal tercatat bekerja di Negeri Jiran ini

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR