Korea Utara belum berniat redakan konflik

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un pada layar sebuah televisi di Tokyo, Jepang
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un pada layar sebuah televisi di Tokyo, Jepang | Kimimasa Mayama /EPA-EFE

Korea Utara sepertinya belum memiliki niatan untuk meredam konflik yang terus memanas di Semenanjung Korea sejak beberapa bulan terakhir.

Jumat (15/9/2017), sekitar pukul 07.06 waktu Jepang (atau sekitar 05.06 WIB), sistem J-Alert Jepang menangkap pergerakan sebuah rudal yang meluncur sejauh 3.700 kilometer dengan ketinggian maksimum 770 kilometer, yang kemudian jatuh di sekitar 2.000 kilometer sebelah timur Hokkaido, Jepang.

CNN melaporkan, rudal tersebut kemungkinan besar berangkat dari sebuah lokasi dekat bandara Sunan, Korea Utara.

Ini merupakan rudal kedua yang diluncurkan Korea Utara tepat di atas langit Jepang pada bulan ini. Jika ditotal, sepanjang tahun ini, negara yang dipimpin Kim Jong-un itu telah meluncurkan tujuh misil balistiknya ke arah Samudera Pasifik.

Peluncuran ini bukan tanpa sebab. Awal pekan ini, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menjatuhkan sanksi untuk Korea Utara karena aksi peluncuran enam rudal balistik dan satu bom hidrogen terkuat.

Sanksi terbaru ini sebenarnya tak sekuat sanksi yang dijatuhkan awal Agustus 2017 yang dapat membuat Korea Utara mengalami kerugian hingga miliaran dolar Amerika Serikat.

New York Post menyebut sanksi "lemah" muncul karena kekuatan diplomasi Rusia dan Tiongkok yang menolak penyitaan sementara kapal-kapal (embargo) minyak dari dan untuk Korea Utara.

Resolusi terbaru PBB untuk Korea Utara itu juga mewajibkan inspeksi-inspeksi kapal tersebut harus dilengkapi dengan persetujuan dari negara asal kapal tersebut terdaftar.

Inspeksi ini juga berlaku untuk kapal-kapal yang diduga membawa senjata dan bahan-bahan peledak lain ke Korea Utara.

Resolusi yang disusun oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki R. Haley ini diperkirakan dapat menurunkan nilai impor yang dilakukan sejumlah negara ke Korea Utara hingga 30 persen.

Tiongkok memang mengecam aksi rudal balistk yang kerap diluncurkan Korea Utara, namun di sisi lain, Negeri Tirai Bambu ini cukup peduli dengan nasib warga Korea Utara jika sanksi-sanksi yang bisa membuat negara ini kolaps terus dijatuhkan.

"Tiongkok lebih mengedepankan dialog untuk menyelesaikan masalah," ucap utusan Tiongkok untuk PBB, Liu Jieyi dalam VOA.

Dalam sebuah catatan khusus, seorang pejabat Inggris menyebut jika resolusi ini akhirnya diratifikasi, maka bukan tidak mungkin pada musim dingin yang akan datang, foto anak-anak kelaparan dan kedinginan akan banyak beredar dari Korea Utara.

Di sisi lain, Korea Utara semakin tak mengindahkan sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada negaranya. Atau paling tidak membicarakan opsi lain untuk sanksi tersebut.

Korea Utara justru semakin memanaskan suasana dengan mengancam akan menenggelamkan Jepang dan membuat Amerika Serikat menjadi abu.

Kamis (14/9/2017), Korea Utara mengeluarkan sebuah pernyataan melalui kantor beritanya (KNCA), yang kemudian dikutip Al-Jazeera, bahwa Amerika Serikat harus "dipukuli sampai mati" karena telah mempelopori hukuman.

"Empat pulau di sepanjang semenanjung harus ditenggelamkan ke dasar laut oleh bom nuklir. Kita sudah tidak memerlukan Jepang lagi," sebut pernyataan itu.

Terlepas dari sanksi yang ada, Nikki Haley mengklaim pada dasarnya pihak Amerika Serikat masih menginginkan penyelesaian konflik secara damai dengan Korea Utara. Hanya saja, Korea Utara tak pernah menanggapi dengan baik niatan itu.

"Jika saja Korea Utara sepakat untuk menghentikan program nuklirnya, maka mereka bisa merebut kembali masa depannya," tutup Nikki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR