Korea Utara dan perempuan mata-mata

Won Jeong-hwa, perempuan yang sempat dijuluki sebagai "Mata Hari dari Korea Utara".
Won Jeong-hwa, perempuan yang sempat dijuluki sebagai "Mata Hari dari Korea Utara".
© Lee Jin-man /AP Photo

Seorang pria berkebangsaan Korea Utara menjadi target pembunuhan di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (13/2).

Peristiwa itu menjadi berita besar karena sosok dimaksud adalah abang tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, sebagaimana telah dikonfirmasi wakil perdana menteri Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi.

Kim Jong-nam, nama si celaka, diwartakan telah lama masuk daftar orang yang harus dihabisi. Karena itu, ia acap kali bepergian dengan nama samaran. Dan pada hari ia dibunuh, tanda pengenal dengan nama Kim Chol ditemukan bersamanya.

Tersangka pembunuh, menurut otoritas setempat, adalah dua orang perempuan. Keduanya telah diringkus. Dalam sebuah pengakuan, masing-masing tersangka mengira aksi mereka cuma laku usil belaka. Siti Aisyah, 25 tahun, tersangka dari Indonesia, diberitakan menerima USD100 untuk mengerjakan tugasnya.

Kecurigaan mengenai keterlibatan pemerintah Korea Utara lewat tangan agen rahasia lapangan pun meruap. Dan jika memang itu kenyataannya, maka Siti dan dan sang rekan, Doan Thi Huong yang berkebangsaan Vietnam, menambah lagi lis mata-mata perempuan Korea Utara.

Mengambil satu yang layak diingat dari daftar itu mungkin Kim Hyun-hui, 54 tahun. Jika meminjam deskripsi media Inggris, BBC, ibu beranak dua itu tidak terlihat seperti sosok yang telah menghilangkan nyawa banyak orang. Selain itu, ia punya suara lembut dan pandai tersenyum simpul.

Kim Hyun-hui jadi masyhur karena meledakkan pesawat Korea Selatan pada 1987: tahun ketika negeri maskapai dimaksud tengah bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade di Seoul.

"Seorang pejabat senior memberi tahu saya bahwa sebelum Olimpiade Seoul berlangsung, kami akan menjatuhkan sebuah pesawat Korea Selatan," ujarnya kepada BBC pada 2013.

Menurutnya, ia butuh enam tahun latihan sebelum hari eksekusi tiba. Tiga tahun di antaranya, ia berpasangan dengan seorang perempuan Jepang bernama Yaeko Taguchi. Gadis tersebut diculik dari rumahnya yang terletak di kawasan utara Jepang. Darinya, Hyun-hui belajar bahasa Jepang dan bersikap sebagai orang Jepang.

Usia ketika Hyun-hui direkrut, 19 tahun. Saat itu, ia masih duduk di jurusan bahasa Jepang Pyongyang University.

Dalam beraksi, Hyun-hui ditemani seorang rekan, pria berusia 72 tahun. Mereka menumpang pesawat Korea Airlines di Baghdad, Irak. Setelah berada di kabin, ia meletakkan koper berisi bom di bagasi kursinya.

Keduanya lantas kabur sewaktu pesawat transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Beberapa jam kemudian, setelah pesawat kembali mengudara dan berada di atas Laut Andaman, bom pun meledak. 115 awak dan penumpang tewas.

Sialnya, tulis BBC, rencana mereka berantakan. Jejak mereka terlacak hingga Bahrain.

Menghindari penangkapan, rekan Hyun-hui memutuskan bunuh diri dengan rokok bersalut sianida. Sementara, Hyun-hui gagal. Ia pun diterbangkan ke Seoul dan dipamerkan di hadapan media massa internasional.

Ia sudah pasrah akan kemungkinan eksekusi mati. Namun, ternyata, ia digiring menuju bungker demi menjalani proses interogasi.

Di sana ia mengaku bahwa perintah peledakan pesawat langsung datang dari Kim Il-sung atau penerusnya, Kim Jong-il.

Meski divonis mati, Hyun-hui akhirnya mendapatkan pengampunan. Ia pun menulis sejumlah buku laris dan menikah dengan salah seorang agen intelijen Korea Selatan yang menanyainya.

Lalu ada Won Jeong-hwa, yang nasibnya mungkin tidak sebaik Hyun-hui.

Media Inggris, The Guardian, menulis bahwa Won dibui pada 2008. Setelah pengadilan menyatakan bahwa ia berlagak sebagai pembelot Korea Utara dan menawarkan tubuhnya sebagai ganti informasi rahasia, media mulai menjulukinya "Mata Hari dari Korea Utara".

Julukan itu merujuk kepada penari Belanda yang rela berhubungan seks dengan petinggi militer guna menjala rahasia militer pada masa Perang Dunia I.

Setelah bebas, Won kerap diundang berbicara di televisi untuk bercerita tentang pelatihan mata-mata elit. Dalam salah satu pengakuannya, ia menyatakan pernah melawan perintah pemerintah Korea Utara untuk meracuni dua intelijen AD Korea Selatan.

Namun, media Korea Selatan agaknya menyangsikan Won. Kerjanya sebagai spion pun banyak diragukan.

Perbenturan fakta mengemuka. Pengakuan Won bahwa ayah kandungnya adalah seorang agen rahasia yang terbunuh ketika melangsungkan misi di Korea Selatan pada 1974 ditampik ayah tiri Won, Kim Dong-soon.

Menurutnya, ayah kandung Won merupakan buruh biasa yang meninggal karena serangan jantung. Won pun hanya lulusan SMA dan tak memiliki kaitan dengan pasukan operasi khusus.

Pun, sejumlah pembelot Korea Utara yang pernah bertemu Won sebelum penangkapannya pada 2008 tidak meyakini perempuan itu sebagai mata-mata hebat.

Kelasnya hanya sebagai informan semata.

Won pernah pula mengaku bahwa ia dipaksa oleh jaksa penuntutnya untuk memberikan kesaksian palsu, terutama tentang pertukaran seks untuk informasi.

Menurutnya, seks sebagai perangkat spionase hanya sempat ia manfaatkan sekali: yakni sewaktu ia hendak mencuri dokumen dari komputer seorang mayor Angkatan Darat.

"(Para jaksa) memanipulasi (kisah) hubungan saya dengan banyak pria," ujar Won dikutip The Guardian. "Saya bukan Mata Hari".

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.