DAYA SAING GLOBAL

Korupsi dan birokrasi gerus daya saing Indonesia

Seorang petugas mengawasi proses bongkar muat di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/9). Selain korupsi dan birokrasi, infrastruktur adalah masalah yang menggerus daya saing Indonesia.
Seorang petugas mengawasi proses bongkar muat di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/9). Selain korupsi dan birokrasi, infrastruktur adalah masalah yang menggerus daya saing Indonesia. | Aji Styawan /ANTARA

Masalah korupsi dan birokrasi yang berbelit membuat daya saing Indonesia turun dibanding negara-negara di dunia. Dalam laporan The Global Competitiveness Report 2016-2017, Indonesia menduduki peringkat 41 dari 138 negara yang disurvei. Posisi ini turun empat peringkat dibanding posisi tahun lalu.

Dalam survei opini eksekutif diperoleh, masalah korupsi paling banyak dikeluhkan pelaku usaha. Laporan ini meminta pelaku usaha di Indonesia memilih lima masalah yang sering mereka hadapi dalam berbisnis. Hasilnya diperoleh, korupsi menjadi masalah utama (skor 11,8), birokrasi pemerintah yang berbelit (9,3), infrastruktur (9,0), akses keuangan (8,6), dan inflasi (7,6).

The Global Competitiveness Report adalah laporan pemeringkatan tahunan yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) sejak 2005. Laporan ini didasarkan pada Global Competitiveness Index (GCI) untuk menentukan peringkat sebuah negara berdasar daya saingnya.

Dalam sejarah lima tahun ini, peringkat daya saing terbaik Indonesia dicapai dua tahun lalu. Saat itu Indonesia ada di urutan 34 dari 144 negara. Sedangkan peringkat terburuk, saat Indonesia ada di peringkat 50 dari 144 negara pada laporan lima tahun lalu.

Dalam laporan yang sudah melewati satu dekade ini , WEF menemukan negara-negara makin tak terbuka. Mereka mulai campur tangan dalam pasar. "Turunnya keterbukaan dalam ekonomi global merugikan daya saing dan mempersulit para pemimpin mendorong pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan," kata Klaus Schwab, pendiri dan ketua eksekutif WEF, dalam siaran persnya.

Laporan ini menemukan campur tangan negara-negara dengan skor GCI rendah gagal menghasilkan efek yang sama di negara-negara dengan skor GCI tinggi. Ini menunjukkan daya saing menjadi persyaratan utama untuk stimulus moneter sukses. Artinya, stimulus ekonomi tak begitu berpengaruh jika memang sebuah negara tak punya daya saing.

Negara-negara Asia Tenggara umumnya juga turun. Hanya Singapura yang kokoh bertengger di peringkat dua. Malaysia keluar dari 20 besar, terjun tujuh peringkat dan bertengger di peringkat 25. Thailand turun dua kini ada di peringkat 34. Filipina lebih kedodoran, turun sepuluh peringkat di peringkat 57. Masalah seragam yang berkembang di negara-negara ini adalah kebutuhan untuk membuat terobosan ke bidang terkait dengan bisnis dan inovasi.

Secara umum, ada 12 indikator yang dinilai dalam laporan ini. Yakni meliputi, kelembagaan, infrastruktur, makroekonomi, pendidikan dan kesehatan dasar, pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar keuangan, teknologi, ukuran pasar, bisnis, dan inovasi.

Dari 12 indikator ini, ukuran pasar Indonesia unggul dengan menduduki peringkat 10. Maklum, dengan penduduk 255,5 juta jiwa menjadikan Indonesia sebagai pasar menggiurkan. Indikator yang lunglai justru ada pada masalah yang mendasar, efisiensi pasar tenaga kerja (108) serta kesehatan dan pendidikan dasar (100).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR